Persiapan Ramadanku yang Anti Mainstream Asal Hepi

Bagaimana Anda menyiapkan diri dan keluarga saat menyambut Ramadan kali ini? Kalau aku sih, hampir-hampir tidak ada perbedaan dari sebelumnya. Lho? Ya, gitu deh. Keluarga santai nih, ceritanya. Kami hanya memastikan kapan mulai berpuasa, selanjutnya kami berusaha menjalani aktivitas sehari-hari sama seperti biasanya. Bedanya, di Bulan Ramadan ini kami akan melewatinya dalam keadaan lapar dan haus di siang hari.

Persiapan Kuliner?

Begitu saja? Tidak ada persiapan menyimpan stok 3 bumbu dasar warna merah, putih dan kuning agar acara memasak lebih praktis? Belakangan, koki di rumah ini adalah Putri Sulungku yang berusia 11 tahun. Masakannya tentu saja yang serba praktis. Termasuk memanfaatkan bumbu-bumbu dasar itu juga. Kalau sedang butuh variasi, Suami tinggal belikan lauk di luar. Sama saja antara sebelum dan saat Ramadan ya begini ini urusan dapur kami. Hehehe…

Tidak menyiapkan daftar menu buka puasa dan sahur selama sebulan? Nggak, kok. Sama saja dengan menu keseharian. Tergantung stok yang ditemui saja. Menu takjil pun adalah jajanan kita sehari-hari. Memang dasarnya doyan makan dan ngemil, sih. Hihihi…

Eh, tapi ada juga ding, kuliner istimewa yang kami siapkan untuk menyambut Bulan Puasa ini, yaitu kurma dan susu. Kalau hari biasa, kurma kan tidak selalu dengan mudah kita temui ya. Sedangkan susu hanya kami konsumsi saat sedang ingin saja. Kini, 2 bahan tersebut selalu setia mengisi kulkas kami sejak malam pertama Ramadan. Sebagai suplemen andalan dalam menjalankan ibadah puasa agar stamina tetap terjaga prima.

Persiapan Jasmani?

Duh, namanya menjaga kesehatan ya mestinya sepanjang waktu, dong. Bukan karena mau puasa saja. Toh, puasa itu sehat dan menyehatkan. Dengan berpuasa, tubuh kita jadi memiiki kesempatan untuk membuang racun dalam tubuh yang menumpuk selama bekerja setahun untuk memenuhi kebutuhan energi kita dalam beraktivitas.

Jadi, jika kita terbiasa menjaga kesehatan, tentu puasa sehat adalah bagian dari gaya hidup kita. Jika saat tidak puasa saja tubuh kita sehat, apalagi saat puasa. Maka performanya akan makin prima. Karena secara berangsur racun di dalam tubuh ikut luruh.

Persiapan Dana?

Lha? Buat apa, ya? Kalau untuk menyediakan aneka menu spesial selama Ramadan, menu Ramadan kami ya sama dengan menu sehari-hari kami yang menurutku sudah spesial dan lezat. Kalau untuk persiapan menjelang Hari Raya, hmm… Sebenarnya tidak ada kebiasaan membeli pakaian baru untuk Hari Raya dalam keluarga kami. Asalkan masih punya pakaian yang layak, kami akan memilih yang terbaik diantaranya untuk dipakai di Hari Raya. Kecuali jika kita merencanakan mudik, ya. Memang persiapan dana dibutuhkan sejak jauh hari.

Persiapan Ilmu?

Hmm… ya, tentu ini penting sekali ya membekali diri dengan ilmu tentang berbagai hal terkait dengan puasa sebelum kita menjalaninya. Berhubung puasa ini adalah ibadah rutin tahunan yang kita laksanakan, maka biasanya masalah yang dihadapi dan perlu diketahui ilmunya adalah masalah yang hampir sama setiap tahunnya. Sehingga ilmu tentang puasa ini kita tinggal mengulang saja dari apa yang sudah kita ketahui sebelumnya.

