Kala Cinta Mengancam Akan Menghabisiku

Sumber: laruno.com
Sumber: laruno.com

Setiap manusia tentu pernah menghadapi dilema, sebuah jalan persimpangan yang mengharuskannya memilih salah satu saja untuk ditempuh diantara 2 atau banyak pilihan yang sama berat . Bahkan bisa jadi dia mengalaminya berkali-kali, karena memang hidup ini penuh dengan pilihan.

Bicara tentang dilema di sepanjang umurku hingga saat ini, tampaknya tidak ada yang lebih berkesan daripada yang satu ini. Sebuah titik masa dimana aku mengalami penyakit yang muncul karena rasa cinta. Hingga aku dihadapkan pada pilihan sulit, apakah terus mencintai yang berisiko mengorbankan diriku atau berhenti.

Luka yang Tak Kunjung Sembuh

Saat itu aku sedang hamil 6 bulan. Dan cerita berawal dari sebuah sentilan di ujung jari manis kiriku yang entah kenapa tiba-tiba berdarah. Jika menilik dari bentuk lukanya yang berupa lubang sangat kecil dan tetes darah yang mengelembung satu per satu keluar, sepertinya lukanya berupa celah yang sangat kecil dan cukup dalam. Mungkin bekas tertusuk sesuatu yang aku tidak menyadarinya.

Aku pun membalutnya dengan plester luka. Dan ketika waktunya mengganti plester, ternyata lukanya belum sembuh. Kulit di sekitar luka itu begitu pucat dan berkerut. Rupanya aku terlalu erat membalutnya sehingga ujung jari ini tidak dialiri darah. Aku pun membiarkannya terbuka dulu agar darah kembali mengalir lancar ke ujung jari.

20150720_1747221

Tak lama kemudian, tiba-tiba luka ini berdarah lagi. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatnya kembali berdarah. Maka kembali kuplester dengan balutan yang lebih longgar dari sebelumnya. Dan saat tiba waktunya mengganti plester, luka yang tadinya berupa cekungan kecil berubah menjadi benjolan tipis begini.

20150730_1118271

Maka aku pun memeriksakannya ke klinik. Menurut dokter di sana, ini adalah akibat proses penutupan yang kurang sempurna. Luka yang seharusnya menutup rapi jadinya cuma tertutup gelembung tipis yang rentan pecah. Maka oleh dokter gelembung itu pun dipecah dengan harapan kembali terjadi proses penyembuhan yang semestinya.

Darah segar pun mengalir deras dari ujung jariku. Dokter tampak sangat kaget. Dengan sigap Beliau membalut luka memakai kasa dan mengorbankan sebuah sarung tangan latex untuk dipotong salah satu jarinya dan disarungkan ke jariku agar darah tidak merembes kemana-mana. Beliau menyarankan aku untuk tes darah dan berkonsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam. Jika semuanya normal, aku bisa minta tolong ke UGD untuk menjahit lukaku.

Hasil tes darahku semuanya normal. Kadar gula, trombosit, laju darah dan semua yang terkait dengannya dalam keadaan normal. Dokter spesialis penyakit dalam tampak bingung melihat lukaku. Karena seharusnya luka di ujung jari itu sangat mudah dihentikan. Pembuluh darah di sana sangat halus sehingga cukup ditepuk dengan kasa saja pendarahannya akan berhenti. Maka Beliau pun membalut kembali lukaku dan merujuk ke UGD.

Di UGD, kembali para dokter bingung. Dugaan awalnya adalah hemangioma dan aku diminta konsultasi ke dokter bedah yang baru praktik sore nanti. Lelahnya berputar ke sana ke mari, baterai telepon genggam yang habis dan lupa membawa charger, serta anak-anak yang kutinggal di rumah dari tadi, membuatku memilih untuk pulang dan beristirahat dulu.

Di rumah, Suami berkonsultasi dengan kakaknya yang berprofesi sebagai dokter penyakit dalam. Sang Kakak menyarankan kami datang ke kotanya di Jawa Timur untuk menegakkan diagnosis. Mudik bukanlah perkara mudah. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan Suami di sini. Kami memilih kembali observasi sambil berharap kali ini lukanya bisa sembuh.

Kucoba Menjahit Lukaku

Ternyata tidak. Esoknya, kembali kasa pembalut lukaku bernoda darah. Aku pun dilarikan ke UGD. Kali ini kami akan meminta lukanya dijahit saja, tidak sekadar dibalut. seperti saran dokter klinik tempat kami pertama berkonsultasi.. Dan memang itulah keputusan dokter jaga saat itu. Setelah merasakan perihnya obat bius yang disuntikkan di ujung jari, lukaku pun dijahit dan kembali ditutup kasa.

