Bumil Berlibur Bawa 4 Anak Sendiri? Bisa!

Itulah tanggapanku saat ditawari Suami ikut menginap beberapa hari di sebuah hotel di pusat kota. Berhubung Suami ada jadwal acara penuh selama di hotel, artinya nanti selama beberapa hari aku akan solo karir mengurus dan menemani anak-anak bermain. Melihat antusiasme anak-anak untuk ikut ke pusat kota, aku iyakan sajalah tawarannya. Dengan kondisi hamil muda 2 bulan yang masih mual-mualnya, aku optimis bisa menangani semuanya. Segala ketrampilan hidup yang membuat mereka mandiri, aturan jelas yang selama ini diterapkan untuk mengurangi kejadian temper tantrum, serta rasa sayang diantara mereka dan rasa percaya pada setiap kata-kata ibunya. Cukuplah jadi modalku untuk menemani mereka menjelajah tengah kota Bogor.

Benarkah Sang Bumil berhasil mengatasinya? Bagaimana caranya menjadi pejuang tunggal mengisi hari-hari bersama keempat anak yang semangat berliburnya sedang tinggi? Oh, tidak. Bahkan sempat ada yang jatuh sakit selama liburan? Apakah acara liburan tetap bisa berjalan lancar? Begini kisahnya.

Hari Pertama

Begitu keluar dari Stasiun Bogor, anak-anak langsung minta ke Taman Topi. Baiklah kalau begitu. Kami pun berjalan kaki menuju ke sana. Suami langsung memisahkan diri dari rombongan menuju hotel karena acara dimulai pagi hari. Tak lupa membopong koper berisi barang-barang kami supaya bisa lebih bebas bermainnya. Ya iya lah, masa kita harus keliling kota bawa koper? Hohoho…

Taman Topi adalah sebuah taman kota di mana di dalamnya terdapat banyak bangunan kios dengan atap berbentuk lucu-lucu. Ada yang berbentuk topi, buah maupun jamur. Agak ke dalam, kita akan menemukan Taman Bermain Ade Irma Suryani. Inilah tempat tujuan kami sesungguhnya.

Menuju gerbang Taman Ade Irma Suryani
Menuju gerbang Taman Ade Irma Suryani

Hari itu, Taman Ade Irma Suryani serasa milik keluarga. Karena hampir tidak ada pengunjung lain yang kami temui. Namun Sang Taman tak perlu merasa kesepian. Karena hadirnya 4 anak berentet ini sudah cukup memberi nuansa heboh dalam taman. Anak-anak pun bermain sepuasnya menjajal semua wahana yang tersedia.

Monorail yang bikin hati ibu ngeper
Monorail yang bikin hati ibu ngeper

Hujan turun rintik-rintik, anak-anak pun sudah lelah bermain. Keluarlah kami dari taman bermain mencari sesuap makanan untuk mengganjal perut. Pilihan kami jatuh kepada cafe terdekat dari taman bermain yang menyediakan fasilitas buku bacaan diiringi gemericik air di kolam ikan.

Cafe Exetra, mengisi perut dan otak secara bersamaan
Cafe Exetra, mengisi perut dan otak secara bersamaan
Segarnya alunan gemericik air dari kolam ikan
Segarnya alunan gemericik air dari kolam ikan

Setelah semua perut kenyang, gerimis pun mereda. Kami bersiap menuju destinasi berikutnya, Kebun Bogor. Tak lupa kuminta makanan yang tersisa untuk dibungkus saja. Mengingat lambung kecil anak-anak yang mudah kenyang dan mudah lapar. Siap berangkat mencegat angkot!

Sesampainya di sana, kami langsung ke masjid karena sudah masuk waktu shalat. Benar saja, Usai shalat, entah mengapa anak-anak ini merasa kelaparan lagi. Jadilah makanan yang baru dibungkus tadi tandas tak bersisa.

