Cintailah Dia Semata Karena Dia Ibumu, Itu Saja

block_2

Sejak kecil, saya sering baper jika ada puisi atau quote tentang ibu. Biasanya, isinya tentang berbagai kebaikan ibu. Yang sabar lah, lembut lah, penuh kasih lah, bijak lah, tidak pernah mengeluh lah, rajin menyiapkan berbagai keperluan orang serumah lah, masakannya enak lah, pandai menjahit lah… Bukan, biasanya perasaan saya bukan baper karena mengiyakan semua kebaikan itu. Tapi justru karena kesal. Lho? Kenapa?

Bunda memang pandai memasak dan membuat kue. Saat kecil, itu adalah bagian yang paling kusuka dari Bunda. Jahitannya pun sangat rapi dan bagus. Beliau senang bereksperimen dan mendandani putri-putrinya dengan hasil ketrampilan tangannya. Ya, tentu saja aku senang sekali karena itu. Tapi selebihnya, sepertinya yang kuingat hanya omelan dan omelan. Jika tidak, mungkin Beliau sedang murung dengan wajah kelelahan. Huff, mana bisa bahagia hati ini kalau sudah begitu?

Dan kadang, aku mulai mempertanyakan dalam hati, mengapa Bunda tidak bisa semanis sosok ibu dalam cerita, tayangan di TV atau seperti persepsi masyarakat pada umumnya? Ah, ya. Teman-temanku pun banyak mengeluhkan hal yang sama, bahwa ibunya rata-rata cerewet.

Eh, tapi Bunda juga manis tutur katanya pada teman-temanku. Banyak diantara mereka yang mengidolakan Bundaku. Hmm… Mungkin memang sebenarnya Bunda adalah ibu yang manis, ya? Hanya karena berbagai kesibukannya sehari-hari yang membuatnya tidak bisa selalu tersenyum. Ah, baiklah. Tapi tetap saja aku ingin Bunda bisa lebih sering tersenyum dan tidak banyak mengomel.

Dan setelah aku menikah kemudian memiliki anak-anak yang makin tumbuh besar dengan berbagai tingkah lakunya, mulailah aku tidak berdaya untuk tidak seperti Bunda. Ya, aku jadi cerewet dan malas tersenyum. Terlalu banyak pikiran dan harapan yang tersumbat. Dan aku mulai menyadari, bahwa ternyata omelan itu tidak sepenuhnya menjengkelkan.

Some mothers are kissing mothers and some are scolding mothers, but it is love just the same, and most mothers kiss and scold together.

~ Pearl S. Buck

Bunda bukanlah ibu yang suka mencium anaknya. Beliau lebih suka melayani dan memenuhi kebutuhan materi anak-anaknya daripada sekadar sebuah kontak fisik. Dan selebihnya, iya… omelan. Hehehe…

Semakin lama aku berpikir, bahwa sebenarnya tidak ada satu cara baku yang berlaku bagi semua orang dalam mencintai. Apakah itu sebuah kelembutan maupun sebuah omelan, sama-sama sebuah tanda cinta. Kadang memang ada saat di mana seorang ibu justru harus berusaha untuk tetap mengomel walaupun dia tidak suka. Karena menganggap cara lain tidak efektif untuk mendidik anaknya.

Bahkan banyak pula anak yang rindu omelan ibunya. Lucu ya? Kok malah ingin diomeli? Ya, karena mereka mulai menyadari bahwa itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang ibunya. Walaupun itu tidak berlaku bagiku. Kalau boleh memilih, aku inginnya tidak lagi mendengar omelan maupun mengomel. Hehehe… Namun jika itu adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan Bunda untuk berkomunikasi denganku, aku terima.

Mengapa ya, para ibu suka mengomel? Menurutku, itu karena kami adalah makhluk yang didominasi oleh perasaan dibandingkan akal. Karena yang berperan perasaan, maka mengomel adalah salah satu saluran efektif untuk mengungkapkannya. Karena perasaan cinta seorang ibu itu begitu besar kepada anaknya. Sehingga sulit dipagari dengan logika. Akhirnya, meluncurlah apa adanya. Salah satunya dalam bentuk omelan.

Kini aku paham mengapa Bunda bukanlah seorang ibu yang akan segera datang memeluk anaknya yang jatuh dan berusaha menenangkannya. Biasanya Beliau akan reflek berteriak kaget kemudian terdiam. Selanjutnya berusaha membantuku sambil diam atau berucap lirih dengan kata-kata yang pendek saja. Jika kalimatnya agak panjang, maka Beliau akan mengucapkannya sambil diawali, diiringi dan diakhiri dengan helaan nafas dalam.

Ya, aku paham mengapa. Sepertinya alasan yang sama dengan mengapa Beliau jarang sekali menelepon anak cucunya yang sedang merantau ini. Biasanya Beliau meminta Kakakku yang menelepon dan mengobrol. Lalu nanti tinggal mendengarkan cerita dari Kakak tentang isi obrolan kami. Mengapa?

