Putriku, Bersikaplah Positif Laksana Ksatria di Media Sosial

block_1Kali ini, aku akan menulis untukmu, Putriku. Aku tahu engkau akan menyimaknya. Karena seperti biasa, engkau adalah pembaca setia tulisan-tulisanku di blog maupun media sosial.

Terimakasih, karena engkau telah memintaku membaca karya-karyamu. Yang diam-diam kausimpan rapi dalam sebuah folder di komputer. Dan terimakasih, karena engkau tetap menyimpannya. Sedangkan dari isi tulisanmu, aku tahu bahwa sebenarnya tulisan itu untuk dipublikasikan.

block_2Ya, tahan, tahan jarimu, Putriku. Sebelum engkau merambah ke dunia internet dan media sosialnya, pastikan dirimu telah siap menjadi ksatria saat terjun ke dalamnya. Tahukah engkau, apakah ksatria itu?

Ksatria sebagaimana dibahas dalam kitab-kitab yang ditulis ulama, adalah orang yang mengetahui dengan jernih, untuk apa dia melakukan semua hal dalam hidup. -Ustadz Felix Siauw, The Chronicles Of Ghazi-

Maka, menjadi seorang ksatria di media sosial, haruslah tahu apa dan untuk apakah media sosial itu.

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. -Wikipedia

Ya, kau boleh berpartisipasi, berbagi dan mengisi di media sosial dengan tetap menghidupkan sikap ksatria di dalamnya. Apa sajakah sikap ksatria itu? Ksatria identik dengan sifat positif yang melekat. Kemandirian sekaligus kepedulian, kepemimpinan sekaligus kerendahan hati, kecerdasan sekaligus kehalusan budi pekerti, keberanian sekaligus pertahanan, kepatuhan, kegigihan, kejujuran, keadilan, wibawa, tanggung jawab dan semua hal positif lainnya.block_3Ksatria dalam Falsafah Jawa

Masyarakat Jawa memiliki falsafah yang bagus untuk menggambarkan sikap ksatria, yaitu:

Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake

block_4Sugih Tanpa Bandha artinya Kaya Walau Tanpa Harta. Seorang ksatria tidak hanya mengandalkan kekayaan berupa harta. Dia tetap merasa hidupnya berkecukupan karena memiliki teman-teman yang baik dan ilmu yang bermanfaat.

Digdaya Tanpa Aji artinya Berjaya Walau Tanpa Kekuatan. Pada dasarnya setiap ksatria selalu membekali dirinya dengan berbagai kemampuan dan ketrampilan. Namun tidak serta-merta dia selalu menggunakannya untuk menjadi unggul dibanding yang lain. Ksatria menjadi unggul bukan semata karena kekuatannya, namun lebih karena wibawa dan citra dirinya yang positif sehingga orang-orang kagum serta mengikutinya.

Nglurug Tanpa Bala artinya Menyerang Walau Tanpa Pasukan. Tentu saja, ksatria adalah seorang pemberani dan pejuang sejati. Dia berani menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Dia bukanlah orang yang mudah terhasut dengan kabar yang tidak jelas, tipu daya rayuan dunia atau sekadar ikut-ikutan kebanyakan orang. Dia berani berjuang walaupun sendirian.

Menang Tanpa Ngasorake artinya Menang Walau Tanpa Merendahkan. Seorang ksatria adalah pribadi yang cerdas sekaligus memiliki kelembutan hati dalam menyusun cara untuk meraih kemenangan. Dia ahli strategi. Dan menyengsarakan orang lain bukanlah bagian dari strateginya.

Bagaimana Menjadi Ksatria di Media Sosial?

Ya, tidak mudah menjadi ksatria. Namun setiap diri kita harus berusaha menjadi salah satunya. Karena setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya. Setiap insan haruslah mampu memegang kendali dalam dirinya. Apalagi jika engkau bermaksud memasuki sebuah dunia yang sangat luas dan berinteraksi di dalamnya.