Di Kebun Raya Bogor, kami memilih untuk menjelajahinya dengan mobil wisata agar aku tidak terlalu kepayahan. Karena mobil baru berangkat jika yang naik minimal 5 orang, langsung saja kami berlima bisa berangkat mengelilingi Kebun Raya sambil mendengarkan penjelasan bapak pemandu tentang seluk-beluk isi dari Kebun Raya ini. Inilah enaknya punya banyak anak. Walau memilih jadwal hari berlibur yang sepi namun tetap terasa ramai, bahkan terkesan eksklusif disediakan untuk kami saja hehehe…

Berkeliling dengan mobil wisata di Kebun Raya Bogor

Menjelang akhir perjalanan, hujan pun turun deras. Ya, namanya juga Bogor Sang Kota Hujan. Kami diturunkan di toko cinderamata agar dapat berteduh di dalamnya. Tampaklah dalam pandangan anak-anak penjual bola besar yang juga berteduh. Tak perlu menunggu lama untuk mendengar permintaan mereka membeli bola. Jadilah 2 bola bergambar bunga Rafflesia itu berpindah tangan untuk dipakai berempat.

Salah satu barang yang rentan kena tendangan

Cukup lama juga menunggu hujan reda. Anak-anak mulai bosan dan menggelindingkan bolanya untuk bermain di dalam toko. Duh, untung para penjaganya ramah dan mengizinkan. “Jangan tinggi-tinggi ya, Nak. Menggelinding pelan di lantai saja,” pesanku. Sambil mulai mengalihkan perhatian mereka sekaligus mengambil hati para penjaga toko dengan membeli aneka camilan yang dijual di sana. Anak-anak pun tertarik dan mengudap hingga kembali kenyang. Sangat kenyang hingga cokelat lokal nan menggoda ini pun tak sempat kami beli karena mereka merasa perutnya sudah penuh dan buru-buru keluar melihat hujan lebat telah berganti menjadi gerimis memikat.

Cokelat Nuhun, sensasi tradisional yang belum sempat tericipi
Ceria bermain bola di tengah gerimis mengundang

Kami bermain di sana hingga sore dan Kebun Raya akan tutup. Dengan menumpang angkot, kami pun tiba di hotel dan beristirahat semalaman di dalam kamar melepas penat dan rindu bersama Ayah dan Suami tercinta. Hari ini pun ditutup dengan senyum gembira bercampur lelap dalam buaian malam.

Hari Kedua

Di hari kedua ini, kami mulai mati gaya. Kondisiku yang mudah lelah tidak memungkinkan untuk mengejar panorama indah semisal di Puncak atau Gunung Salak. Pilihan kami terbatas di tengah kota saja. Hmm… Kemana ya kita hari ini?

Maksud hati ingin wisata kuliner. Namun apa daya masih terlalu pagi. Persediaan isi perut dari menu sarapan masih tersisa. Lagipula, kebanyakan tempat makan belum buka. Setelah berselancar mencari info di internet, baiklah kita bermain di Taman Kencana dulu. Lagi-lagi kami menggunakan angkot untuk sampai di sana.

taman
Taman Kencana (Sumber: Google Street View)

Begitu turun dari angkot, anak-anak menatap nanar pada taman di hadapannya. Ramai, panas, tanah becek dan sarana bermainnya beberapa rusak.

“Kita bermain di sini, Mi?” anakku berusaha meyakinkan pilihanku yang meragukan ini.

“Mmm… Baiklah kalau kalian tidak berminat main di sini, kita cari tempat bermain yang lain ya. Bagaimana kalau ke mal saja? Letaknya cukup dekat dengan hotel.” tawarku.

“Iya deh, ke mal saja,” jawaban pasrah.

“Sekarang? Tapi sepertinya kita harus jalan jauh dulu baru bertemu angkot ke sana.” kataku.

“Hah? jalan jauh?” Wah, mengapa mereka kompak sekali meresponnya?

“Aku haus, Mi. Kita minum dulu, yuk,” inisiatif salah satunya.

“Iya, Mi. Aku mau makan,” rintih yang terkecil.

“Hah? Makan? Lagi? Sepagi ini?” ganti aku yang terpesona.

“Iya, Mi. Biar nanti kuat jalannya,” diplomasi anakku.