Puasa saat hamil? Puasa bagi ibu menyusui? Membayar fidyah atau menggantinya dengan puasa di hari lain? Berhubung sejak hamil anak pertama aku tidak pernah berhenti melewati tahun demi tahun dalam keadaan hamil, menyusui, kadang hamil sambil menyusui, kadang menyusui 2 anak, jadi pelajaran tentang itu adalah pelajaran tahunan bagi kami. Kecuali jika memang ada hal yang benar-benar baru. Jadi deh, kita berburu ilmu tentang ini agar ibadah puasa kita tetap dalam tuntunan syariat-Nya.

Persiapan Kebiasaan?

Hmm… Kebiasaan apa, ya? Kebiasaan bangun sahur? Kalau buat aku dan Suami sih, kami sudah terbiasa bekerja di malam hari. Karena Suami adalah programer freelance sedangkan aku biasanya mengisinya dengan hobiku menulis blog.

Kebiasaan shalat tarawih? Sebenarnya shalat tarawih itu kan shalat malam yang diawalkan, ya. Justru jadi lebih mudah karena usai shalat Isya’ kita bisa langsung melaksanakannya. Kebiasaan membaca dan menghafal Qur’an? Itu adalah kegiatan harian kami. Jangan dibayangkan sekian juz per hari, ya. Untuk amalan sunnah, kami berprinsip seperti hadits berikut:

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” HR. Muslim no. 783

Iya, jumlahnya memang tak sehebat kebanyakan orang yang mengerjakannya di Bulan Ramadan. Ada yang sampai mengkhatamkannya berkali-kali selama satu bulan mulia ini. Kami memilih kadar yang sekiranya tetap dapat kami lakukan selepas Ramadan. Supaya amalan sunnah, apa pun itu, tidak hanya bersemangat kami jalani saat Ramadan. Namun bisa tetap berkesinambungan pelaksanaannya di bulan-bulan lain hingga tiba Ramadan kembali. Yang pasti, Ramadan ini harus lebih baik dari Ramadan sebelumnya. Walaupun sedikit, tetap harus ada perkembangan.

Pengalaman Kami Mempersiapkan Anak Berpuasa

Eh, bicara tentang pembiasaan, aku jadi ingat agenda istimewa keluarga kami pada Ramadan tahun ini. Yaitu melatih anak ketiga kami berpuasa. Itu karena tahun ini dia memasuki usia 7 tahun. Usia di mana dianjurkan untuk mulai mengajarkan berbagai aturan dalam Islam, yaitu shalat dan yang lainnya seperti puasa.

Usia 7 tahun baru belajar puasa? Iya, aku tahu bahwa banyak orangtua yang telah membiasakan anaknya berpuasa pada usia yang lebih dini. Namun kami memilih untuk mulai mengajarkannya secara formal saat anak berusia 7 tahun. Sebelum itu? Mereka cukup mendapatkan pelajaran dari melihat perilaku kami sebagai orangtuanya di Bulan Ramadan. Bangun sahur, lalu tidak makan dan minum hingga adzan Maghrib.

Suatu saat, pastilah akan muncul pertanyaan terkait dengan aktivitas yang berbeda dari keseharian itu. Kita akan menjawab secukupnya sesuai daya tangkapnya saat itu. Tanpa perlu menawari atau pun bujuk rayu agar anak mau ikut berpuasa.

Pelajaran Puasa Pertama Anak Sulungku

Bahkan saat anak pertama kami menginjak usia 7 tahun, aku tidak langsung memintanya ikut berpuasa. Karena saat itu dia termasuk malas makan. Aku kawatir akan kesehatan dan tumbuh-kembangnya jika dia ikut berpuasa. Jadi, saat itu aku hanya mengajaknya ikut serta dalam aktivitas sahur dan berbuka. Jadi, Ramadan pertamanya diisi dengan belajar mempersiapkan diri untuk makan, tanpa belajar puasa. Hehehe…

Setelah sudah terbiasa dengan aktivitas sahur dan berbuka, aku mulai mendorongnya untuk belajar menahan diri dari makan dan minum. Jika biasanya para orangtua melatih anaknya dengan cara berpuasa Dhuhur dan kemudian diperpanjang menjadi Puasa Ashar, maka aku sama sekali tidak mengenalkan konsep itu pada anakku. Aku ingin sejak pertama kali mengenalkan ajaran Islam ini anak-anak mengetahui sebagaimana mestinya dilaksanakan.

