Persiapan Mudik Super Rempongku Tahun Ini

Duh, senangnya sudah memasuki Bulan Ramadhan! Sambil menikmati Ramadhan, tak ada salahnya mempersiapkan juga momen di penghujungnya, yaitu Lebaran Hari Raya Idul Fitri. Karena bagaimana pun juga, ini momen spesial lho, yang berbeda dari hari biasanya. Apa lagi bagi bangsa Indonesia yang sudah sangat akrab dengan tradisi tahunan dalam merayakan Hari Raya, yaitu mudik ke kampung halaman.

Sudah 2 tahun lebih kami jauh dari kampung halaman. Lebaran tahun lalu, kami tidak mudik. Karena terbayang alangkah repotnya mudik bersama 5 anak seperti ini. Rupanya, kedua orangtuaku memahami situasi ini. Sehingga Beliau berdua meminta kami tidak usah memikirkan soal mudik. Beliau berdualah yang akan mengunjungi kami. Namun tentunya selepas hiruk-pikuk arus balik. Karena tentu mereka tak sanggup berdesakan di tengah keramaian terdahsyat se-Indonesia.

Lalu, bagaimana kami menikmati Lebaran di tanah rantau wilayah Jabodetabek ini? Hmm… Kami tentu senang bisa shalat Idul Fitri di tempat yang berbeda dengan sentuhan sensasi yang tidak pernah bisa sama. Selepas shalat Id, kami bisa saling menyapa dengan orang-orang yang tidak terlalu kami kenal sebelumnya.

Namun, sejujurnya, usai semua itu jadi terasa kurang seru. Tidak ada hidangan dan suguhan khas Lebaran. Tidak ada aktivitas saling mengunjungi ke rumah tetangga. Karena setelah shalat Id, hampir semuanya bersiap untuk mudik. Huhuhu… sepi. Memang daerahku ini kebanyakan penduduknya adalah pendatang dari daerah lain.

Dan 2 minggu sejak Lebaran itu pun terasa benar-benar garing. Selain karena sepinya, kami pun bisa dibilang sulit ke mana-mana. Karena kami tinggal di perbatasan antara Depok dan Bogor, jauh dari mana-mana. Kendaraan yang kami punya hanya motor. Minimal kami harus menyewa ojek untuk mengangkut kami semua, atau sekadar menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan. Namun liburan panjang begini, jarang sekali kami menemui ojek. Baik di pangkalan ojek depan komplek perumahan, mau pun di aplikasi ojek online. Jadilah kami hanya di rumah saja. Huhuhu…

Itu belum seberapa. Karena yang paling menyedihkan adalah: bahkan kami sempat kekurangan bahan pangan! Padahal menjelang Hari Raya kami sudah menyetok persediaan makanan untuk memenuhi kulkas. Namun pada minggu ke-2, persediaan sudah menipis. Mungkin karena bosan, sehingga kami jadi lebih sering makan, ya? Sementara semua tukang sayur mudik dan pasar tutup. Minimarket di sekitar kami pun sudah kehabisan stok makanan beku bahkan telur! Jadilah seminggu itu kami hanya makan mi instan seharian. Huhuhu…

Tidak menyangka bahwa berlebaran di perantauan akan berjalan mengenaskan seperti ini. Makanya, mudik sepertinya merupakan ide cemerlang bagi kami agar tidak terjebak lagi dalam situasi yang tidak nyaman seperti tahun lalu.

Tapi eh tapi, tentu saja semuanya harus dipersiapkan secara matang. Karena perjalanan mudik kami akan menyangkut 7 nyawa yang berharga. Yang pertama harus dipikirkan adalah: mudik dengan apa? Pilihannya antara bis, kereta api atau pesawat terbang.

Kalau bis, sepertinya tidak. Perjalanan yang akan kami tempuh adalah 13 jam untuk sampai di terminal Bungurasih, Surabaya. Selain tempat duduk yang hanya segitunya sehingga membuat kaki susah diluruskan, juga karena tidak memiliki toilet yang membuat anak-anak akan kesulitan jika ingin buang air kecil. Mengingat kemampuan mereka menahan pipis masih terbatas. Belum kalau terjebak macet. Tidaakk…!