Baiklah. Sedikit mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan akhirnya pilihanku jatuh pada Waroeng Taman. Warungnya bersih dan nyaman. Walau cukup banyak pengunjung, namun kinerja para pegawainya tampak sigap dan teratur. Makanannya cukup nikmat. Harganya pun terjangkau. Anak-anak masing-masing memesan baso, mi pangsit kuah, mi pangsit goreng dan nasi goreng. Semua enak. Sedangkan aku memilih roti bakar keju stroberi yang lezat dan ternyata sukses meluncur tanpa mual mengisi perutku yang cukup rewel karena bawaan hamil ini.

warung
Waroeng Taman (Sumber: Google Street View)

Setelah acara makan selesai, kami pun berjalan kaki cukup jauh hingga bertemu angkot dan mengantar kami ke Bogor Trade Mall. Di sana, anak-anak bermain sepuasnya di Jurassic World hingga tengah hari.

Jurassic World (Sumber: mallbtmbogor.com)
Jurassic World (Sumber: mallbtmbogor.com)

Sebenarnya, menginjakkan kaki di mal ini membuatku sangat ingin mengabadikan pemandangan Gunung Salak dari area pujaseranya. Namun sudah jelas anak-anak lebih menikmati acara bermainnya daripada sekedar berjalan ke ujung lantai, potret-potret dan kembali lagi. Karena kami juga sudah tak bisa mampir sebentar untuk sekadar makan-minum di sana. Kenyang sangat, Ibu-Ibu!

Inginnya menikmati pemandangan begini di Bogor Trade Mall (Sumber: targetabloid.co.id)
Inginnya menikmati pemandangan begini di Bogor Trade Mall (Sumber: targetabloid.co.id)

Di tengah teriknya siang, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak. Seharian mengukur jalan, cukup melelahkan bagi anak-anak. Agenda kami di sisa hari ini menghabiskan waktu di dalam hotel saja.

Sorenya, anak-anak pun berenang di kolam renang hotel. Mereka seru sekali berlatih menyelam dan membawa mainannya ikut berenang hingga petang. Puas berenang, kami pun menuju kamar untuk berganti pakaian, bersantai sambil menunggu waktu makan malam.

Kolam renang (Sumber: sahirabutikhotel.com)

Kali ini kami diajak Suami makan malam di restoran hotel di lantai paling atas. Wah, tidak salah pilihan Suami untuk mengambilkanku menu lasagna. Memang lezat sekali. Anak-anak pun berebut mengambil lasagna juga untuk mengisi piringnya. Sepiring lebar di hadapanku penuh berisi. Aku membiarkan Bilqis, salah satu putriku, untuk makan dulu sepuasnya.

Restoran (Sumber: sahirabutikhotel.com)

Begitu habis separuh isi piring (yang besar dan tadinya terisi penuh, benar-benar penuh), tiba-tiba Bilqis mengeluh sakit sambil memegang perutnya.

“Kamu kekenyangan? Kebelet ke belakang?” tanyaku.

“Iya, kenyang.” jawabnya lemah. Roman mukanya yang sangat memelas membuatku curiga.

“Ke belakang, yuk,” ajakku.

Nggak-bi-sa-ja-lan…” terbata Bilqis berkata dan mulai tampak ingin menangis. Wah, kalau hanya kebelet mestinya tidak begini ekspresinya. Aku raba keningnya. Demam! Duh, mungkin dia kram perut karena sesorean tadi berenang. Ditambah dengan kelelahan bermain selama 2 hari ini dalam cuaca yang sering berubah drastis, dan juga waktu makan malam yang agak mundur. Belum lagi disusul dengan makan makanan yang langsung banyak. Sepertinya perutnya kaget.

Aku pun bergegas menghabiskan makananku dan mengajak Bilqis ke kamar. Ya Tuhan, dia benar-benar lunglai tidak sanggup berjalan sehingga dibopong oleh ayahnya menuju elevator hingga dibaringkan di kamar.

Seumur-umur baru kali ini aku mengalami anak sakit saat berlibur. Untung aku tak lupa dengan nasehat Bundaku sejak aku memiliki anak pertama. Selalu bawa obat-obatan setiap bepergian. Kali ini, nasehat itu terbukti manfaatnya. Kuberikan Tempra Syrup untuk Bilqis sesuai dosisnya dan kubalurkan minyak kayu putih ke badannya agar perutnya terasa lebih nyaman.

