Aha! Perjalanan Pindah Rumah, Momen Kembali Mengeja Cinta

Jika hidup adalah perjalanan, maka perpindahan dari satu kondisi ke kondisi yang lain adalah sebuah keniscayaan.

Pindah rumah, adalah sebuah kegiatan yang begitu akrab dalam perjalanan keluarga kami. Baik ketika kami masih mengontrak, sehingga ada 1001 alasan yang akhirnya mengharuskan kami berpindah dari rumah yang kami pinjam, pun ketika kami sudah memiliki rumah sendiri. Berbagai kebutuhan atas peningkatan kualitas diri memicu kami untuk pindah, dari satu kota ke kota lain.

Pindah kota, tentu saja memberi banyak pengalaman berharga. Tempat baru, orang-orang baru, budaya baru, kebiasaan baru, ritma hidup baru dan berbagai kejutan yang membuat kami belajar setiap harinya.

Jika hidup adalah perjalanan, inilah bentuk perjalanan pilihan kami. Slow traveling, istilahnya. Perjalanan untuk menikmati sebuah tempat baru bukan hanya dalam bilangan sekian hari sekian malam, namun bahkan hingga tahunan.

Hampir 2,5 tahun sudah kami menetap di Kota Hujan. Dan tibalah waktunya kami memutuskan untuk pindah lagi.  Setelah beberapa kerabat dan sahabat menawarkan kotanya masing-masing sebagai kota tujuan kami berikutnya, akhirnya kami memilih bergerak ke Timur menyusuri Pulau Jawa.

Hal ini tak lepas dari kebaikan hati seorang teman yang baru kami kenal dan menawari kami untuk menempati salah satu rumahnya yang kosong. Tidak, bukan berarti hanya Beliau yang melakukannya pada kami. Sebenarnya, jauh sebelum itu juga ada saudara yang menawarkan hal serupa sekaligus mengurus toko di kotanya. Ada yang mempercayakan sebuah ruko mewah di kota tempat kami tinggal, ada pula yang mengajak bekerjasama menjalankan bisnis di sebuah kota besar. Atau yang sekadar menawarkan rumahnya untuk disewa dan beberapa lagi membantu kami mencari kontrakan baru di dekat rumahnya.

Ya, begitu banyak tawaran penuh kasih yang datang pada kami dari berbagai penjuru. Namun hanya satu yang dapat kami terima. Sebuah lokasi yang kami anggap kondusif untuk memenuhi salah satu kebutuhan kami.

Status Suami tentang kota pilihannya

Saat Suami survei rumah di lokasi, Beliau langsung mendapat info truk yang bersedia membantu mengangkut barang-barang kami dengan biaya murah, karena sekalian perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang. Truk balen, istilahnya.

Tentu saja ini sebuah keberuntungan besar yang tidak boleh disia-siakan. Maka jadwal pindah kami pun menyesuaikan jadwal truk tersebut kembali ke Jawa Tengah. Yang itu artinya… 5 hari lagi! Hiyaa…! Dan tentu saja kami harus tiba di sana terlebih dulu daripada truk agar kami bisa menerima barang ketika truk sampai di tempat tinggal kami.

Rencananya, kami ke sana menggunakan kereta api. Pertimbangannya, karena harga tiket yang lebih murah daripada tiket pesawat dan lebih nyaman dibandingkan naik bus.

Perkiraan kami, truk akan tiba waktu sore. Kami pun mulai berburu tiket kereta api malam untuk tanggal sehari sebelumnya, sehingga kami bisa tiba pada hari yang sama di pagi hari. Waktu yang cukup untuk menanti kedatangan truk. Ternyata, tiket kereta api sudah ludes pada tanggal itu. Ah, iya. Ini kan menjelang Hari Raya Idul Adha. Pantas saja.

Kami pun mencari tiket dengan tanggal mundur sehari lagi. Penuh! Hua…! Deg-degan juga rasanya memikirkan waktu pindahan rumah ini. Jadi ngga, ya? Kami hanya bisa berharap semoga ada banyak tiket dalam satu gerbong yang akhirnya dibatalkan. Kami bertujuh, Bro!

Untunglah, beberapa jam kemudian kami mendapatkannya! Kereta malam pada 2 hari sebelum kedatangan truk barang kami. Artinya, waktu persiapan kami semakin mepet saja. Ya sudahlah. Diniati saja. Hosah!

