Adik Baru, Cerita Baru

Aih, sampai lupa saya bercerita tentang kemenangan pertamaku tahun ini. Ituu… Nama saya nangkring juga sebagai salah satu pemenang hiburan di urutan terakhir. Alhamdulillah πŸ™‚

Artikel yang aku ikutsertakan dalam lomba ini berisi tentang menyambut adik baru dalam keluarga. Pengumumannya sih sudah lewat seminggu lalu, tepatnya di awal Februari. Pas hari lahirnya Suami, dan adik bayi baru yang sedang dinanti dalam artikel tersebut sudah 3 hari dirawat di RS. Hiks 😦

Iya, sejak umur seminggu, aku menyadari bayiku tidak mendapat asupan yang cukup karena sangat malas minum ASI. Tanda-tanda dehidrasi pun sudah tampak. Sehingga aku bawa konsultasi dan akhirnya disarankan untuk opname guna mengatasi dehidrasinya.

Seumur-umur sudah punya 5 anak dan ini yang ke-6. Namun baru kali ini ada yang dirawat inap. Di usia sangat dini lagi.

Mana dirawatnya harus di ruang perinatologi yang tidak mengizinkan orangtua ikut menginap di dalamnya. Pas aku memerah ASI sebagai bekalnya, cuma dapat seperti yang di foto itu. Sedikit. Huhuhu…

Esoknya, hasil tes bilirubinnya menunjukkan kadar yang tinggi mendekati batas berbahaya. Sehingga bayiku harus difototerapi selama beberapa hari. Sedih dan lelah mondar-mandir ke dan dari RS sekadar untuk menyetor ASI yang hanya sanggup terkumpul beberapa mili liter. Belum lagi kegundahan soal biaya. Huff…

Cukup? Belum. Masih ada 5 anak yang mulai protes meminta perhatian kami juga. Hingga puncaknya mereka minta kembali diagendakan acara jalan-jalan sekeluarga.

Mungkin bagi orang lain akan tampak tega bersenang-senang saat adik bayinya berjuang menyambung nyawa di tengah panasnya sinar ultraviolet, tusukan jarum infus, kosongnya dari pelukan ibu dan entah apa lagi penderitaan yang sebenarnya sedang dia rasakan saat itu.

Namun sesuai komitmen kami, akan selalu ada cinta bagi setiap anak walaupun jumlah anggota keluarga bertambah. Setiap anak membutuhkan waktu dan perhatian kami. Tak adil rasanya jika mereka diminta untuk terus-menerus larut dalam suasana berkabung dan mengabaikan sebagian hak serta kebutuhan mereka.

Toh, sepertinya memang inilah saat yang tepat bagi mereka untuk berekreasi. Karena jika adik bayi ada dalam gendonganku, bisa-bisa kami lebih kesulitan lagi agar bisa keluar bersama-sama karena repot menyesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan Sang Bayi.

Maka kami pun setuju untuk mengunjungi salah satu lokasi wisata yang menarik minat putri-putri kami, yaitu Taman Bunga Celosia di Bandungan. Ya, kami pilih lokasi yang relatif dekat saja namun cukup memberi pengalaman baru bagi anak-anak.

Dan esoknya, aku mendapat banyak ucapan selamat dari rekan-rekan sesama bloger karena tercantum dalam daftar pemenang lomba blog di atas. Byur! Rasanya seperti panas setahun yang diguyur hujan sehari. Segar! Terimakasih untuk Blogger Perempuan atas apresiasinya.

Lalu, apa kabar bayiku selanjutnya? Hmm… Setelah dinyatakan boleh pulang dari RS tersebut, ternyata masalah masih bersambung, sih. Saat aku menyadari kaki bayiku bengkak.

Setelah konsultasi ke 3 (!) dokter spesialis anak, dugaan-dugaannya cukup mengawatirkan. Setibanya kami di RS keempat, kami ragu untuk kembali berkonsultasi atau meminta tindakan di sana. Sampai kakak Suami yang dokter spesialis penyakit dalam di kota lain akhirnya meminta agar kami membawa Sang Bayi untuk diperiksa dan dirawat di RS tempat beliau bekerja saja.