Alih-alih menahan diri sejak sahur hingga Dhuhur, aku justru mengajarinya menahan diri sejak belasan menit sebelum berbuka.

Dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “… Bagi orang yang berpuasa dia memiliki dua kegembiraan: yakni kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu dengan rabbnya (HR.Bukhari & Muslim)

Ya, daripada mengajarinya tentang betapa payahnya berpuasa, aku memilih untuk lebih dulu mengenalkan salah satu rasa gembira yang dirasakan orang berpuasa, yaitu saat berbuka. Karena itu, aku mengajaknya menahan diri sebentar melihat aneka hidangan yang tersaji dan bersama-sama menyantapnya saat adzan Maghrib tiba. Agar ia bisa merasakan betapa nikmatnya hasil dari menahan diri itu.

Selanjutnya, aku memperpanjang waktu menahan dirinya menjadi 30 menit, lalu 1 jam hingga sejak Ashar. Dari situ aku tahu bahwa dia sudah bisa mulai belajar puasa tahun berikutnya karena sudah bisa membiasakan diri dengan aktivitas sahur, menahan diri dari makan dan minum serta menyiapkan buka puasa.

Pelajaran Puasa Pertama Anak Keduaku

Tahun berikutnya, anak keduaku yang berumur 6 tahun meminta dengan sangat agar diizinkan ikut berpuasa. Maka aku pun mengabulkan. Walau sebenarnya agak ragu mengingat sebelumnya dia suka sekali makan. Mengetahui adiknya berpuasa, Sang Kakak pun ikut berpuasa.

Aku mengingatkan bahwa puasa itu artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak Subuh hingga Maghrib. Jika mereka tidak kuat menahan diri dari lapar dan haus hingga Maghrib, mereka boleh berbuka kapan saja karena masih kecil dan sedang berlatih. Namun tentu saja, itu artinya mereka tidak berhasil berpuasa hari itu.

Alhamdulillah, tak disangka, ternyata Sang Adik hanya 2 hari puasanya batal. Sedangkan kakaknya batal 4 hari. Perkembangan yang pesat ya, mengingat mereka sama-sama mulai dari 0, sebelumnya tidak pernah berpuasa. Apalagi Sang Adik yang tadinya sering dan banyak makan. Ternyata kebiasaan itu bisa ditundukkan dengan kepatuhan kepada Allah.

Tahun berikutnya, masing-masing berkurang 2 hari batalnya. Jadi Sang Adik sudah bisa berpuasa sebulan penuh. Dan kakaknya pun menyusul di tahun berikutnya, tidak ada lagi batal puasa di usia 10 tahun.

Berbekal dari pengalaman itulah, aku mantap untuk tetap memulai mengajarkan puasa saat anak berusia 7 tahun. Tanpa drama dan tanpa rasa kawatir akan kesehatannya karena rata-rata anak sudah siap fisik dan mentalnya di usia tersebut.

Perlu disediakan aneka aktivitas menyenangkan tidak, untuk mengusir rasa bosan dan mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar dan haus? Wah, itu sih pekerjaan mereka sehari-hari. Setiap hari mereka bermain dan belajar apa pun yang mereka suka, dengan cara yang mereka pilih. Karena kami menjalankan homeschooling, maka tidak ada persiapan khusus di Bulan Ramadan ini. Semua aktivitas dijalankan seperti biasa. Membaca, menulis, mendengar, menghafal, berhitung, menggambar, mewarnai, bermain pura-pura, berlarian, berlompatan, berkejaran,… Semuanya seperti biasanya. Aktif dan menyenangkan.

