Imogiri, Kemurnian Tradisi #BatikIndonesia

Dilandasi oleh rasa tanggung jawab dari para seniman batik dan pemerintah di Yogyakarta dalam upaya penyelamatan, pelestarian, pengembangan, dan pemberdayaan batik, maka dirancanglah penyelenggaraan Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2016 yang akan berlangsung tanggal 12-15 Oktober ini di 3 tempat, yaitu: Jogja Expo Center (JEC), Royal Ambarrukmo dan Imogiri.

Khusus untuk Imogiri, rangkaian dari acara JIBB 2016 yang akan diadakan di sana berupa workshop. Dimulai dengan kunjungan ke Joglo Cipto Wening dan diikuti dengan mengenal lebih dekat tentang proses pembuatan batik di Museum Batik Hidup, Desa Giriloyo.

Mengapa Imogiri? Imogiri memang merupakan pusat produksi Batik Jogja sejak zaman Kerajaan Mataram. Ketika Jogja dinyatakan sebagai Kota Batik Dunia, mendapat sebuah predikat bergengsi dari Crafts World Council (WCC) di Area Regional Asia Pasifik, maka dari Imogiri-lah segala tradisi Batik Jogja berasal. Sejak sekitar abad ke 17, dimulailah interaksi antara kraton dan penduduk. Beberapa tokoh dari kerabat kraton memberikan pekerjaan kepada masyarakat sekitar khususnya ibu-ibu untuk membatik. Keahlian menggambar pola ini pun kemudian diajarkan turun-temurun.

Lalu, apakah keistimewaan Joglo Cipto Wening dan Desa Giriloyo bagi perkembangan dunia batik, hingga dicantumkan dalam agenda kunjungan JIBB 2016? Mari kita tilik bersama.

Joglo Cipto Wening

Pintu Utama Joglo Cipto Wening (Sumber: jogjaprov.go.id)
Pintu Utama Joglo Cipto Wening (Sumber: jogjaprov.go.id)

Museum Lingkungan Batik Joglo Cipto Wening diresmikan pada tahun 2007. Terletak di Dusun Paseban, desa Ketandan Tengah, dekat pasar utama Kecamatan Imogiri, BantulNuansa Jawa yang kental akan langsung terasa sejak dari pintu utamanya. Disapa dengan sepeda kayu serta jajaran pohon Nangka dan pohon Kepel, tanaman khas Jogja. Bangunannya sendiri berupa joglo yang telah berusia 200 tahun. Joglo ini pernah dianugerahi sebagai peringkat kedua terbaik untuk Rumah Tradisional kategori Joglo se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Ragam perabotan, tata letak serta pencahayaannya akan menyeret Anda pada suasana asli bumi Jawa.

(Sumber: gudeg.net)
(Sumber: gudeg.net)

Museum ini menyimpan ratusan koleksi batik kuno dalam beragam motif berusia ratusan tahun asal Bantul, Yogyakarta, dan wilayah sekitarnya. Di antara koleksi kain batik tersebut ada yang pernah dipakai Sri Paduka Paku Alam VII dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Kita dapat menjumpai batik bermotif kuno dan langka seperti motif Lereng, Sidoluhur, Sidomukti, Wahyu Tumurun, Kawung, Gajah Birowo dan lain-lain. Motif-motif tersebut sudah jarang diproduksi karena memerlukan keahlian khusus dalam pembuatannya.

Padahal, makna di balik setiap motif ini sangat indah. Misalnya:

  • Wahyu Tumurun: harapan mendapatkan berkah, rahmat, anugerah dan kemuliaan yang berlimpah dari Tuhan
  • Sidoluhur: harapan mencapai kedudukan tinggi dan dapat menjadi panutan masyarakat
  • Sidomukti: harapan selalu berkecukupan dan sejahtera
  • Sido Mulyo: harapan hidupnya akan selalu mulia
  • Sidoasih: kasih sayang yang terus-menerus
  • Lereng/Parang: konsisten memperbaiki diri dan memperjuangkan kesejahteraan
  • Kawung: pribadi yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjaga hati nurani
  • Gajah Birowo: melambangkan kepemimpinan dan kekuatan
  • Truntum: cinta yang bersemi
  • Grompol: harapan agar terkumpul rejeki, kebahagiaan, keturunan dan hidup rukun
  • Tambal: menambah segala sesuatu yang kurang
  • Ratu Ratih dan Semen Roma: kesetiaan seorang isteri
  • Mdau Bronto: asmara semanis madu
  • Semen Gendhang: harapan lekas mendapat momongan, dll.

Melihat koleksi klasik berumur ratusan tahun yang tak ternilai harganya itu, pantaslah kunjungan ke museum ini masuk ke dalam rangkaian aktivitas JIBB 2016.