Kalau kereta api, sepertinya juga bukan pilihan ideal untuk mudik Lebaran, walaupun ruang di kereta api cukup lega, tersedia toilet dan tidak terpengaruh oleh kemacetan. Namun biasanya, pada momen menjelang Lebaran, stasiun hingga keretanya akan penuh sesak dengan manusia. Tangan kami berdua sebagai orangtua jumlah totalnya hanya 4. Sedangkan anak kami ada 5. Lalu yang satu digandeng siapa? Barang bawaannya bagaimana? Duh, terbayang deh hectic-nya.

Maka, pilihan terbaiknya tinggallah pesawat terbang untuk mudik lebih nyaman. Jika moda transportasi sudah dipilih sesuai kebutuhan, barulah kita bisa merancang apa saja yang perlu dipersiapkan sejak dini agar mudik berjalan lancar.

1. Dana

Sepertinya ini persiapan yang utama, ya. Tanpa tersedianya dana, maka rencana serapi apa pun akan tetap buyar. Biaya pesan tiket pesawat Jakarta-Surabaya untuk 6 orang (karena Si Bungsu masih di bawah 2 tahun) tentu tidak sedikit. Maka, jurus andalan kami untuk memenuhi kebutuhan dana ekstra ini adalah HTM. Bukan Harga Tiket Masuk, ya. Melainkan Hemat, Tabung dan Makaryo (alias bekerja).

Aksi berhemat dan menabung kami tularkan juga kepada anak-anak. Sedangkan untuk bekerja lebih giat, itu adalah tugas Suami sambil aku sedikit-sedikit membantu. Beliau berusaha makin jeli mencari kesempatan mendapatkan proyek baru atau apa pun yang dapat menambah penghasilan.

Sedangkan aku? Ya, dengan mengirimkan proposal ke sana ke mari sebagai influencer serta mengikuti aneka lomba blog. Berharap agar diantaranya akan menjadi tambahan rejeki bagi kami untuk dana mudik. Aamiin

2. Waktu

Ya, waktu ini terkait dengan tanggal berapa mudik dan akan berapa lama berlibur di kampung halaman. Jadi, otomatis kita juga menentukan kapan tanggal baliknya. Hal ini penting untuk pemesanan tiket PP serta perhitungan biaya hidup selama di kampung. Sehingga kita tahu berapa jumlah dana yang harus kita sediakan demi berlangsungnya acara mudik ini.

3. Pesan Tiket

Ya, sebenarnya sih, jika dana sudah ada dan perencanaan waktu sudah matang, ada baiknya memesan tiket jauh-jauh hari agar tidak kehabisan tiket. Pun, biasanya harga tiket yang dipesan jauh hari lebih murah daripada membeli tiket dadakan.

Nah, bicara tentang tiket pesawat domestik, kita bisa booking di HISGO, lho. Karena ada HISGO Domestik yang khusus menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat untuk tujuan dalam negeri.

Pesan tiket di sini jadi lebih praktis, deh. Kita tidak perlu repot-repot mencari tiket ke setiap maskapai. Cukup ketik kebutuhanmu di sini, dan… voila! Semua penerbangan dari berbagai maskapai yang tersedia akan muncul. Lihat saja contoh pencarian tiket di atas. Kita juga bisa memilih hasilnya berdasarkan nama maskapai, keberangkatan, waktu tiba, durasi perjalanan, fasilitas dan harga. Jika ada, kita juga bisa memilih apakah mau penerbangan langsung atau transit, baik 1 atau 2x transit.

Sip, kan? Jika tiket sudah dipesan, maka kita tinggal menyiapkan berbagai keperluan yang harus dibawa selama perjalanan maupun di kampung halaman. Sementara, inilah daftar bawaan yang teringat harus aku siapkan untuk mudik nanti. Mau mencontek, boleh. Atau mungkin, ada saran tambahan untukku?