Hadiah apa yang dijanjikan seusai Ramadan? Pakai metode mengumpulkan stiker atau bintang begitu? Hehehe… Tidak ada janji hadiah. Tidak ada pengukuran prestasi menggunakan stiker, bintang atau semisalnya. Cukuplah kabar tentang surga dan cinta Allah bagi orang-orang yang taat pada-Nya. Sudah dapat menggerakkan mereka untuk bisa beramal lebih baik dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Dan insyaallah tetap bisa mencapai target agar anak benar-benar dapat konsisten menjalankan ibadah puasa di usia 10 tahun, sesuai tuntunan agama ini.

Pelajaran Puasa Pertama Anak Ketigaku

Sebenarnya dia sudah mulai tertarik ikut berpuasa sejak tahun kemarin. Hanya saja, aku belum menangkap bahwa dia sedang berpuasa. Lucu sekali. Ternyata dia memiliki cara yang berbeda dalam memahami makna “Puasa Maghrib.”

Setiap hari dia berkata, “Umi, aku ikut puasa, ya.” Aku mengiyakan saja. Walau kadang dia mengatakan itu sambil membuka kulkas dan mengambil makanan atau minuman dari dalamnya lalu menikmatinya.

Lho, katanya puasa?” tanyaku.

“Iya, aku kan Puasa Maghrib,” jawabnya dengan riang dan penuh percaya diri. Aku hanya bisa mengerutkan kening. Bingung apa maksudnya. Aku hanya tertawa geli dan berpikir pasti dia salah paham, nih. Tapi aku belum tahu salah di mananya.

Setiap hari pula dia akan berulang kali bertanya, “Umi, sudah Maghrib?” Dan alangkah gembiranya dia begitu adzan Maghrib berkumandang. Dia pun melompat girang dan tersenyum-senyum hingga adzan Isya’ tiba. Sampai aku suatu saat menyadari bahwa dia belum makan malam, aku pun bertanya, “Kok dari tadi nggak ikut buka?”

“Aku kan Puasa Maghrib. Jadi waktu Maghrib ya aku nggak makan nggak minum.” katanya.

“Hah? Ya Puasa Maghrib itu artinya puasa sampai Maghrib. Begitu Maghrib datang, kita batalkan puasa dengan makan dan minum,” jelasku.

“Jadi Umi tidak makan dan minum waktu ada matahari? Waktu matahari terbenam Umi makan dan minum?” tanyanya.

“Iya,” jawabku.

“Kalau begitu, berarti Umi itu Puasa Matahari, bukan Puasa Maghrib. Karena nggak makan dan nggak minum saat ada matahari. Kalau Puasa Maghrib, kita nggak makan dan nggak minum saat Maghrib. Gitu, Mi! Ya sudah aku besok Puasa Matahari saja kayak Umi.”

Tepok jidat, deh. Akhirnya ketahuan juga di mana salah pahamnya. Maka esoknya, yaitu hari terakhir Ramadan, dia pun berpuasa sehari penuh hingga Maghrib. Tapi tetap saja dia ngotot bahwa dia sedang Puasa Matahari, bukan Puasa Maghrib. Hehehe…

Ramadan tahun ini, usianya genap 7 tahun menurut kalender Hijriyah. Ya, dia lahir di bulan Ramadan, 11 Ramadan tepatnya. Di hari pertama, dia sudah berpuasa sehari penuh. Demikian pula di hari kedua. Walaupun dia malas bangun sahur dan sempat membuka kulkas di siang hari sambil bertanya apakah dia boleh berbuka. Saat aku izinkan, ternyata akhirnya dia memilih untuk melanjutkan puasanya hingga Maghrib.

Di hari ketiga, kembali dia malas sahur. Pagi harinya dia berkata, “Umi, bolehkah aku mulai berpuasa saat usiaku sudah tepat 7 tahun?” Dan aku pun mengiyakan. Setiap hari dia bertanya kurang berapa hari lagi dia genap 7 tahun.