Tak berhenti di situ, ketegangan menjelang pindah rumah semakin meningkat saja. Tanpa dinyana, dalam waktu yang sedemikian singkat untuk bersiap dan mengemas seluruh barang di rumah, Suami justru mendapatkan panggilan untuk demo mempresentasikan produknya ke beberapa lokasi perusahaan. Praktis, begitu kembali dari survei rumah di Semarang, Beliau tidak dapat sepanjang hari membantu membereskan barang.

Jadi, siapa yang mengemasi segala printilan di seluruh sudut rumah ini? Ya, siapa lagi. Tentunya kami para penghuni rumah yang masih ada, yaitu seorang ibu hamil dan 5 anak. Hosh… Hosh… Hosh… Capek? Jelas! Selain itu juga mau tidak mau harus berani menurunkan standar kerapian dan ketelitian dalam mengemas barang. Anak-anak diajari sebisanya saja untuk mengisi boks hingga padat dan menyegelnya dengan aman.

Akhirnya, Suami pun tiba di rumah 5 jam menjelang keberangkatan kereta. Setelah mendapat sambutan yang positif untuk presentasinya, berlanjut dengan kesepakatan bekerja sama dalam sebuah proyek dan ditutup dengan undangan makan siang bersama kolega. Ayayaya… Belum lagi sapaan macet di sepanjang perjalanan.

Mengeluh? Duh, sampai tidak sempat. Lagipula, untuk apa? Toh, kami sudah menerima begitu banyak keberuntungan. Segala hal yang membuat hectic ini hanyalah konsekuensi kecil dari keberuntungan-keberuntungan itu yang meminta kami untuk sedikit lebih berusaha saja.

Begitu Suami sampai, rumah sudah beres? Tentu tidak! Masih ada beberapa sudut yang belum terjamah. Untung sepanjang perjalanan tadi Suami sudah sigap menghubungi temannya minta tolong untuk melanjutkan pengemasan barang yang masih tersisa, sekaligus menunggu di rumah tersebut hingga truk datang dan mengangkut semua barang. Fiuh, lega!

Tiba-tiba… Hujan! Ya, inilah kebiasaan kota ini di sore hari, sesuai julukannya. Setidaknya, 6 hari dalam seminggu langit membasahi bumi dengan curahan air. Bedanya, jika musim kemarau, hujan itu tidak terlalu lebat dan biasanya hanya sebentar.

Baiklah, ini hujan yang lebat. “Apakah kita batal berangkat, Mi?” tanya putriku. Tidak mungkin! Tentu saja tidak bisa dibatalkan. Tiket telah dibayar, taksi online pun sedang menuju ke rumah untuk mengantar kami ke stasiun. Waktu sedemikian mendesak untuk mengejar kereta.

Aku hanya meminta anak-anak untuk segera berpakaian sambil berdoa agar hujan ini hanya sebentar. Syukurlah, hujan pun mereda hingga menjadi rintik-rintik saja. Tas bawaan dan seisinya sudah siap sejak tadi, tinggal angkut saja. Taksi pun telah hadir di depan rumah.

Baru saja kami bersiap akan menerjang gerimis menuju mobil, Suami meminta sekali lagi mengecek apakah Kartu Keluarga sudah dibawa. Ah, bongkar tas lagi. Ya sudahlah, aku bukakan tasnya dan bergegas mengatur anak-anak agar segera masuk mobil menempati kursinya masing-masing.

Dan drama harian pun dimulai. Anak ketiga dan keempat kembali berebut duduk bersama ayahnya di kursi depan. Sedemikian hebohnya hingga… Setelah separuh perjalanan ke stasiun, kami baru menyadari bahwa 3 tas bawaan kami tertinggal di rumah! Ya, termasuk tas yang berisi Kartu Keluarga yang kami perlukan untuk ditunjukkan ke petugas saat naik kereta! Sedangkan waktu sudah tidak memungkinkan untuk kembali. Duh

Suami benar-benar emosi saat itu. Bagaimana sampai aku dan anak-anak yang lebih besar tidak terpikir untuk membantu memasukkan tas ke mobil selagi Beliau sedang dirusuhi oleh 2 anak yang berseteru.

Lelah… lelah rasanya. Sudah tidak ada lagi kata yang bisa terucap. aku tidak bisa menyalahkan Suami yang sedemikian kesal dan panik. Namun kami juga sudah berupaya sekeras yang kami bisa. Tidak ada yang ingin menggagalkan perjalanan ini. Aku dan setiap anak begitu antusias mempersiapkan segala sesuatunya. Dan aku hanya bisa menelan semua kata-kata itu.