Barang bawaan sebaiknya dibagi 2 kelompok besar, yaitu barang keperluan selama perjalanan dan barang keperluan selama di kampung. Barang keperluan selama perjalanan akan kita bawa bersama kita untuk menyimpan kebutuhan selama di jalan. Sedang barang keperluan di kampung sebaiknya disimpan di bagasi pesawat nanti. Kalau kami naik kereta api, biasanya yang terakhir ini kami paketkan lewat ekspedisi 1-2 hari sebelumnya agar lebih praktis selama perjalanan.

Memenuhi keperluan selama perjalanan, barang-barang inilah yang aku persiapkan untuk dibawa:

1. Peralatan Kerja

Ya, berhubung Suami kerjanya di rumah, tidak mengenal libur serta membutuhkan komputer dan jaringan internet, maka kita harus memboyong berbagai peralatannya ke kampung halaman. Laptop, charger laptop, tetikus, headset dll.

Sebenarnya ini memang bukan keperluan selama di jalan, ya. Suami baru akan bekerja nanti sesampainya di kampung halaman. Namun, berhubung peraturan bagasi tidak mengizinkan kita menyimpan benda berharga di sana, maka tentu laptop dkk ini harus kami bawa masuk ke pesawat.

Siapkan tas khusus laptop dkk yang berbeda dengan tas untuk barang bawaan yang lain. Selain karena isinya sudah cukup berat, juga menghindarinya terkena barang bawaan lain yang mungkin berupa cairan. Lagi pula, cukup merepotkan jika kita harus membuka tutup tas yang berat untuk mengambil dan mengembalikan barang yang kita perlukan selama di jalan.

Pilih tas yang cukup tebal, kuat dan dilengkapi sabuk pengaman di dalamnya untuk mengurangi akibat guncangan yang mungkin dialami selama perjalanan. Suami biasanya menggunakan yang model ransel agar beban terasa lebih ringan dan seimbang di badan. Tangan pun tetap bebas untuk mengerjakan tugas yang lain.

2. Kartu Identitas Keluarga

Karena semua anak belum dewasa, maka kami membawa Kartu Keluarga dan KTP orangtua sebagai identitas. Semua dimasukkan dalam map yang cukup tebal dan dapat tertutup rapat. Karena ukurannya, maka map ini disimpan bersama laptop.

3. Telepon Genggam dan Charger-nya

Selain untuk keperluan komunikasi dan mencari aneka informasi, ini adalah alat penunjang kerja juga. Biasanya, Suami membawanya dalam sebuah tas selempang kecil khusus kedua tablet kami lengkap dengan charger , modem, charger modem, dan kartu SIM.

Nah, selanjutnya, berbagai barang keperluan yang lain dikemas dalam satu tas. Biasanya berisi:

4. Pakaian Ganti Si Bungsu

Usianya memang masih 1,5 tahun. Karenanya, masih sering terjadi tragedi pakaian kotor. Noda makanan lah, minuman tumpah lah, duduk sembarangan hingga celana kotor lah. Jadi ini barang bawaan wajib bagiku. Cukup 1 stel pakaian lengkap saja termasuk kaus kaki. Karena perjalanan udara ke Surabaya hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam.

5. Popok Ganti

Ya, ini pun sebagai jaga-jaga untuk keperluan Si Bungsu. Cukup membawa 2 buah saja. Selanjutnya, kebutuhan popok selama di kampung halaman bisa dibeli sesampainya di sana.

6. Tisu Basah dan Lap Bayi

Untuk bersih-bersih, dong. Tisu basah untuk membasuh segala noda. Sedangkan lap bayi berupa kain kering untuk menyerap aneka tumpahan cairan yang basah.

7. Mainan

Terutama bagi Si Bungsu, sebagai penghibur untuk menghindari rasa bosan. Kalau kakak-kakaknya sih, sudah lebih kreatif. Mereka bisa tertarik dan bermain sambil belajar dengan apa saja yang ditemuinya selama dalam perjalanan.

8. Kudapan, Permen dan Minuman

Ini juga tidak dapat dipisahkan dari kami. Anak-anak yang aktif, ibu yang masih menyusui serta ayah yang pekerjaannya banyak melelahkan otak. Semua membutuhkan asupan yang sering terutama untuk mengisi waktu perjalanan selama menuju bandara dan boarding.