Tempra dengan bahan aktif paracetamol ini cepat bekerja langsung di pusat panas. Pilihan yang cocok untuk dibawa sebagai bekal perjalanan. Kemasannya yang mungil dan berbahan plastik, sangat praktis dan anti pecah. Sistem tutup botolnya yang unik membuat isinya aman dari tragedi tumpah karena teledor menutup kurang erat. Rasa anggur yang segar menjadikannya mudah diberikan pada anak.

20161010_0818521

Beberapa menit setelah minum dan berbaring, Bilqis tampak lebih tenang. Dia mulai bosan di ranjang terus, ingin bermain. Akhirnya kutemani dia ke arena bermain di hotel. Tak banyak yang dia lakukan di sana. Hanya meraba dan memegang mainan sambil memperhatikan adiknya yang aktif bermain. Begitu waktunya tidur, kami pun kembali ke kamar. Setelah berhasil membujuk semua anak untuk tidur, aku pun begadang semalaman. Berjaga-jaga kalau Bilqis demam lagi.

Hari Ketiga

Syukurlah, Bilqis bisa tidur pulas hingga pagi. Dia terbangun dengan wajah cerah berseri. Ah, leganya. Namun tubuh ini tak bisa berdusta. Dia meraung kelelahan menuntut istirahat. Seusai sarapan, aku pun meminta izin ke anak-anak untuk berbaring sebentar. Aku minta anak sulungku untuk menjaga adik-adiknya bermain di area bermain hotel saja. Hari ini mereka mengisi waktu bermainnya secara mandiri.

Hingga jam 11 siang, Suami menelepon. Di tengah kantuk dalam kesadaran yang ada dan tiada, Suami memintaku bersiap untuk pulang. Hah? Lama juga aku tertidur. Aku lupa kalau acara Suami selesai siang ini. Rupanya, jatuh sakitnya anak di tengah liburan benar-benar menguras tenaga dan perasaanku. Segera berkemas dan memanggil anak-anak. Saat Suami datang, kami pun menyambut dengan senyum ceria siap pulang ke rumah.

Terimakasih, Tempra. Kau membuat pengalaman berharga ini tetap berakhir bahagia bagi keluarga kami.

Advertisements

64 thoughts on “Bumil Berlibur Bawa 4 Anak Sendiri? Bisa!

    1. iya, syukurlah.
      kadang suka lupa bawa obat2an sih.
      kadang menggampangkan, ah ntar kalau butuh bisa beli di sana.
      tapi kalo inget situasi waktu itu yg udah malem dan suami masih ada jadwal padat, repot juga kalau bolak-balik mengganggu acara suami terus dengan minta beliau hunting obat ke apotek hehehe…

      Like

  1. Masya Allah, Mba, masih bisa menemani anak-anak saat hamil muda? Kalau saya saat hamil muda pastinya gak bisa ngapa-ngapain. Bogor cantik ya mba? Pengen juga kapan2 bisa mengunjungi kota cantik itu. Kali aja bisa seperti mba, sekeluarga liburan ke Bogor.

    Like

    1. Alhamdulillaahi waktu itu dipermudah. sebenarnya kehamilan kali ini agar rewel juga. dibawa diem capek dibawa gerak juga capek, jadi pilih dibawa gerak aja sambil liat senyum ketawanya anak2 bisa lebih terasa mendingan. Mungkin juga karena secara umum iklimnya Bogor sejuk ya. kita mensiasatinya dengan berusaha keluar sejak pagi dan baru pulang sore agar tidak terasa terlalu terik dan crowdednya lalu-lintas.
      yang repot kalau sudah berurusan dengan angkot. diusahakan pilih tujuan yang cuma sekali angkot, tapi kadang untuk pulangnya harus jalan jauh dulu untuk dapat angkot lagi atau harus oper angkot.
      Bogor cantik, aku jatuh cinta sama kota ini 🙂

      Like

  2. Selalu ya mak TEMPRA pertolongan pertama utk kemurungan bocil krn demam hehe
    Ohh taman topi udah cantik tho skrg ya mak.. dl wkt tinggal di bogor.. ga keurus soalnya..
    Kl ke bogor inget masa2 indah wkt kecil.. bangun jm4 pagi bwt brgkt sekolah k jkt hehe
    Capek tp dl ko seneng2 aja..
    Pas sekarang yo malahan yg ud besar gini ngerasa cape kl mesti jalan2 jauh hihi..