Beberapa hari kemudian, kami agak bernafas lega melihat kasa yang tetap bersih, tak ada tetesan darah lagi. Malam itu kami sekeluarga pun pergi ke Pasar Baru mencari buku untuk penunjang belajar anak-anak. Malangnya, ujung jariku kembali terantuk pintu bajaj saat hendak membukanya untuk turun. Rasa sakitnya benar-benar luar biasa. Aku hanya berharap agar jahitannya tak terbuka lagi. Aku memilih beristirahat di kafetaria toko buku sambil mengisi perut dan menelan sebutir obat penahan nyeri. Sementara Suami dan anak-anak berkeliling memilih buku.

Kuposisikan ujung jari untuk tetap mengarah ke atas untuk mengurangi pendarahan. Selain itu, aku berusaha untuk tetap tenang di tengah rasa perihnya. Karena rasa cemas akan memicu darah lebih deras mengalir. Tak mudah memang. Perlahan namun pasti, kulihat rembesan warna merah mulai mewarnai kasa. Ya, jariku terluka lagi. Aku tidak bisa begitu saja memberitahukannya ke Suami yang entah dimana berkeliling di tengah toko buku yang luas dan berlantai 2. Anakku yang terkecil sedang berbaring tidur di kursi kafe sehingga aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Menggendongnya sambil mencari Suami pun aku tak sanggup.

Akhirnya Suami dan anak-anak datang juga. Segera aku minta dia membeli kasa baru. Ternyata, apotek sekitar situ sudah tutup semua karena memang waktu menunjukkan hampir jam 9 malam. Kafetaria ini pun sudah mulai diberesi. Syukurlah, satpamnya berinisiatif untuk mencarikan di kotak P3K kantor. Aku pun membersihkan lukaku yang tampak lebih lebar dari sebelumnya dan membalutnya kembali dengan kasa bersih.

Setelah mengantar anak-anak pulang, aku dibawa Suami ke UGD. Saat kasa dibuka, kembali muncul gelembung tipis yang lebih besar. Dokter hanya bisa membalut kembali dengan kasa yang baru dan aku pun dirujuk ke poli bedah untuk memastikan adanya dugaan tumor, karena karakteristik lukaku yang tak bisa sembuh. Fiuh, ternyata akhirnya harus ke dokter bedah juga. Sempat ada insiden lagi waktu baru saja keluar dari pintu UGD. Ujung jariku terbentur bagian belakang motor saat akan menaikinya untuk pulang. Kembali aku masuk ruang UGD untuk mengganti kasa bernoda merah itu dengan kasa yang baru.

Inilah Vonis Sang Dokter Bedah

Esoknya, begitu luka itu dibuka oleh dokter bedah, kondisinya sudah semakin parah. Kali ini bukan hanya selapis gelembung yang tampak keluar dari lokasi luka, melainkan sebentuk daging seperti buah srikaya yang permukaannya berupa gerombolan bulatan-bulatan kecil dengan benang jahitan yang melekat namun telah terangkat lepas dari kulit . Bongkahan daging itu telah merusak setengah ruas atas jariku.

Dokter bedah pun memanggil Suami dan menyatakan bahwa ini adalah tumor. Karena penyebab awal lukanya tidak diketahui, ada kekawatiran luka ini terjadi dengan sendirinya yang itu berpotensi ganas. Pemicu penyembuhan luka yang tidak sempurna ini bisa jadi karena hormon pertumbuhan yang sedang sangat aktif dalam tubuhku lantaran sedang hamil. Hormon yang berguna untuk tumbuh kembang janinku itu membuat proses penutupan luka berlangsung melampaui batas tidak hanya meratakan namun justru membuat gelembung untuk menutupnya.

Satu ruas jariku itu harus dipotong untuk membersihkan hingga ke akarnya. Nantinya potongan itu akan diperiksa untuk memastikan apakah dia merupakan tumor jinak atau ganas. Dokter mempersilahkan kami untuk berpikir dulu sebelum menyetujuinya.

Tampak wajah Suami begitu gundah memikirkan vonis dari dokter bedah. Dalam perjalanan pulang di atas motor, dapat kulihat melalui spion Beliau berkali-kali mengibaskan kepalanya untuk menghalau genangan air di kedua matanya.

Aku bisa memahami betapa kegelisahan dari masa lalu begitu menghantuinya saat itu. Karena ayahnya pun mengalami luka di jari akibat kuku yang terpotong terlalu dalam dan tak kunjung sembuh. Luka itu dinyatakan sebagai tumor dan kemudian dipotong. Namun rupanya kegiatan memotong itu justru membuat luka semakin parah hingga menjadi kanker ganas yang menjalar dan merenggut nyawa Sang Ayah. Saat itu usia Suami baru 7 tahun.