Ya inilah puncaknya ketegangan itu. Dan aku benar-benar hanya bisa berharap agar ini benar-benar puncaknya. Semoga setelah ini, tak ada lagi kekisruhan yang lebih besar. Semoga berikutnya, semuanya berjalan antiklimaks menuju penyelesaian yang entah bagaimana ceritanya.

Maka, Suami pun berinisiatif untuk menelepon teman yang sedang membereskan barang-barang kami di rumah. Meminta tolong sekali lagi untuk mengantarkan 3 tas kami yang tertinggal. “Di sini hujan deras,” sahut temannya. Ya, kami tahu kendaraan yang ada hanya sepeda motor tanpa jas hujan. Dan Suami memohon dengan sangat agar temannya bersedia mengantarkan tas-tas itu sesegera mungkin karena sedang benar-benar diburu waktu.

Dan rupanya telepon genggam temannya agak rusak. Sering mati jika ditelepon. Komunikasi pun berjalan via SMS. Itu pun tidak lancar. Kami berjanji untuk bertemu di pom bensin. Sambil menunggu, kami shalat jamak dan makan malam.

Kami memasuki area pujasera dengan tempat lesehan di tengahnya dan meja kursi di sekitarnya, dikelilingi aneka gerai makanan. Bahkan tempat makan seasyik ini pun tidak mampu menghibur diri dari rasa kalut. Suami meminta kami segera memilih menu, namun akhirnya semua dimentahkan karena dianggap terlalu lama menyiapkannya. Kami diminta memilih menu yang sudah siap saji saja. Beliau menunjuk gerai masakan Padang. Hmm, baiklah.

Gemasnya, ternyata di situ anak-anak justru memesan telur dadar plus kecap. Hahaha… Asli hati ini geli. Walau bibir ini tak sanggup menyunggingkan senyum. Uda pemilik gerai pun dengan ramahnya bersedia menggorengkan telur. Kecapnya? Meski sempat kebingungan, Beliau berjanji akan mengantarkannya nanti ke meja kami. Ternyata, kecapnya beli dulu, Bro! Hahaha…

Usai makan, belum juga ada kabar dari Sang Teman. Setelah komunikasi yang bolak-balik macet, akhirnya sampai juga 3 tas itu di tangan. Hopla! Sopir langsung tancap gas berusaha secepat mungkin mencapai stasiun. Tiba tepat waktu sepertinya sudah hampir mustahil bagi kami. Harapan kami hanya kereta terlambat berangkat. Ups! Doanya jelek, ya?

Sedang terburu-buru begitu, eh… sampai di sebuah pertigaan, sebuah sepeda motor besar dengan pengendara bertuliskan “Polisi Militer” di punggungnya langsung menghadang dan memunggungi kami. Rupanya ada rombongan pejabat militer yang akan lewat. Hua…! Kok ya pas di depan kami berhentinya? Kok ya tidak membiarkan kami lewat dulu baru menyetop jalan?

Begitu motor tersebut bergerak maju, sopir pun mengikutinya. Ternyata kami searah. Lumayan lah, dibukakan jalan. Mobil kami pun melaju dan meliuk dengan terampil. Duh, kalau kondisi normal sih, pasti saya sudah protes. Tapi saat itu sepertinya memang tidak ada pilihan lain.

Saat gedung stasiun sudah nampak di kejauhan, sepertinya ketegangan Suami pun sudah mereda. Seisi mobil cuma bisa berharap-harap cemas melihat jam sudah menunjukkan waktu keberangkatan kereta. Akankah kereta menunggu?

Sirine berbunyi dan palang kereta di depan kami turun. “Apakah itu kereta kita?” tanya Suami.

“Semoga itu komuter yang lewat,” kata Pak Sopir. Ya, ya… Semoga itu cuma komuter, bukan kereta kami. Benar saja! Ternyata sebuah komuter melintas di depan kami menuju stasiun. Syukurlah! Semoga keretanya benar-benar menunggu.

Tapi eh tapi, palang kereta tidak juga terbuka. Tak lama kemudian, dari arah stasiun, meluncur sebuah kereta di atas rel di sebelah sana. Kami kesulitan untuk mengetahui kereta apakah yang lewat karena faktor jarak. “Apakah itu kereta kita?” ulang Suami. Setelah beberapa saat memasang mata tajam-tajam, akhirnya sempat terbaca juga tulisan di salah satu gerbongnya. Ya, itu kereta kami. Huhuhu…

Gontai mobil memasuki stasiun. Kami melangkah cepat-cepat menuju bagian pemberangkatan untuk memastikan yang sudah pasti, kereta kami telah pergi. Tiket pun hangus. “Tahu begini mending kemarin mengejar tiket pesawat murah saja,” gerutu Suami.

