Serupa Tapi Tak Sama, Berbeda Namun Satu Jua

block_1

Jika kita telusuRI Nusantara ini, maka kita akan menemukan kekayaan kuliner yang beranekaragam. Uniknya, sejalan dengan kehidupan manusia yang kadang berpindah-pindah dan selalu saling berinteraksi, maka kita akan mendapati ada kemiripan kuliner antara tempat yang satu dengan yang lainnya.

Tak perlu jauh-jauh, misalnya saja pengalamanku sendiri karena berpindah dari daerah Jawa Timur ke Jawa Barat. Saat sedang rindu-rindunya dengan kuliner Jawa Timur, Suami melihat gerobak bertulisan Rangi. “Wah, Rangin nih, kesukaannya anak-anak dan istri,” pikir Beliau.

Rangin adalah sejenis kue yang terbuat dari campuran kelapa muda parut, tepung beras dan air yang dipanggang dalam loyang cetakan seperti cetakan kue pukis. Rangin yang kukenal di Jawa Timur bentuknya tipis dan crunchy. Ini adalah salah satu foto Kue rangin yang dikirim oleh kakakku di Jawa Timur untuk mengiming-imingiku yang sedang rindu kampung halaman. Teganya…

Rangin (Sumber: dokumen pribadi)

Ternyata, Kue Rangi yang dibeli Suami itu tidak sama dengan Kue Rangin dalam memori kami. Walaupun bentuknya mirip, namun bahan dan citarasanya sangat berbeda. Kue ini terbuat berbahan dasar tepung sagu, selain juga dicampur dengan kelapa parut. Bentuknya padat berisi dengan tekstur yang lembut. Ciri khas yang sangat mencolok adalah penyajiannya yang dilengkapi dengan saus gula merah kental. Penampilannya mirip dengan foto di bawah ini:

Kue Rangi (Sumber: id.tastemade.com)

Kue ini rasanya gurih dan beraroma wangi karena dimasak dengan cara dipanggang menggunakan bahan bakar kayu. Namun, bagaimana pun, dia sangat berbeda dengan Rangin, sehingga tidak mampu mengobati rasa rindu kami. Hiks.

Suatu hari, di stasiun, tanpa sengaja mata Suami tertuju pada dagangan penjual Kue Pancong. “Tampaknya mirip sekali dengan Rangin,” pikirnya. Maka Beliau pun membeli sebagai oleh-oleh bagi kami di rumah. Ini dia penampakannya:

Kue Pancong (Sumber: dokumen pribadi)

Dan, bagaimana hasilnya? Apakah Kue Pancong memang sama dengan Rangin? Kalau dari sosoknya, Kue Pancong lebih tebal dan besar daripada Rangin. Jadi, teksturnya pun tidak sekriuk Rangin. Tapi, saat aku mencicipinya, rasanya sama persis dengan Rangin! Ah, senangnya bisa bernostalgia lagi. Dan jujur saja, aku kini lebih suka versi Kue Pancong daripada rangin karena tubuhnya yang montok sangat memuaskan untuk dinikmati. Hahaha…

Saat aku berbagi tentang temuanku ini di media sosial, aku jadi tahu bahwa Kue Rangin atau Kue Pancong ini juga dikenal di berbagai daerah dan memiliki beberapa julukan. Orang Bojonegoro menyebutnya Tratak Jaran, sedangkan orang Bali menamainya Daluman. Beda lagi dengan di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang biasanya disebut Kue Gandos, sedangkan orang Bandung menyebutnya Bandros, lain lagi dengan Cirebon yang mengenalnya dengan nama Gonjing.

Selain itu, di Samarinda juga ada yang disebut Kue Keroncong dan di Makassar lebih variatif lagi namanya. Ada yang mengatakan Kue Baroncong, Buroncong, Beroncong, Garoncong, Geroncong atau Kue Ganco. Hanya saja, kue-kue ini berbahan dasar tepung terigu bukan tepung beras seperti yang beredar di daerah pada paragraf sebelumnya.

Wah, ternyata kuliner Indonesia memang sangat beragam ya. Dari satu jenis makanan saja bisa bermacam-macam nama dan variasinya. Kadang, kita juga perlu mempelajari nama kuliner yang dikenal di daerah setempat agar tidak salah paham. Seperti Ronde dan Angsle misalnya. Ronde yang dikenal di Surabaya ternyata disebut sebagai Angsle di Mojokerto. Sebaliknya, Angsle yang dikenal di Surabaya justru disebut ronde oleh orang Mojokerto.

block_2

Atau ketika aku kebingungan karena tidak sepaham dengan temanku tentang bakwan. Yang aku tahu, sebagai warga Jawa Timur, bakwan itu semacam bakso. Namun di Jawa Tengah, Jawa barat dan jakarta ternyata bakwan adalah sejenis gorengan berisi sayuran yang biasa kami kenal dengan sebutan Ote-Ote. Hehehe…

block_3

Tapi memang menjelajah kuliner Nusantara ini sangat menarik, kok. Beraneka variasinya, walau kadang membuat kaget di awal karena belum terbiasa, namun senantiasa menjanjikan citarasa yang dahsyat. Seperti Sayur Asem di Jawa Timur yang berkuah bening dengan bumbu minimalis, yang berbeda dengan Sayur Asem Sunda yang cukup kaya bumbu. Atau gado-gado Betawi dengan kuah kacang yang dihaluskan dulu,  memang berbeda sensasinya dengan gado gado Surabaya yang kuahnya selalu siap disiramkan. Belum lagi berbagai varian pecel baik itu dari sisi sensasi bumbunya maupun isi sayuran dan lauknya. Juga bagaimana sebuah menu seperti Soto bisa disajikan dengan cara berbeda di Madura, Betawi, Banjar maupun Makassar.

Berkeliling Indonesia sambil mencicipi setiap detil kulinernya? Wah, sepertinya tak akan ada habisnya. Beruntung sekarang ada Omiyago yang menyediakan jasa pengiriman aneka makanan khas dari seluruh daerah di Indonesia. Kita bisa menikmati berbagai panganan berkualitas terbaik dari bermacam penjuru Nusantara tepat diantar ke depan pintu rumah kita. Apalagi Omiyago mengemas paketnya dengan cantik sehingga layak untuk dijadikan sebagai hantaran bagi keluarga, kerabat, sahabat dan kolega.

Jadi, dari daerah mana sekarang kita akan memulai menambah pengalaman lidah kita mengecap kuliner Indonesia?

Advertisements

6 thoughts on “Serupa Tapi Tak Sama, Berbeda Namun Satu Jua

    1. kalau versi gorengan, bakwan itu ya aneka gorengan semacam fritata kalau orang bule bilang. yang didadar gitu. ada bakwan sayur, bakwan jagung, bakwan udang.
      tinggalnya di mana yang jarang nemu rangin dan kue pancong? itu enak bangeettt…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s