Melajulah kami tengah malam itu juga dengan kereta api menembus batas provinsi. Setelah berdiskusi dengan dokter spesialis anak di sana, dugaannya adalah bengkaknya bayiku ini karena kekurangan albumin. Akibat fungsi hati bayi baru yang memang pada umumnya belum sempurna, ditambah dengan dehidrasi cukup berat sehingga memicu sel-sel dalam tubuhnya pecah dan plasmanya keluar membanjiri seluruh tubuh.

Setelah melalui terapi albumin dan pengeluaran cairan selama 2 hari, bayiku pun kembali ke ukuran semula seperti saat baru lahir. Ya, ternyata bengkaknya memang tidak hanya di kaki melainkan seluruh tubuh. Dan itu baru terlihat setelah keluarnya semua cairan yang tidak perlu.

Beres? Alhamdulillah, bayiku semakin bagus responnya saat minum ASI walau masih belum kuat daya isapnya. Sesekali tampak bibirnya menyunggingkan senyum saat minum atau pun terlelap. Duh, siapa yang tidak bahagia melihatnya.

Tinggal menunggu hasil tes darah terakhir. Kalau semuanya normal, maka kami sudah bisa pulang. Dan hasilnya? Bilirubinnya meningkat lagi. Eeaa…

Jadilah kami harus menginap lagi karena bayiku harus kembali difototerapi. Kali ini ia tidak bisa sekamar dengan kami. Yap, dia harus berada di ruang perinatologi.

Aku harus mondar-mandir ke ruang itu untuk menyusui. Yang sayangnya, aktivitas ini tidak bisa berjalan lancar. Sudahlah dia susah dibangunkan, daya isapnya lemah, posisi menyusuinya pun sulit sekali karena bayi tidak boleh dikeluarkan dari kotak bersinar biru itu.

Jadi aku hanya boleh menyusuinya sambil berdiri membungkuk di sisi kotak. Dan itu berat, Kawan! Apa lagi buat seorang ibu yang masih dalam masa nifas dan sedang dalam ancaman hipertensi.

Maka episode mama perah ASI pun kembali berlangsung. Sedihnya, hasil perahku jauh lebih sedikit daripada jika diisap langsung oleh bayi. Saat diberikan ke bayi pun, banyak yang tumpah karena bayi belum trampil minum ASI menggunakan alat.

Mungkin melihat fakta ini, dan tentunya mempertimbangkan kondisi klinis bayi yang masih aman, dokter anak pun mengizinkan kami untuk merawatnya di rumah saja. Agar bisa mendapatkan asupan ASI yang optimal.

Bahagia tentunya akhirnya bisa pulang. Walau masih dengan beberapa kekawatiran yang menggelayut terkait dengan apakah bayi ini benar-benar cukup dengan perawatan di rumah saja. Juga dengan berbagai dugaan dari para dokter sebelumnya yang sebenarnya belum bisa dihapuskan begitu saja. Butuh observasi dan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan bahwa bayiku benar-benar baik-baik saja.

Yang pasti, sejak pagi ini, aku mendapati frekuensi pipis bayiku sudah banyak. Pupnya pun sudah kuning cerah. Maka aku bisa meyakini bahwa dia benar-benar telah teratasi dari dehidrasi dan mendapatkan asupan ASI yang cukup. Jadilah aku bisa merasa lebih lega dan punya waktu untuk menulis artikel ini.

Tentang dugaan-dugaan lain dari dokter, aku hanya berharap agar waktu bisa menghapusnya. Seiring dengan tercukupinya kebutuhan ASI, semoga tubuhnya pun akan semakin pulih dan bisa menunjukkan tanda-tanda tumbuh kembang yang normal. Mohon doa dari semuanya, ya!

15 thoughts on “Adik Baru, Cerita Baru

  1. Wah perjuangannya bikin saya ikut sedih dan deg-degan juga. Untung bundanya juga kuat ya. Semoga dede bayinya semakin lekas membaik ya, Bun. Oh iya bun maaf mau tanya. Apa yang membuat bayinya kurang mau minum ASI smp bayi mengalami dehidrasi? Agar bisa jadi pelajaran juga buat saya nantinya agar saya bisa segera peka seperti bunda. Mkasih bun

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s