Bukan karena tidak peduli. Justru karena cintanya terlalu besar kepada anaknya. Dan Beliau tahu, bahwa sekejap saja Beliau membiarkan cinta itu mengalir, maka derasnya seperti bah. Beliau akan menangisi lukaku akibat jatuh, sebagaimana Beliau akan berderai-derai di ujung sana karena menahan rindu yang sangat.

Itu sebabnya, aku tak mau mendiktekan lagi seorang ibu harusnya seperti apa. Toh, secara alami, mereka tahu dan otomatis menjalankan perannya dengan baik. Kadang memang berbeda caranya satu sama lain. Dan sulit dipahami mengapa memilih cara itu. Karena itu semata adalah dorongan perasaannya.

Dan tak perlu menyalahkan kondisi ibu yang didominasi oleh perasaan. Karena justru itulah kekuatannya dalam mencintai. Jika seorang ibu lebih mengedepankan logika dalam mencintai anaknya, niscaya akan banyak ibu yang menolak anaknya. Karena siapa anak di dunia ini yang telah sempurna memenuhi berbagai ajaran dan harapan ibunya?

Aku pun bukanlah ibu yang sempurna dan tak sebaik sosok ibu dalam quote-quote yang banyak beredar di Hari Ibu. Seringnya, aku merasa malah sebenarnya yang hebat itu adalah anak-anakku, bukan aku. Anak-anak adalah sosok yang bersih, polos, penuh syukur, pemaaf, optimis serta selalu memiliki banyak energi untuk mencintai dan berusaha memperbaiki segala sesuatu. Senyum dan tawanya sudah cukup untuk mencairkan berbagai kemelut dunia. Ya, ibu yang hebat sesungguhnya karena selalu didampingi oleh anaknya, bukan lantaran dirinya sendiri.

block_1

Hanya menjadi ibu sudahlah merupakan peran yang sangat berat. Maka, cintailah ibumu. Baik jika dia seorang ibu yang sangat menginginkan memiliki anak, maupun yang mendapatkannya secara tidak terencana. Mengizinkan kita tinggal selama kurang lebih 9 bulan dalam tubuhnya adalah sebuah kepayahan tersendiri.

Bahkan bagi yang hamilnya “ngebo” sekali pun, ada saja rasa berat yang mengiringinya. Entah karena ingin meraih ini-itu dan merasa fisiknya cukup kuat, atau sebaliknya. Bisa dianggap tidak peduli pada janinnya karena terlalu aktif.

Bahkan bagi yang sempat ingin menggugurkan kandungannya. Tidak mudah menjadi ibu seperti itu. Alasan yang membuat dia ingin menggugurkan kandungan, pastilah sebuah tekanan yang terasa berat olehnya. Jika dia sempat mencoba melakukannya, maka kesakitan fisik yang tidak terkira telah dialami di bagian dalam perutnya. Dan ternyata tidak berhasil? Ternyata anak yang tidak diinginkan itu tetap bisa lahir? Apa tidak semakin berat itu beban psikisnya? Anaknya terlahir sehat atau pun cacat, tetap saja bebannya terasa bertambah. Maka cintailah dia.

Entah melahirkan dengan persalinan alami maupun melalui bedah Caesar, cintailah dia. Karena masing-masing ada perjuangan dan kesakitan yang telah dideritanya.

Entah menyusuimu ataukah tidak, cintailah dia. Karena menyusui itu berat. Tidak menyusui pun terasa berat bagi tubuhnya. Karena secara alami, ASI akan tetap diproduksi. Yang jika tidak disalurkan, akan menyumbat dan membuat radang, demam, dengan rasa perih dan pegal yang tak tertahan.

Entah di rumah saja atau bekerja di luar rumah, tetap cintailah dia. Karena keduanya tetap terasa berat bagi seorang ibu. Seharian mengurusi rumah dan anak yang tak ada hentinya itu sangat melelahkan. Berada di luar rumah dengan beban pekerjaan menumpuk sambil pikiran terus melayang pada anak di rumah itu juga bukan hal yang mudah untuk dijalani sehari-hari.

Cintailah ibumu. Bukan karena dia telah menyusuimu, atau mendidikmu, atau mengurusimu, atau memanjakanmu dengan aneka mainan, makanan dan pakaian. Karena walaupun tidak begitu, dia tetap berhak untuk dicintai. Semata karena dia ibumu. Yang rahimnya pernah kau pinjam sebagai tempat bernaung. Cintailah dia semata karena dia ibumu, Itu saja.

Toh, bukankah cinta ibu pada anaknya juga merupakan sebuah cinta paling buta di dunia? Tanpa syarat. Tanpa alasan.

Advertisements

4 thoughts on “Cintailah Dia Semata Karena Dia Ibumu, Itu Saja

  1. Duh, mata kok berkaca-kaca gini pas bacanya. :’)

    Tulisannya bagus banget. Apalagi dari dua sudut pandang gitu. Menceritakan ibunya saat menjadi anak. Kemudian bagaimana pengalaman dan perasaannya menjadi seorang ibu. Keren!

    Oiya, makasih udah ikut meramaikan GA ultah blog saya. 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s