Sesampainya di rumah, kembali Suami berkonsultasi dengan kakaknya. Dia masih berharap mungkin ada alternatif lain untuk menyembuhkan selain memotong jariku. Mengingat memotong tumor kadang dapat memperparah keadaan. Kakaknya menyarankan kami datang ke rumah sakitnya, agar dapat berkonsultasi bersama dengan para dokter spesialis yang berkaitan.

Suami masih menimbang-nimbang pilihan untuk mudik sambil terus menyelesaikan tugas kerjanya di depan komputer. Hingga malamnya, kembali kasa itu bernoda. Suami pun mantap memesan tiket pesawat pertama untuk kami sekeluarga terbang ke Surabaya. Taksi ditelepon untuk siap menjemput kami jam 1 malam ke bandara. Dan kami pun mendarat saat matahari terbit.

20150825_0511501

Operasi Itu di Kota Patria

Setelah menitipkan 3 anak ke orangtuaku yang tinggalnya tak jauh dari bandara, kami bertiga dengan anak terkecil menempuh perjalanan ke Blitar dengan bus. Kami beristirahat seharian di rumah ipar. Esoknya, kami ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter bedah.

Usai bertanya dan melihat kondisi lukaku, dokter tersebut bersama iparku sepakat bahwa itu memang tumor dan harus dipotong. Agar tidak terlalu banyak banyak bagian yang dipotong, dokter bedah itu memiliki teknik tersendiri cara memotong dan menjahitnya sehingga cukup separuh ruas jari yang diambil untuk dites di laboratorium guna mengetahui jinak atau ganasnya. Untuk sementara, keduanya menenangkan kami agar tidak dulu berpikir terlampau jauh terhadap berbagai kemungkinan buruk. Semua berharap agar ini hanyalah tumor jinak yang biasa disebut granuloma piogenik.

Itulah pengalaman pertamaku berbaring di atas meja operasi. Jaringan tumor itu segera dibawa ke laboratorium. Beberapa hari kemudian lukanya tampak menutup dengan baik walau sebagian masih ada yang basah. Jaringan yang terpotong pun menunjukkan tanda pertumbuhan sel baru. Aku diminta memperbanyak konsumsi albumin dalam putih telur untuk mempercepat proses penyembuhan.

The Real Roller Coaster!

Karena kesibukan Suami, kami harus segera kembali pulang dan meminta hasil lab dikirim via WA saja. Syukurlah, hasil tes menyatakan bahwa ini adalah tumor jinak. Kami hanya perlu fokus untuk menyembuhkan luka bekas operasi saja.

Seminggu setelah operasi, kami kembali kontrol ke dokter bedah yang dulu kami temui. Ternyata bagian yang masih basah itu belum juga pulih. Dari 10 jahitan, hanya 5 jahitan yang dilepas. Dan aku diminta untuk kontrol lagi seminggu kemudian.

Minggu berikutnya, kami memilih untuk berkonsultasi ke dokter bedah yang lain agar mendapat opini kedua. Ternyata, gelembung itu kembali muncul! Kali ini tidak setipis sebelumnya. Banyak pikiran berkecamuk dalam otakku. Apakah ini benar-benar ganas? Apakah aku harus operasi lagi? Bagaimana operasi kali ini, melihat posisi gelembungnya yang lebih menepi mendekati tulang?

Sang Dokter menjawab semua pertanyaanku. Beliau akan melihat apakah gelembung ini akan membesar dan mudah pecah seperti sebelumnya. Jika tidak, maka operasi bisa ditunda hingga bayi telah lahir. Karena operasi kali ini sepertinya harus dengan bius total berhubung posisi gelembung yang mendekati tulang sehingga tulang di ruas atas jariku itu harus sedikit terpotong. Beliau menyatakan bahwa janin 7 bulan bisa dinyatakan aman terhadap bius total. Namun tentu saja jika masih memungkinkan, lebih baik dihindari. Dokter memintaku untuk kembali kontrol seminggu lagi melihat kondisi gelembung sekaligus melepas jahitan yang tersisa.

Aku berharap penuh agar gelembung ini benar-benar jinak. Alhamdulillah, terkabul  Gelembung itu sama seperti seminggu sebelumnya. Jahitan pun dilepas dan luka tidak perlu ditutup lagi.

Selanjutnya, aku hanya berharap cemas tentang keadaan gelembung ini setelah melahirkan. Akankah aku menjalani operasi lagi untuk menghilangkannya? Mengingat sakitnya luka paska operasi, rasanya aku tak mau lagi mengalaminya. Jika gelembung ini tetap seperti ini, biarlah aku memilikinya sampai kapan pun. Toh, tidak terlalu mengganggu dan tidak berbahaya, hanya kurang indah dipandang saja.