Tapi Beliau segera menyadari, tak baik berandai-andai. Kalau mencari tiket pesawat promo sekarang, sepertinya terlalu menguras tenaga untuk meluncur ke bandara. Ya sudahlah coba ke loket stasiun saja. Siapa tahu masih ada tiket murah untuk kereta api malam ini.

Di depan pintu loket, kami ditawari sebuah mobil travel untuk memakai jasanya. Rupanya Suami tertarik dengan harga yang ditawarkan. Sehingga Beliau memutuskan untuk naik travel saja. Mobil langsung penuh oleh keluarga kami sehingga bisa langsung berangkat.

Saat mobil melaju, Suami bilang bahwa sesungguhnya uang kami tidak benar-benar hilang karena tiket hangus. Ternyata, sebelumnya kakak Suami memberikan uang saku senilai harga tiket mendengar kami akan pindah rumah. Jadi sebenarnya itu adalah uang hadiah yang bukan menjadi rezeki kami.

Samar-samar, kudengar Sang Sopir menerima telepon dari kerabatnya. Beliau mengucapkan syukur karena malam itu mobilnya langsung penuh dengan satu rute perjalanan saja. Di samping juga datang beberapa order pengantaran paket. Ya, bisa jadi kejadian buruk yang menimpa kita adalah jalan rezeki bagi orang lain. Kalau begini, ternyata terasa tidak terlalu buruk, kan?

Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi dan tarikannya membuat jantung terasa terlempar ke sana ke mari. Tadinya kupikir karena jalanan yang berbatu. Ternyata di jalan tol pun sensasinya sama. Hehehe… Ya sudah, dinikmati saja. Yang penting, (entah mengapa) seluruh anggota keluarga masih bisa terlelap. Melihat Suami yang tampak kelelahan dan tetap bersedia bergantian memangku anak-anak tidur, meleleh hati ini.

Dan aku terjaga sepanjang malam. Menyaksikan kerlip lampu-lampu mobil dan bangunan, bagaimana mobil ini menghindari kemacetan di 2 titik, juga sesekali berhenti agar pengemudi dapat istirahat sejenak.

Saat langit berganti warna dan mentari menyapa, kutemukan keasyikan tersendiri. Rupanya lapisan film pada mobil ini berfungsi sebagai filter juga bagi pandangan. Sehingga panorama tampak lebih merona dibanding aslinya. Pantulan bayangan isi mobil pada kaca, membuatnya tampak menyatu dengan pemandangan di luar. Seolah 2 citra yang disatukan. Aku jadi asyik jeprat-jepret kamera menangkap momen yang pas dalam lukisan cahaya.

Lega rasanya saat kami sampai tujuan di siang hari. Tujuan yang menjadi awal perjalanan kami selanjutnya. Tujuan yang kami tempuh dengan hati berkeping-keping namun kemudian kembali menyatu dengan ikatan yang terasa lebih kuat dari sebelumnya.

Semarang, memang bukan tempat yang diharapkan untuk perkembangan bisnis. Namun itu bukan masalah. Karena proyek yang telah disepakati di ibukota kemarin, membuka peluang bagi bisnis Suami untuk terus berjalan. Tak apa lah sesekali harus bolak-balik ke sana untuk mengurusnya. Toh, ada banyak moda transportasi yang bisa dipakai.

Mobil travel? Duh, walau harganya murah, namun kami benar-benar tidak ingin mengulangi perjalanan dengan pengemudi seperti malam itu. Super kejutannya!

Jika waktu dan dananya longgar, berburu tiket pesawat murah sepertinya pilihan yang tepat untuk menghemat tenaga selama perjalanan. Kan ada Skyscanner dengan berbagai keunikan dan keunggulanmya. Apa sajakah itu? Ini dia!

Ya, Skyscanner menyediakan layanan pencarian tiket pesawat, hotel dan penyewaan mobil di seluruh dunia. Di sini, kita bisa mendapatkan daftar harga tiket pesawat selama sebulan. Sehingga, kita bisa lebih leluasa memilih harga termurah sesuai dengan kebutuhan.

