Menisik Sejentik Ketakutan Klasik di Awal Usia Cantik

20161120_0428581

Kusyukuri Setiap Usiaku

Sejak kecil, aku senantiasa menikmati setiap fase usia yang sedang aku jalani dan bersyukur berada di fase tersebut. Aku selalu merasa bahwa fase usia dimana aku berada saat itu adalah masa yang lebih baik daripada sebelumnya. Karenanya, ungkapan sentimentil semacam “ingin kembali ke masa kecil” atau “masa remaja masa yang paling bahagia” tidak berlaku bagiku.

Saat aku masuk TK, aku sangat bergembira karena bisa bersekolah, mengenal aneka alat bermain dan belajar serta mengenal guru-guru yang baik dan teman-teman yang beraneka ragam tabiatnya. Saat aku masuk SD, aku senang sekali karena mulai bisa belajar lebih serius dengan beberapa target seperti nilai bagus, ranking 1 atau menang olimpiade. Memasuki usia SMP, aku sungguh bersyukur karena mengalami haid pertama. Aku merasa sudah dewasa dan harus bertanggung jawab terhadap setiap perbuatanku. Di jenjang SMU, aku bahagia karena berani menembus batas kota dan memutuskan untuk bersekolah di kota besar. Berbagai pengalaman di sepanjang perjalanan pulang-pergi ke dan dari sekolah serta segala aktivitas selama bersekolah di sekolah unggulan dengan batas nilai masuk tertinggi di propinsi itu memberitahukanku sedikit potongan fakta dunia yang sesungguhnya. Demikian juga ketika aku menempuh masa kuliah, menikah dan memiliki anak. Setiap fasenya mengajari aku banyak hal. Membuatku berterimakasih karena telah mengalami masa-masa itu dan tidak terpikir untuk berandai-andai kembali ke masa sebelumnya. Karena bagiku, setiap masa yang sedang aku alami saat itu adalah masa terbaikku.

Sstt… Ada Fase Usia yang Menakutkanku

Sumber: quotesgram.com
Sumber: quotesgram.com

Aku selalu antusias setiap akan memasuki sebuah fase baru dalam kehidupan. Karena aku yakin, ada hal-hal baru yang menarik dan lebih bermakna dari sebelumnya yang menanti di hadapan. Namun sebenarnya, sejak kecil, ada satu fase kehidupan yang aku takut menjalaninya. Yaitu fase masa tua. Dalam bayanganku, menjadi tua artinya adalah menjadi jelek, lemah dan cerewer. Hiii… Sudahlah tidak sedap dipandang, merepotkan, banyak tingkah yang menyebalkan lagi.

Sebenarnya ketakutan menjadi tua itu sebuah kisah klasik ya. Yang mungkin sempat terbersit di benak setiap manusia, termasuk aku yang sebenarnya sangat optimis memandang kehidupan. Aku bersemangat menyiapkan diri untuk menyongsong setiap fase baru yang aku masuki, tapi untuk masa tua… Mmm… Entahlah. Aku tak punya banyak ide bagaimana mengisinya agar tetap terasa sebahagia sebelum-sebelumnya. Kadang saking kawatirnya, aku sampai berharap tidak usah mengalami jadi tua saja hehehe…

Telisik yang Menggelitik di Usia Cantik

Sumber: pelajaransekolahonline.com
Sumber: pelajaransekolahonline.com

Saat ini usiaku 36 tahun. Belum tua. Bahkan katanya, usiaku memasuki fase Usia Cantik. Hohoho… Senangnya…. Usia Cantik adalah rentang usia antara 35 tahun hingga 45 tahun. Sebuah definisi yang membuatku tergelitik untuk menyelidik, mengapa ya rentang usia ini disebut Usia Cantik?

Katanya sih katanya, perempuan berusia 35-45 tahun memiliki karisma tersendiri dibanding rentang usia yang lain. Tampak telah matang, dewasa, bijaksana, berpengetahuan, berpengalaman dan lebih percaya diri menentukan pilihan untuk dirinya serta menyikapi segala sesuatu di sekitarnya.