Sebenarnya, tidak terlalu berbeda apakah engkau berinteraksi di dunia nyata maupun maya. Walaupun tampaknya engkau hanya berhadapan dengan layar saat berinteraksi di media sosial, namun sejatinya engkau sedang berhadapan dengan banyak orang di luar sana. Keduanya membutuhkan sikap positif dalam menjalaninya. Maka, pastikan hal-hal ini engkau perhatikan saat berada di media sosial:block_51. Umur

Menaati peraturan, disiplin dan tidak berlaku curang adalah sikap ksatria. Engkau mengetahui bahwa batas usia minimal untuk membuat akun di dunia internet rata-rata adalah 13 tahun. Batasan ini tentu bukan tanpa alasan. Pertimbangan kematangan akal dan psikis dinilai telah memadai di usia tersebut. Terimakasih mau bersabar menunggu karena saat ini usiamu masih 11 tahun. Engkau memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan diri dengan melengkapi bekal sikap selanjutnya yang diperlukan sebagai seorang ksatria di media sosial. Dan semoga di usia 13 tahun nanti, sikap ksatria akan membuatmu lebih mengetahui apa yang perlu diperbaiki dari tulisan-tulisanmu saat ini.

2. Privasi

Seorang ksatria tentu memiliki pertahanan yang kuat untuk melindungi dirinya dari bahaya. Dimulai dari menerima pertemanan, utamakanlah keluarga dan orang-orang yang memang engkau kenal di dunia nyata. Sedangkan teman yang hanya bertemu di dunia maya, pastikan dia memang akan memberikan pengaruh positif bagimu. Binalah hubungan baik dengan semua orang dalam lingkaran pertemanan sekaligus benteng pertahananmu itu.

Berbagi cerita, pengetahuan dan pendapat bukan berarti memberitahukan semua keadaan pribadi kita. Pandai-pandailah memilih mana yang akan engkau beritahukan pada orang-orang, dan mana yang sebaiknya tetap disimpan demi keamananmu.

Sebaliknya, hargailah privasi orang lain dengan tidak menanyakan atau menyebarkan hal-hal yang dianggap pribadi olehnya.

3. Kebenaran

Sampaikanlah hanya kebenaran. Tak perlu bumbu-bumbu kebohongan hanya sekadar untuk menarik hati orang lain. Hati-hatilah, jangan sampai engkau menyebarkan berita atau cerita yang tidak jelas asal-usul dan validitasnya.

Bacalah dan periksa fakta yang diajukan dari berbagai pihak. Gunakan timbangan yang adil sebisamu dalam menilai sesuatu. Jika engkau ragu, tak perlu memaksakan diri menyampaikan pendapatmu. Dan bagikan pendapatmu bukan semata karena dorongan emosi.

Beranilah menyampaikan kebenaran walau sendiri. Dan tak perlu ikut-ikutan sesuatu yang tidak engkau ketahui walau kebanyakan orang melakukannya.

4. Manfaat

Bagikanlah hal-hal yang bermanfaat. Kadang, walaupun kita mengetahui kebenaran suatu fakta, tidak semuanya bisa kita sampaikan saat itu juga. Jika hal itu tidak memiliki pengaruh positif bagi pembacanya, atau justru membuat kekacauan, maka sebaiknya disimpan dulu untuk mendapatkan momen yang lebih tepat agar terasa manfaatnya.

Tulisan yang menambah pengetahuan, membangkitkan perasaan positif atau mempermudah urusan orang lain adalah contoh yang sangat layak untuk disebarkan.

5. Bahasa

Gunakanlah bahasa yang tepat dan santun dengan siapa pun kita berinteraksi. Hargailah orang lain. Engkau bisa memperhatikan gaya bahasa yang digunakan seseorang dalam media sosialnya sebelum berkomentar atau meresponnya. Sehingga engkau bisa menyesuaikan gaya bahasamu dengannya agar bisa diterima dengan baik olehnya.

6. Tanggung Jawab

Tak ada gading yang tak retak. Seorang ksatria pun dapat melakukan kesalahan. Mengakui kesalahan, meminta maaf, melakukan perbaikan dan bertekad tidak mengulangi kesalahan yang sama adalah sikap bijak bagi ksatria.

Nah, Putriku, inilah sedikit wawasan yang bisa kuberikan padamu saat ini tentang media sosial. Kita akan terus tumbuh dan belajar bersama untuk semakin memahami dan bersikap positif di media sosial laksana ksatria yang sesungguhnya.

Tulisan Ini Diikutsertakan dalam Lomba Blog Taruna Ngeblog First Anniversary

Advertisements

4 thoughts on “Putriku, Bersikaplah Positif Laksana Ksatria di Media Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s