Malang Raya, Negeri Dongeng di Masa Kecil Saya

cuban-rondo-malang
Coban Rondo (Sumber: tabloidwisata.com)

Duh, siapa sih yang tidak kenal Kawasan Malang Raya? Malang Raya adalah gabungan dari wilayah Kotamadya Malang, Kabupaten Malang dan Kabupaten Batu. Terlebih bagi warga Jawa Timur, Malang merupakan sebuah kota yang menjadi pilihan praktis untuk berlibur. Pilihan destinasi wisata Malang begitu indah dan lengkap. Ada gunung, pantai, gua, hutan, danau, air terjun, mata air, pemandian, kolam renang, museum, agrowisata, wisata edukasi, masjid, alun-alun, taman hiburan, arung jeram, mendayung, paralayang, labirin, dll.

Bagiku pribadi, Malang memiliki kesan yang begitu mendalam. Seperti kebanyakan persepsi warga Jawa Timur di masa kecilku, Malang adalah destinasi wisata impian bagi kami semua. Pemandangan yang asri, hawa yang sejuk dan kuliner yang lezat ditunjang dengan fasilitas memadai milik sebuah kota terbesar kedua di propinsi ini. Membuat Malang laksana Negeri Dongeng dalam benakku. Tempat berpadunya keindahan, kelezatan, kemewahan sekaligus kedamaian menjadi satu.

Pengalaman Pertamaku Berkunjung ke Malang

Pertama kali aku mendengar tentang Malang dari keluargaku. Cerita yang paling dekat di telingaku adalah selain bagaimana indah dan sejuknya Kota Malang, juga kabar bahwa salah satu sahabat kental Ayah sejak mulai bekerja sebagai sesama perantau dari Tanah Batak tinggal di sana. Diam-diam aku berharap suatu saat diajak Ayah berkunjung ke rumah sahabatnya di Malang.

Dan keinginanku pun terkabul. Suatu hari, kami sekeluarga diundang menginap di rumah sahabat Ayah itu. Rasanya? Bbrr… Dingin! Ini sih, bukan sejuk namanya. Mandi pagi benar-benar terasa horor bagi tubuh kurusku yang masih berusia TK itu. Sambil terus-terusan menggigil, aku bertanya dalam hati, mengapa orang di rumah ini memasukkan begitu banyak es batu dalam bak mandinya? Padahal kan, udaranya sudah sejuk? Kebiasaan yang aneh.

Begitu matahari meninggi, aku pun bergegas memilih menghabiskan waktu di luar rumah. Selain karena pemandangan cantiknya berupa lapangan rumput yang dipagari pepohonan dengan siluet gunung nun jauh di sana, juga untuk menyerap sebanyak-banyaknya hangat sinar mentari.

Sorenya, kembali aku mengecek isi bak mandi. Sudah sekian lama aku mengacak-acak air, tak kutemukan sebutir es batu pun di dalamnya. “Oh, mungkin sudah leleh. Toh, airnya memang tidak sedingin pagi tadi,” pikirku.

Esok pagi, aku berusaha bangun sangat dini untuk mengawasi gerak-gerik penghuni rumah. Apakah kali ini mereka akan tetap memasukkan es batu ke dalam bak mandi setelah aku mengeluh kemarin kepada Bunda? Siapa yang memasukkan? Kapan? Ah, tapi sulit sekali melihat yang mereka kerjakan ketika di dalam kamar mandi. Kelihatannya sih, mereka tidak membawa barang-barang berat ke dalam sana.

Aku pun optimis bahwa suaraku kemarin telah dipertimbangkan. Kali ini airnya pasti hanya sesejuk air di sore hari. Dan ketika aku mandi, lagi-lagi aku terkejut! Ini air es! Mana es batunya? Buru-buru aku selesaikan mandiku dan bertanya di mana mereka biasa meletakkan es batu di dalam bak mandi. Bukannya dijawab, seluruh isi rumah malah tertawa terbahak-bahak. Aku bertanya mengapa, mereka malah terpingkal-pingkal. Baiklah, jadi memang tidak ada es batu ya? Apakah mereka mengalirkan air dari kulkas? Keluarga yang aneh.

Kami sekeluarga pun diajak berkeliling mengunjungi aneka destinasi wisata unggulan di Malang. Selecta, Coban Rondo dan Tlogo Mas. Aku jadi menyadari bahwa ternyata air yang dingin tidak hanya ada di rumah sahabat Ayah, tapi di seluruh Malang! Mengapa mereka melakukannya?