Kalau aku pribadi, mengalami satu hal ajaib juga saat mulai memasuki fase ini. Suami yang biasanya masih terbayang-bayang dan ingin aku kembali seperti zaman pengantin baru dulu, lambat laun sudah semakin tak terdengar permintaannya itu. Dan aku baru benar-benar menyadarinya ketika suatu saat aku menyampaikan kepada Beliau ingin diet melangsingkan badan, Beliau langsung mencegah seperti kawatir kehilangan sesuatu. Sekilas kutangkap tatapan penuh sayang dan harap agar aku tidak perlu memikirkan keinginannya yang dulu agar aku lebih langsing. Beliau menganggap aku sudah sangat cantik seperti ini, jangan diubah lagi. Lho? Kenapa ya? Mengapa kondisi fisik bukan lagi sebuah masalah penting dalam pandangannya? Apakah pesona Usia Cantik itu benar-benar ada?

Lalu, mengapa rentang Usia Cantik ini cukup panjang ya, 10 tahun? Perempuan dengan selisih usia 10 tahun bisa sama-sama berada dalam kategori Usia Cantik. Wow! Tapi eh tapi, kalau dipikir ini masuk akal lho. Dengan memperhatikan ciri-ciri fisik dan perilakunya, aku bisa dengan mudah membedakan anak perempuan usia 5 tahun dengan 7 tahun. Juga untuk anak remaja usia 13 tahun dari yang 17 tahun. Bahkan aku masih bisa mengidentifikasi manakah perempuan berusia awal 20-an dan mana yang usianya awal 30-an. Namun untuk perempuan berusia 35 tahun ke atas, aku mulai merasa bahwa faktanya itu sangat acak. Tak jarang aku salah menebak usia para perempuan yang sedang berada dalam fase Usia Cantik ini.

Saat Asisten Rumah Tangga terakhirku dulu pertama kali melamar, aku menaksir usianya sekitar 40-50 tahun. Namun ketika aku melihat KTP-nya, ternyata Beliau masih seusia denganku! Kupikir, mungkin saja usia yang tertera di KTP tidak sesuai usia sebenarnya. Biasanya orang dari kampung kan terlambat mengurus KTP dan lupa tanggal lahirnya sendiri. Tapi dari obrolan sehari-hari, akhirnya aku menangkap bahwa memang itulah usia sebenarnya. Beliau menikah di usia SMP, demikian juga putri sulungnya. Tak heran di usia 30-an Beliau sudah memiliki cucu. Beban hidup yang sedemikian berat telah membuatnya tampak lebih tua.

Sering pula kita melihat para selebritis di Usia Cantik ini masih begitu segar dan bersemangat seperti 10 tahun lebih muda. Ya, bisa jadi pengaruh kosmetik yang dikenakan. Namun memang benar-benar ada kan, diantara mereka yang dalam kesehariannya pun tampak begitu muda. Biasanya mereka memang memperhatikan kesehatan dan kecantikan tubuh serta jiwanya. Membuat iri saja. Hehehe…

My ‘Voila’ Already Came!

Sumber: dribbble.com
Sumber: dribbble.com

Dan yang sangat membetik semangat baru dalam memandang Usia Cantik ini adalah seorang dokter yang aku temui seusai berkonsultasi tentang laktasi pada rekan kerjanya. Dokter ini banyak bertanya tentang pengalamanku menyusui dan keluhanku saat ini. Beliau begitu bersemangat mendengar ceritaku dengan penuh penasaran dan tampak penuh tanda tanya. Tak jarang Beliau berekspresi takjub. Binar matanya yang penuh semangat dan senyum manis yang selalu terhias di bibirnya. Sampai-sampai aku mengira bahwa Beliau sepertinya sedang atau baru saja melewati masa menyusui. Mungkin Beliau memiliki 1-2 anak berusia balita saat ini. Dan kagetlah aku saat menanyakan tentang anaknya. Ternyata mereka sudah berusia SMU dan SMP! Aku tak dapat menahan keterkejutanku dan jujur kukatakan bahwa aku mengira Beliau masih ibu muda. “Aduh, di dalam sini sudah banyak ubannya saya,” sahut Beliau dengan tersipu sambil mengelus hijab di atas kepalanya.