Sebagian koleksi Joglo Cipto Wening (gudeg.net)

Museum ini juga menyediakan ruang pamer bagi hasil karya pengrajin batik di Imogiri khususnya dan Bantul umumnya. Pengunjung juga dapat menyaksikan proses pembuatan batik tulis serta mencoba ikut belajar membatik di sana.

Museum Hidup Batik Giriloyo

Batik Tulis Giriloyo (Sumber: jogja-tour.com)
Batik Tulis Giriloyo (Sumber: jogja-tour.com)

Giriloyo adalah sebuah dusun di Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, yang letaknya sekitar 17 km di sebelah selatan Yogyakarta. Terdapat sekitar 700 orang anggota komunitas pengrajin Batik Giriloyo Batik yang terbagi dalam 15 kelompok. Desa ini ditetapkan sebagai Museum Hidup Batik yang ramah lingkungan.

Istilah Museum Hidup Batik yang ramah lingkungan ini benar-benar menarik perhatian saya. Rupanya Giriloyo disebut museum hidup karena dusun ini dengan kesunyiannya dijaga sebagai kawasan wisata batik lengkap dengan segala kehidupan budaya, peralatan, bangunan dan kesatuan lingkungan alamnya.

Giriloyo hanya memproduksi batik tulis, sebagai upaya untuk tetap mempertahankan tradisi leluhurnya. Pewarna yang digunakan pun hanya pewarna alami dari tanaman yang dibudidayakan di wilayah tersebut terutama di areal agrowisatanya. Inilah mengapa Giriloyo disebut sebagai museum hidup yang ramah lingkungan.

Bahan Pewarna Alami Batik (Sumber: di-ta.com)
Bahan Pewarna Alami Batik (Sumber: di-ta.com)

Bahan pewarna alami yang digunakan, misalnya: warna merah didapat dari dari kulit kayu Tingi (Ceriops candolleana) dan Mahoni, warna kuning dari kayu Nangka dan buah Joho (Terminalia bellirica), warna pink dari bunga Putri Malu (Mimosa/Shameplant), warna coklat dari pisang dan biru dari indigo buaya (Indigofera tinctoria). Limbah pewarna alami yang dihasilkan dalam proses pembatikan ini tidak mencemari lingkungan, justru dapat menyuburkan tanaman terutama padi. Hal ini menjadikan aktivitas membatik di dusun ini selaras dengan kegiatan bercocok tanam sebagai ragam mata pencaharian penduduk dusun.

Salah satu jenis batik asli Imogiri yang dilestarikan adalah Batik Kelengan. Batik Kelengan merupakan teknik pembuatan batik tertua. Proses pewarnaannya memang sangat sederhana. Bagian motif ditutup malam panas dengan menggunakan canting, kemudian dicelupkan ke pewarna batik. Karena hanya melalui sekali proses pencelupan, maka Batik Kelengan hanya memiliki 2 warna, yaitu warna dasar kain dan warna motif.
Indigofera tinctoria, penghasil warna nila alami (Sumber: tropical.theferns.info)

Kekhasan Batik Kelengan adalah pada dominasi dari warna yang digunakan, yaitu warna nila dan putih. Batik Jogjakarta dengan nila alam terakhir diproduksi sekitar tahun 1960. Karenanya, kelangkaan batik warna nila alami ini memicu usaha untuk kembali memproduksi dan menjaga eksistensinya di tengah pasaran batik.

Rupanya semangat ini tidak sia-sia. Banyak mata penduduk dunia tertuju pada batik berwarna alami nila/indigo ini. Mereka penasaran dari mana warna alami indigo berasal. Hingga batik warna alam indigo ini pun mampu menduduki jajaran 10 besar produk ekspor Indonesia.

Aneka Motif Batik Giriloyo (Sumber: metroterkini.com)
Aneka Motif Batik Giriloyo (Sumber: metroterkini.com)

Inovasi tentu terus dikembangkan dalam proses produksi batik ini. Baik dari sisi desain, teknik pewarnaan, aplikasi bahan, manajemen maupun pemasaran. Tentunya dengan tetap mempertahankan keaslian tradisi yang menjadi nafas kehidupan Batik Giriloyo.

Bagaimana? Anda tertarik untuk meluangkan waktu menjelajahi dunia Batik Giriloyo lengkap dengan segala pernik tradisinya? Jangan lupa untuk menikmatinya bersama sajian nasi pecel kembang turi dengan rempeyek berdiameter besar dan wedang uwuhnya yang legendaris.

Nasi Pecel Kembang Turi dan Wedang Uwuh (Sumber: jogja.tribunnews.com)
Nasi Pecel Kembang Turi dan Wedang Uwuh (Sumber: jogja.tribunnews.com)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s