Selecta yang tetap indah sejak dulu. (Sumber: selectawisata.com)

Kemewahan Selanjutnya yang Kukecap di Batu 

Beberapa tahun berikutnya, aku dan kakakku merasa menjadi anak paling beruntung, Pasalnya, kami diajak Budhe menginap di sebuah hotel di Batu bersama teman-teman kantornya dan sepupuku. Hotel Purnama, namanya. Saat itu hotelnya begitu rapi, nyaman dan asri. Ternyata, kini pun semakin tampak luar biasa.

Hotel Purnama di masa kini. Jauh lebih cantik!
Hotel Purnama di masa kini. Jauh lebih cantik! (Sumber: purnamahotel.com)

Selama di sana, aku senang sekali. Kamar yang nyaman, lokasi yang menakjubkan dan udara yang begitu segar. Walaupun dinginnya air masih menjadi momok bagiku. Iya, iya. Saat itu aku sudah tahu kok, bahwa air dingin ini bukan karena diberi es batu atau dituangi air dari kulkas. Tapi karena pengaruh dari rendahnya suhu di tempat ini. Hehehe…

Selain menghabiskan waktu di Selecta yang memang lokasinya dekat dengan hotel, kami juga mengunjungi berbagai tempat lainnya seperti Sengkaling dan Songgoriti. Yang sangat terpatri dalam ingatanku saat itu adalah kejadian lucu ketika kami bersiap berangkat ke tempat wisata. Aku melihat sepupu-sepupuku begitu antusias meminta untuk diijinkan naik mobil Hardtop ke lokasi. Karena penasaran seperti apa rasanya, aku pun ikut-ikutan merajuk, “Aku mau naik mobilnya Om Hardtop! Aku mau juga!” Lha, malah ditertawakan? Oo… ternyata Hardtop itu nama tipe mobil ya. Kukira nama salah satu temannya Budhe. Hehehe… Dan saat mobilnya Om Hardtop, eh mobil Hardtop datang, aku pun mengetahui seperti apa bentuknya. Unik memang, dibandingkan kebanyakan mobil yang semua kursinya menghadap ke dapan. Kami pun bersemangat menyerbu pintu belakangnya dan bersenang-senang di banyak tempat wisata di Malang ini.

(Sumber: surabaya.panduanwisata.id)
Sengkaling (Sumber: surabaya.panduanwisata.id)
(Sumber: surabaya.panduanwisata.id)
Songgoriti (Sumber: surabaya.panduanwisata.id)

Dan demikianlah, Malang tetap menjadi idaman hati untuk berekreasi. Walaupun mendengar tentang Bali, Jogja atau Jakarta. Saat liburan perpisahan SD pun aku senang sekali karena kembali tujuan yang dipilih adalah Malang. Selain indah, tentu saja alasan utamanya adalah biayanya lebih murah dibanding pilihan lain di atas. Hehehe…

Selepas itu, aku tidak banyak berinteraksi lagi dengan Malang. Kecuali untuk mengurus pendakian gunung Arjuna dan Semeru bersama teman-teman Pecinta Alam di saat SMU. Tidak, aku tidak ikut mendaki. Karena fisikku yang lemah, aku jadi langganan Sie Konsumsi yang berjaga di kaki gunung. Hehehe…

Arjuno dan Semeru dari kejauhan (Sumber: kudubatja.wordpress.com)
Arjuno dan Semeru dari kejauhan (Sumber: kudubatja.wordpress.com)

Pangeran dari Negeri Dongeng Pun Menyuntingku

Tak disangka, ternyata alur takdir membawaku berjodoh dengan seorang lelaki asal Malang. Awalnya, tidak sempat terpikir tentang kenangan jalan-jalan di masa kecil saat aku memutuskan untuk menerimanya sebagai suamiku. Namun, Malang pun turut mengambil bagian dalam melengkapi kisah perjalanan kami menuju pernikahan.

Saat (calon) suamiku ke sana untuk keperluan mengurus administrasi pernikahan, Beliau menyempatkan berkunjung ke rumah orangtua angkatnya sekaligus mengabarkan tentang rencana pernikahannya. Keduanya mengurus Suami sejak menjadi yatim-piatu di usia 16 tahun hingga lulus SMU. Mereka adalah sahabat orangtua Suami. Mendengar akan menikah, Ibu Angkatnya langsung menitipkan hadiah seperangkat kosmetik berlabel halal untukku.