Kudapan yang baik adalah yang praktis namun padat kalori seperti kue, roti, cokelat dan susu. Permen kunyah tentu sangat berguna bagi kita untuk mengurangi tekanan di telinga ketika pesawat mulai terbang dan mendarat. Minuman juga sangat dibutuhkan mengingat berjam-jam di dalam ruang terbatas seperti mobil dan pesawat membuat kita mudah dehidrasi.

9. Uang Tunai

Bawa secukupnya saja. Sekadar untuk biaya perjalanan ke dan dari bandara serta membeli beberapa keperluan tambahan selama boarding. Toh, kita bisa menarik uang tunai kembali saat tiba di bandara atau setibanya di rumah orangtua.

10. Obat-Obatan

Jika ada anggota keluarga yang membutuhkan pengobatan khusus secara rutin, jangan lupa untuk membawanya, ya. Kalau kami, paling tidak akan membawa minyak kayu putih, hand sanitizer dan obat luka. Mengingat aktivitas anak-anak yang sering membuat geleng-geleng kepala dan berujung pada lecet, memar, berdarah atau benjol. Semua perlengkapan ini dikemas dalam tas plastik kecil untuk menghindari kebocoran.

11. Tas Plastik

Setidaknya, aku menyiapkan 1 tas plastik besar untuk tempat sampah dan 2 tas plastik kecil untuk berjaga-jaga jika ada yang mual selama perjalanan ke dan dari bandara.

Sedangkan untuk keperluan selama di kampung halaman, isi koperku terdiri dari:

1. Pakaian Ganti

Pakaian ganti secukupnya saja yang dibawa. Biasanya, aku hanya menyediakan maksimal baju ganti untuk 3 hari bagi tiap anggota keluarga. Selanjutnya kita akan mengandalkan mesin cuci Nenek untuk membersihkan pakaian sehingga bisa dipakai ulang.

2. Perlengkapan Mandi dan Parfum

Sebenarnya untuk alat mandi ini kami tidak terlalu rewel, sih. Kami bisa memakai merk apa saja. Beli di tempat pun, jadilah. Namun jika sudah siap sedia dalam koper tentu lebih praktis, ya. Tidak perlu repot membeli dulu setelah lelahnya perjalanan. Toh, barang-barangnya kecil saja, tidak terlalu memakan tempat. Tapi kalau soal parfum, kami semua adalah penggemarnya. Masing-masing anggota keluarga memiliki parfumnya sendiri.

Perlengkapan mandi juga dikemas dalam tas plastik agar isinya tidak berantakan. Sedangkan parfum ditempatkan pula tersendiri pada tempat yang minim guncangan, misalnya diantara tumpukan pakaian.

3. Mainan dan Buku

Tidak perlu banyak. Mungkin hanya sepasang boneka untuk kedua putri kami dan robot atau mobil favorit dari masing-masing ketiga putra kami. Selain itu, kami juga mengemas 2-3 buku bacaan kesukaan anak-anak, buku latihan membaca, menulis, menggambar dan mewarnai untuk anak-anak yang lebih kecil. Selebihnya, kami lebih suka anak-anak mempelajari dan bersenang-senang dengan hal baru yang ditemuinya di tempat baru.

4. Oleh-Oleh Khas Bogor

Tinggal jauh dari kampung halaman, tentu membuat kami mengalami perbedaan budaya dan kuliner. Ada baiknya kami membawa sedikit oleh-oleh untuk yang di kampung agar mencicipi pengalaman yang sama, kan?

Kemungkinan kami akan memilih oleh-oleh yang tahan lama tidak hanya dalam hitungan hari. Mengingat lokasi kami sebenarnya jauh dari pusat kota tempat berbelanja oleh-oleh khas kota ini. Kami akan menghindari membawa aneka makanan basah. Kacang Bogor Istana, Keripik Talas, Pia dan yang semisalnya sepertinya layak menjadi pilihan. Jika dananya mencukupi, tas etnik dan anyaman tampaknya juga akan sangat menyenangkan Nenek dan Kakakku yang penggemar tas itu.