    Like

    1. Aku jarang sih kasi obat ke anak.
      Apalagi Bilqis ini termasuk yg kuat kalo lagi sakit.
      demam 40 dercel jg masih bisa senyum sambil main.
      tapi yg kemarin itu dia lemes bgt, kyknya karena sakit perutnya ya.

      iya taman topi dah lbh rapi sekarang.
      emang anak kecil itu ga punya syaraf capek kok mak hahaha…

      Like

  3. wuaa hebat… luar biasa mba bisa jalan2 bawa bocils semua.. mba mau belajar nanti ya ngurusin para krucilss… Memang kalau jalan2 yang penting sehat ya mba anak2nya biar ga pada rewel.. 🙂

    Like

  4. waah kereeeen bisa bawa 4 anak pas jalan-jalan lagi hamil muda lagi.
    Anak2 itu kalo lagi liburan gitu ya, semangaaaat banget sampe lupa istirahat.. kimi biasanya juga jadi demam atau diare. untungnya cepat reda kalo udah istirahat 🙂

    Like

  5. wowww kereeeen.. blm pernah bawa 4 anak jalan2.. hehee ya iyalah, krn Allah baru mengamanahkan 3 anak untuk aku jaga..
    btw,mau dong dibagi tipsnya supaya pe-de bawa byk anak pergi2 tanpa ragu tanpa keluh 🙂

    Like

  6. Itulah enaknya punya anak sulung perempuan, lbh cepat bisa diberi tanggung jawab.. jadi ketika kita butuh, dia bisa dimintain tolong utk jagain adik2nya. Yg walaupun klo itu aku pasti msh agak2 cemas dan ga bakal tenang klo ga ngeliat mereka lg apa… wkwkwkwk emak2 lebay

    Apalagi klo sampai ada yg sakit.. udah deh, aku pasti mendadak mendung… ga bs berpaling walau semenit.. yg ada saudaranya yg lain ikut saya repotin ambil ini ambil itu bikin ini bikin itu… aduhh… untung mbak bisa tenang dan bijak mengatasinya..

    Btw mbak hamil?
    Eh 4, skrg kan 5 yak?
    Hohoho

    Like

    1. hahaha… iya ini cerita jmn hamil si bungsu. selama masih bisa ngerepotin yg lain memang anak2aku repotin mak ini-itu hihihi…tapi begitu udah tinggal 1% batrenya ya mau ga mau didelegasikan dulu ke yg sulung. mestinya laki perempuan sama aja sih bisa diminta tanggung jwb. cuma emang biasanya anak laki agak kagok ngurusi semua keperluan anak di bwh 2th 🙂

      Like

  7. ini lagi hamil Abdurrahman ya mak…
    belum pernah ke taman topi, kapan-kapan ah kepingin ksana sama anak2…
    pastinya bawa bekal obat2an ya buat situasi darurat kaya mak ida ini… Suwun rekomen dan tips ya mak

    Like

  8. Seruuuu.. jalan2 brg anak2 pake kendaraan umum dan ‘go-show’ tanpa itinerary itu terkadang lebih nyaman dibanding udh direncanakan mateng2 sebelumnya. Krn namanya jg pny anak >1 pasti hrs siap dgn situasi yg tak terduga. Termasuk tiba2 demam atau sakit perut. Untung bawa tempra sbg salah 1 obat p3k ya mak 😊

    Like

    1. yup. itinerary sih ada. cuma ya fleksibel bgt. paling ngga udah siap kalo kemana naik apa di sana ada apa. tinggal ditawarin ke anak mau ato ngga sambil diskusiin alasannya. tp ya gitu deh anak 4, suka asal beda dan ganti mood hahhaha..

      Like

  9. saya pernah ke taman topi, tapi pas rame2nya. Gak tahu kalau disitu memang cocok buat anak2, soalnya kami cuma berdua saat itu. Hebat euy anak2nya, baru sekali aja sakit pas liburan. Semoga bener2 cuma sekali itu aja 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s