Teknologi uniknya menghubungkan langsung pengunjung kepada berbagai penawaran industri travel di dunia. Saat ini, Skyscanner sudah memiliki 1200 mitra bisnis travel, lho. Semua info diberikan secara gratis dan pemesanan dilakukan langsung di situs penyedia layanan tanpa ada tambahan biaya! Harga yang tercantum di Skyscanner sudah jelas yang termurah dan sama dengan harga yang berlaku di tiap situs resmi agen travelnya. Skyscanner menyediakan informasi harga dalam berbagai pilihan mata uang dan dapat diakses dalam 30 bahasa.

Jadi, cukup dengan satu klik, sudah terpampang di hadapan kita berbagai informasi yang kita butuhkan untuk melangsungkan perjalanan dan mendapatkan lebih banyak lagi “Aha Moments” yang akan meningkatkan kualitas diri kita.

Hei, apakah kamu juga memiliki kisah perjalanan yang memberimu “Aha Moments”? Yuk ceritakan kisahmu itu dalam blog dan raih kesempatan memenangkan kompetisi berhadiah total 33 juta Rupiah! Info lengkapnya bisa disimak di sini, ya. Kutunggu ceritamu!

Advertisements

96 thoughts on “Aha! Perjalanan Pindah Rumah, Momen Kembali Mengeja Cinta

  1. Inspiratif nih kisah panjangnya.
    Terutama yg bagian terpendeknya, pindah rumah ^^

    Semoga bisa segera mengekor jejak keluargnya mbak Farida.
    Dan selamat menempati rumah baru, insyaAllah selalu menjadi rumah surga bagi keluarga.
    Aamiin.

    Liked by 1 person

  2. Wah bunda keren. Lagi hamil trus punya 5 anak trus pindah rumah lagi. Wahhhh pasti itu sangat melelahkan ya. Smga saya bisa jdi ibu yang super juga ya kayak bunda. Saya juga baru pindah ke jakarta dari Bandung. Karena punya suami yang kerjanya harus siap dipindahkan dimanapun. Membuat saya belajar mempersiapkan diri. Trmasuk belajar juga dari cerita bunda. Terima kasih 😃

    Liked by 1 person

  3. Kebayang capeknya saat pindahan. Saya pernah kos sebulan pindah 5 kali dg berbagi alasan mulai dari lokasi yg ternyata ngak bikin nyaman sampai atap yg bocor. Rasanya pengen pingsan kl membayangkan harus kembali memasukkan satu persatu barang ke kardus. Sampai barang berat kyk tv saya jual aja biar ngak menyusahkan saat pindahan. I feel you mbak, beruntung sekarang sudah punya tempat yg nyaman bersama keluarga ya. That’s what we called as the ‘ Aha’ moment 🙂

    Liked by 1 person

  4. Wah, udah di Semarang aja nih mbak. Semoga betah ya. Pindah rumah itu rasanya sesuatu ya, apa2 ditangisi hihiihi jadi ingat aku pindah rumah dari rumah orangtua ke rumah sendiri padahal jaraknya cuma kurang dari 1 km. Nice story 😀

    Liked by 1 person

  5. ahhhh baca artikel ini jadi baper 🤣 saya baru pindah dr jogja ke pangkalan bun (kalimantan tengah) kadang masih suka baper sendiri kalo liat jogja ada di tv atau klo gak sengaja terbaca di internet atau majalah, rasanya belum ada kota yg bisa menggantikan jogja, sy sendiri bukan asli dr sana tapi istimewanya jogja sudah bikin jogja jd serasa kampung halaman sendiri, susah banget buat ninggalinnya 😭 *susah move on*

    Liked by 1 person

  6. ahaaa akhirnya semarang ada juga yang bisa dilirik. bagi saya yang sudah pernah tinggal disana sekitar 15tahun, kota semarang hanya sbg kota transit, susah berkembang. Makanya saya pindah lagi ke jakarta.. Hahaha..
    Btw, apa bener itu bisa jadi prospek jangka panjang?

    Liked by 1 person

  7. Aku cenat-cenut mbayangin hamil, packing, sambil mengurus bocah. mbak Farida super sekali 😀
    Kalau aku masih sering terbawa emosi kalau lagi kepepet mbak, apalagi ketinggalan barang itu sering kualami juga, rasanya mendadak pusing terus pengen bobo cantik aja. huhu

    Semoga selalu diberkahi ya mbak dimanapun berada, nanti mau coba skyscanner ini soalnya pas banget momennya mau pindahan 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s