Sepulangnya, Sang Calon sekaligus berkunjung ke pasar pusat oleh-oleh untuk membeli buah tangan. Di sana, salah satu penjualnya mencolek dan menawarkan koin 1 rupiah. “Untuk mahar,” katanya. Menakjubkan! Bagaimana dia tahu bahwa calonku itu akan menikah? Dan bertepatan sekali karena sudah beberapa hari Beliau ke sana ke mari mencari mahar termurah sesuai permintaanku. Jadilah koin itu sebagai maharku. Harganya tidak seberapa. Namun nilai perjuangannya benar-benar memantapkan hatiku untuk memasuki gerbang pernikahan bersamanya.

Walaupun resepsi kami sederhana, namun terasa setiap undangan hadir dengan rasa cinta dan doa yang tulus. Segera, sebuah kejutan manis datang menjelang usainya resepsi. Kedua orangtua angkat Suami langsung memboyong kami ke Malang. kami benar-benar kaget tanpa persiapan. Tidak ada baju ganti, bahkan kacamataku tertinggal di rumah. Katanya, mereka sudah menyiapkan pakaian, makanan dan tempat tinggal untuk kami berbulan madu.

Rupanya, kami ditempatkan di rumah kosong milik Beliau berdua. Rumah ini sudah lama menganggur. Belum laku dijual maupun disewa. Di dalamnya, kami sudah disediakan baju ganti dan aneka makanan. Padahal kami baru saja mengisi perut dengan hidangan resepsi. “Percayalah, setelah malam pertama itu rasanya sangat lapar,” kata Ibu Angkat. Hah? Benar begitu? Apa bedanya tidur biasa dengan tidur di malam pertama? Mengapa jadi lebih lapar?

bm
Lokasi Bulan Madu yang sudah ditempati orang (Sumber: Google Street View)

Ternyata Ibu Angkat benar. Paginya, walaupun sudah menghabiskan semua makanan yang tersedia, masih saja kami kelaparan. Kami pun berjalan keluar menuju jalan raya untuk menikmati semangkok bakso urat langganan Suami. Hmm… Traktiran pertama yang begitu menggoda. Walaupun banyak bertebaran aneka bakso Malang di kota ini, yang mengena di hatiku hanya bakso satu ini di Jalan Mayjen M. Wiyono No.1. Rasa nostalgianya tak tergantikan. Apalagi di depannya ada penjual martabak dan terang bulan Bangka yang sangat lezat.

Sumber: dokumen pribadi

Kami pun berkunjung ke rumah teman-teman dan sekolah Suami. Wajah-wajah terkejut dan bergembira itu menyambut kami dengan akrabnya. Dan berkunjung ke Malang menjadi acara yang lebih sering aku lakukan daripada sebelumnya. Karena memang ada kerabat yang bisa kami datangi. Semakin banyak pula tempat wisata di sini yang aku kunjungi. baik dengan keluarga inti maupun bersama keluarga besar. Apalagi setelah Warung Lesehan Pak Soleh membuka cabang di dekat rumah ipar. Rasanya ingin setiap minggu bertamu ke sana.

Sumber: hargatiketwisata.xyz
Pemandian Air panas cangar (Sumber: hargatiketwisata.xyz)

Dongeng telah menjelma menjadi nyata. Malang selalu menyisakan rindu untuk kembali. Dari hari ke hari, makin banyak saja obyek wisata dan kuliner yang ingin dicicipi. Bagaimana denganmu?

Ingin mencoba labirin di Coban Rondo. (Sumber: matajatim.com)
Ingin mencoba labirin di Coban Rondo. (Sumber: matajatim.com)

Update per 27 Februari 2017:

Berdasarkan info dari salah satu kontak saya di Facebook yaitu Mbak Amri Husniati, Beliau menyebutkan bahwa

Sebutan kotamadya itu sudah dihapus lama. Jadi sekarang gak ada lagi. Semua hanya pakai kota. Trus, Batu itu bukan kabupaten tapi Kota Batu. Makanya ada Walikota Batu.
Alhamdulillah, terimakasih koreksinya ya, Mbak. Jadi menambah pengetahuan saya dan teman-teman yang membaca.
Advertisements

14 thoughts on “Malang Raya, Negeri Dongeng di Masa Kecil Saya

  1. Hai mbak salam kenal.. Ulasannya bagus ya..

    Oiya saya sama sekali belum pernah ke malang mbak.. Paling k semarang.. Semoga suatu saat nanti bisa main kesana..

    Terimakasi infonya ya mbak 😊

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s