Ah, iya. Tidak terlihatnya satu fakta yang berkaitan dengan usia, yaitu uban, telah membuat potensi kebugaran fisik dan psikis lain dalam dirinya dapat mencuat lebih jujur dan mendominasi kesan yang hadir. Dengan semangat yang menyala-nyala untuk belajar semacam itu, siapa yang mengira Beliau tidak lebih berpengalaman? Bahkan Beliau adalah seorang dokter yang sehari-harinya membantu bagian laktasi. Sudah pasti pengetahuannya pun lebih banyak ya? Ugh, serasa ingin membenturkan kepala saya ke bantal karena begitu konyolnya menaksir usia seseorang.

Sejak itu aku semakin yakin, bahwa menjadi tua bukanlah momok. Selama gelora dalam jiwa masih membara untuk terus belajar, memperbaiki diri dan memberikan manfaat sebesar-besarnya, maka sesungguhnya kita tetap bisa memberi makna dalam rentang usia mana pun kita sedang berada.

Usia Cantikku, Bekal Menapaki Masa Tuaku

15122967_10210157980939578_2295284428429685731_o

Usia, sebuah besaran bilangan yang tak pernah aku sembunyikan dari siapa pun. Aku ringan menyebutkan angkanya sejak dulu. Karena itu sama sekali bukan perkara memalukan. Pun di awal Usia Cantik ini, bertahap kurumuskan bagaimana aku akan menjalani masa tuaku. Yang ternyata tidak banyak berbeda dari sebelumnya. Aku akan tetap berusaha hidup sehat, merawat segala anugerah yang diberikan padaku dengan sebaik-baiknya, berpikiran positif dan terus menambah kualitas diri dari berbagai sisi. Fisik, psikis, pengetahuan, pengalaman maupun aneka ketrampilan.

Sejentik lubang dalam diriku akibat sebuah ketakutan klasik untuk menjadi tua, kini tertutup sudah. Ibarat menjahit tisik sebuah lubang pada pakaian hingga kembali tampak sempurna. Pintalan kisahku telah terbentang dengan indah dan akan terus kupintal hingga habis masaku.

Bagi Anda yang memasuki Usia Cantik, Yakinlah Anda akan tetap cantik di usia ini, bahkan sesudahnya. Tetaplah merawat kecantikan kulit Anda dengan mencukupi kebutuhan nutrisinya dari luar maupun dalam tubuh. Sinari kecantikan Anda dengan pancaran jiwa yang sehat untuk menyempurnakannya. Jika semua telah Anda jalani dengan bahagia, maka selebihnya:

Biarkan dunia melihat garis halus di sekitar mata dan bibir Anda sebagai prasasti berapa banyak Anda telah tersenyum dalam hidup Anda

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.

Advertisements

13 thoughts on “Menisik Sejentik Ketakutan Klasik di Awal Usia Cantik

  1. AKu adalah salah satu orang yang ingin mengulang suatu waktu di masa lalu.. Hiks..
    Seperti dugaannku aku lebih muda dari mak Fa, tapi ga nyangka ternyata ga berapa tahun bedanya 😀 ups.. Ternyata dirimu ga setua bayanganku.. *ngibrit ambil sendal..

    Like

  2. Sungguh penerimaan yang indah di usia cantik ini ya mba. Kalau dulu saya sering berpikir wah nanti kelihatan semakin tua, tapi setelah memasuki usia cantik rasanya biasa saja. Yakin kita tetap cantik.

    Like

  3. Kalau ingat masa-masa dulu, kayaknya saya juga pernah punya ketakutan akan menjalani usia cantik seperti apa. Takut gagal, takut tidak berguna, pokoknya takut segalanya. Alhamdulillah, ternyata tidak ada yang harus ditakutkan kecuali satu hal, takut tidak bisa membawa bekal apa-apa saat harus kembali menghadap pada-Nya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s