Dan saat malam ke-11, aku mengabarkan padanya bahwa besok dia sudah bisa mulai belajar berpuasa lagi. Dia pun menyambut dengan bersemangat. Benar saja, sejak 11 Ramadan, dia giat bangun sahur dan tetap menjalankan puasanya hingga Maghrib. Tentu saja dengan pemahaman tentang Puasa Maghrib yang sudah benar. Hehehe…

Akhir-akhir ini dia sering mengeluh karena paket yang datang tidak pernah ada untuk dirinya. Duh, itu kan paket dari sponsor untuk diulas. Ya kebanyakan memang untuk aku konsumsi. Tapi dia ingiiin… sekali merasakan lagi menerima paket.

Setelah aku menghiburnya, dia pun mulai berseri dan mengalihkan perhatian, “Umi, aku sekarang sudah 7 tahun, kan? Aku lahirnya tanggal 11 Ramadan, ya? Sebelas itu eleven, ya Mi?” Dia pun mengoceh dengan acak. Apa pun yang terlintas di pikirannya, disampaikan.

Hei! Eleven! Seketika nama Elevenia muncul di otakku. Elevenia menyediakan sistem belanja online dengan solusi pembayaran yang menjamin transaksi berjalan aman.

  1. Buyer melakukan transaksi di Elevenia.
  2. elevenia akan memberikan notifikasi kepada seller atas transaksi yang terjadi.
  3. Setelah ada pemberitahuan dari elevenia, penjual mengirimkan barang kepada buyer.
  4. Setelah menerima barang, buyer melakukan konfirmasi.
  5. Setelah menerima konfirmasi, elevenia melakukan pencairan dana kepada seller.

Memberikan pelayanan terbaik kepada pembeli dan penjual dengan keuntungan yang luar biasa. Ini dia diantaranya!

Jadi deh, aku mulai berpikir untuk mencari hadiah buat anak ketigaku ini. Hadiah karena mau berpuasa? Hadiah Lebaran? Ah, walaupun kami tidak menerapkan sistem hadiah dalam melatih berpuasa dan kami tidak menyediakan dana khusus untuk hadiah Lebaran, namun sebenarnya kami sangat suka sekali memberi dan menerima hadiah. Tanpa alasan khusus. Bukan karena momen tertentu. Sekadar ungkapan rasa sayang dan biar sama-sama hepi!

Lagi pula, memang dia layak kok, mendapat hadiah. Selain karena kami sayang padanya sebagaimana pada anak-anak yang lain, juga sebagai pernyataan syukur karena dia telah mengukir prestasinya lebih baik daripada Ramadan sebelumnya. Inilah hadiah yang kupilih untuknya!

Setelan ini aku temukan di kategori Perlengkapan Bayi. Klik saja Pakaian Bayi & Anak > Baju Anak Perempuan > Baju Muslim Anak Perempuan, ketemu deh gaun cantik lengkap dengan kerudungnya ini dalam warna pink dan mint yang segar. Ukuran yang pas untuknya pun tersedia. Setelan berlabel Yuli ini sedang diskon, lho. Dari harga normal Rp 115.000 menjadi Rp 109.300 saja.

Anda mau berbelanja untuk mengisi Ramadan ini juga? Persiapan Lebaran? Bagi-bagi bingkisan THR? Ke Elevenia saja. Karena selain berbagai keuntungan yang sudah disebutkan di atas, saat ini ada banyak promo diskon untuk berbagai produk. Juga, ada fasilitas gratis ongkos kirim! Buruan intip Elevenia, ya. Tak ada kata terlambat untuk mempersiapkan Ramadan kali ini menjadi lebih hepi!

Advertisements

13 thoughts on “Persiapan Ramadanku yang Anti Mainstream Asal Hepi

      1. starfusion August 4, 2009 too bad na from their point of view, hindi sila nahahabag o nabalahaba. They wouldn’t say such if they were ignorant. Hindi sila manhid para maging magkdpnisarimina. If you talk to such (kind of) people, prepare yourself baka kailanganin mong magsumbong.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s