Aku mengemas semuanya dengan metoda Konmari sehingga cukup membawa satu koper saja untuk keperluan 7 anggota keluarga selama di kampung halaman. Ada yang belum kenal metoda Konmari? Ini contohnya:

Kebanyakan orang mengemas barangnya dengan meletakkan barang-barang yang berat di bagian bawah. Hal ini karena kekawatiran barang yang berat akan merusak barang lain jika tertindih. Padahal, kalau dari ilmu mengemas barang yang pernah kudapatkan saat mengikuti ekskul Pecinta Alam, justru sebaiknya kita meletakkan barang yang berat di atas, sehingga terasa lebih ringan saat dibawa. Barang yang berat tidak akan merusak barang-barang di bawahnya jika tidak ada guncangan atau gesekan.

Rahasianya, tata isi tas hingga penuh dan kompak tanpa ruang tersisa sejak dari bawah. Tanda tas kita telah kompak adalah bentuknya yang mulus tanpa banyak tonjolan di sana-sini. Kemaslah barang-barang yang rentan dalam kotak yang aman, besarnya sesuai dan tentu saja hingga penuh isinya tanpa ada sisa ruang.

Nah, jika saatnya sudah dekat, menjelang hari-H, ini dia hal-hal yang perlu diperhatikan:

Memangnya, ada rencana apa saja sih, yang akan dilakukan di sana selama Libur Lebaran? Tentu saja mencicipi masakan Nenek yang super lezat tiada tandingan. Biasanya hidangan Lebaran khas Nenek berkisar pada gulai, opor ayam, sate daging sapi, gado-gado dan nasi kuning. Walau tidak menutup kemungkinan, Beliau juga akan memasakkan apa pun menu permintaan kami. Seperti sayur bening dan perkedel kentang, misalnya. Sederhana memang, namun tetap saja buatan Nenek adalah juara di lidah kami.

Selain itu, untuk mengepas baju baru. Ya, bisa dipastikan tahun ini Nenek tidak akan bisa mengirim pakaian baru buat cucu-cucunya sebagaimana kebiasaan tahun-tahun lalu menjelang Lebaran. Karena Beliau mendapat banyak order jahitan. Duh, sebenarnya kami tidak pernah memintanya. Namun jika itu menyenangkan Beliau, mengapa tidak?

Lalu, kami ingin mengunjungi Surabaya Carnival yang lokasinya cukup dekat dari rumah Nenek. Sayangnya, sarana hiburan ini baru buka setelah kami pindah. Sehingga kami belum sempat menikmati berbagai wahana seru di dalamnya.

Juga, jika tersedia dana, kami ingin mengikuti Paket Wisata Domestik 3D2N WISATA MALANG – BATU yang disediakan HIS Travel Indonesia dengan lokasi tujuan:

  • Batu Night Spectacular (BNS)
  • Apel Kusuma Agrowisata
  • Jatim Park II
  • Museum Angkut

Biayanya IDR 1.759.000 saja per orang! Wow, serunya! Bagaimana tidak akan tertarik? Karena walaupun Malang adalah kota asal Suami, namun keempat destinasi di atas belum pernah satu pun kami kunjungi.

Wah, sungguh rencana mudik yang membuat bersemangat. Semoga kami bisa benar-benar mewujudkannya, ya.

Advertisements

6 thoughts on “Persiapan Mudik Super Rempongku Tahun Ini

  1. Saya juga kaget kaget bener sih liat harga tiket pesawat yang sampe murah bgt gitu. Padahal beberapa hari yg lalu hunting tiket pesawat di momen lebaran antara tgl 20-30 juni via website tr*v***ka itu semua maskapai harga tiketnya di atas 1.5 juta dari halim ke juanda surabaya. Di hisgo cuma 1/3 nya wkwkwk. Wow. Bener bener wow.

    Btw. Ini lombanya diperpanjang loh mbak hingga tgl 11 juni. Pengumuman pemenangnya 15 juni :p semoga menang mbak!!

    Liked by 1 person

  2. salam kenal mbak..
    lengkap banget ini persiapan mudiknya…
    btw iya bener pas nggak mudik dan harus masuk kantor itu siksaan banget deh, nggak ada yang jual makan siang di kantor, akhirnya ya nyetok mi instan deh atau bawa bekal dari rumah

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s