Tapi rupanya aku tidak bisa begitu saja tenang dengan keputusanku. Membaca berbagai artikel tentang granuloma piogenik di masa kehamilan, ternyata kondisi akhirnya bisa sangat bervariasi. Ada yang mengecil sendiri hingga sembuh setelah melahirkan, namun banyak juga yang tetap memilikinya hingga dilakukan operasi untuk mengangkatnya. Bahkan ada yang kondisinya lebih parah setelah melahirkan. Diduga, hal itu disebabkan oleh aktivitas menyusui yang kembali mengaktifkan hormon pertumbuhan dalam tubuh ibu. Karena itu, sebagian dokter bedah menyarankan penderita granuloma piogenik yang baru melahirkan untuk tidak menyusui agar kondisi granulomanya tidak berubah menjadi ganas.

Ya Allah, lemas rasanya. Apa iya aku tidak akan bisa menyusui bayiku nanti? Demi agar tetap sehat dan terhindar dari risiko kanker? Mana yang harus kupilih? tetap menyusui untuk memberinya modal kesehatan sejak awal dengan kemungkinan tubuhku digerogoti kanker, ataukah memilih tidak menyusui agar aku tetap bisa merawatnya dengan tubuh yang sehat dan masa yang lebih panjang? Dari sejak luka ini muncul, baru kali ini aku benar-benar merasakan dilema. Aku bingung menentukan cara mencintai yang terbaik untuk anakku. Mana yang lebih dibutuhkan bayiku? ASI atau ibu yang sehat? Bagaimana dengan Suami dan anak-anak yang lain? Apakah menyusui adalah pilihan yang terbaik untuk mereka?

Berhari-hari aku merenung dan memohon petunjuk-Nya. Akhirnya hatiku mantap pada satu pilihan. Bagiku, aku hanya perlu tahu bahwa ada ibu hamil yang mengalami granuloma piogenik tetap menyusui bayinya dan baik-baik saja. Aku hanya butuh satu cerita itu saja, dan itu ada. Maka aku tahu, bahwa kesempatan itu pun bisa terjadi padaku. Aku memilih tetap menyusui bayiku nanti, karena itu yang pertama kali ia butuhkan dalam hidupnya. Walaupun misal nantinya membuat gelembung itu membesar dan merusak jariku, atau mungkin lebih. Mendapatkan cairan emas selama beberapa bulan, beberapa minggu bahkan hanya beberapa hari, jauh lebih berharga bagi bayiku daripada tidak sama sekali. Tenanglah hatiku menunggu kelahiran. Sambil terus berdoa agar granuloma ini benar-benar bisa sembuh total agar tidak ada lagi kecemasan.

Bayiku Lahir

Sebagaimana rencana awal, aku pun menyusui bayiku sejak jam pertama kelahirannya. Kunikmati masa itu sebagaimana saat aku menyusui kakak-kakaknya dulu. Kuamati tidak ada perubahan yang mencemaskan pada bekas lukaku. Justru jariku semakin pulih ke bentuk semula, sebuah hal yang tidak pernah diduga sebelumnya oleh setiap dokter yang dulu aku temui. Mereka semua menyatakan bahwa jariku tidak akan bisa kembali utuh. Hilang separuh jari, yang penting sembuh dan lukanya menutup sempurna. Ini kondisi jariku sebulan setelah melahirkan. Tampak gelembung merah yang padat di ujungnya. Anda percaya jari manis ini pernah teriris separuh ruas atasnya?

12373292_10207299567041017_1516364900101766429_n

Semakin lama, gelembung itu makin mengeras dan mengecil. Hingga di usia bayi yang 11 bulan, ukurannya hanya sebesar biji selasih. Menakjubkan ya?

20161013_1533041

Leganya, pilihanku memberi hasil sesuai harapan. Sebuah cerita istimewa menanti hadirnya seorang bayi yang istimewa ini aku ikutsertakan dalam Lomba Blog “DILEMA.” Dia telah mengajariku banyak hal. Memiliki guru kehidupan sepertinya, siapa yang akan berani mengeluh?

13226811_10208566104063651_8134054513797379285_n

Advertisements

8 thoughts on “Kala Cinta Mengancam Akan Menghabisiku

  1. Hadeuh…ngeri bacanya.. soalnya sambil bayangin.. jadi takut juga kalau ada luka yang tidak disadari kayak gitu. ihhh, serammm… yang bagian jahit sendiri aku skip bacanya, karena bayanginnya ngeri,aku nggak berani jahit sendiri, terbayang jarumnya yang tajam,,ihhhh.. langsung begidig deh

    Like

  2. Alhamdulillah y mba sembuh sendiri. Saya jg d diagnosis granuloma piogenik d kening karena jerawat yg d pencet dan terluka lagi karena tergaruk. Solusi dari dokter di kauter setelah melahirkan. Setelah baca blog mba saya jd lebih sedikit tenang.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s