Kemandirian, Kado Terbaik Untukku Tahun Ini

hb

Pagi itu, Google langsung memberiku ucapan selamat dengan tampilan istimewa. Ya, itu memang hari lahirku. Dan aku tidak menyangka mendapatkan kado yang manis dari anakku.

Usianya 3,5 tahun saat itu. Sudah beberapa hari dapat bertahan tanpa ASI. Entah karena sibuk bermain, puas dengan menu yang disediakan, ketiduran saat menunggu adik bayinya selesai minum ASI atau berbagai alasan lainnya. Namun setiap ada kesempatan melihatku sedikit menganggur, dia akan menatapku dengan penuh harap. Dan jika kutanya, dia  akan bertanya, “Boleh nggak, minta ASI?” Jika aku mempengaruhinya untuk tidak lagi minum ASI karena sudah besar, dia akan menyatakan ketidaksetujuannya dan mengungkapkan banyak alasan. Yang merasa masih bayi lah, yang merasa sudah sabar menunggu giliran lah dll.

13344738_10208646651197279_9173542774409948738_n (1)

Pagi itu, kembali dia melihatku agak santai. Dengan tatapan khasnya aku sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. “Ada apa, Mas?”

“Mmm… Boleh nggak aku minta ASI?” tanyanya. Kemudian, kembali aku menawarkannya untuk berhenti ASI karena dia sudah besar. Ibunya sudah cukup lelah menyusui 2 anak. Jadi sebaiknya dia sebagai anak yang lebih besar fokus untuk memenuhi asupannya dari bahan makanan dan minuman lain yang lebih banyak pilihannya dibandingkan Adik Bayi.

Tak disangka, kali ini dia tampak lebih tenang sambil berpikir dan mengulang-ulang apa yang aku sampaikan. Aku pun mengiyakan dan membenarkan. Dan akhirnya, momen itu tibalah. Dia menyetujui untuk tidak lagi minum ASI.

Rasa hatiku luar biasa mendengarnya. Aku memastikannya dengan bertanya, apakah nanti suatu saat dia akan minta ASI lagi? Bagaimana nanti kalau dia merasa lapar? Bagaimana kalau merasa haus? Bagaimana kalau mengantuk? Dan semua dia jawab dengan tenang penuh percaya diri bahwa dia bisa mengatasi semua itu. Aku pun memeluk dan menciumnya sebagai penghargaan atas keputusannya. Aku tanya apakah hadiah yang dia inginkan atas prestasinya ini? Dia hanya senyum-senyum sambil berkata, “Mmm… Apa ya? Terserah deh. Nggak usah aja.” Ah, meleleh rasanya hatiku melihat kemantapan pilihannya. Aku pun memintanya untuk mengabarkan hal ini pada ayahnya.

Sorenya, dia mulai demam tinggi dan tampak lemas. Memang sejak beberapa hari sebelum dia batuk pilek dan suhu tubuhnya hangat. Namun dia masih aktif bermain. Mengetahui suhu tubuhnya yang meninggi dan dia mulai kehilangan gairah beraktivitas membuatku merasa bersalah. Mengapa beberapa hari ini aku kurang memperhatikannya?Apakah dia sakit karena selama ini tidak mendapat ASI? Apa sebaiknya aku kembali memberinya ASI agar dia segera pulih?

Aku memandangnya dengan penuh iba. Tampak dia berusaha tegar. Berusaha makan, minum dan istirahat walau terasa begitu sulit baginya. Obat penurun demam pun akhirnya dia tolak setelah kesulitan menelan. Dia juga merasa risih dikompres. Duh, kalau begini bagaimana cara sembuhnya? Tak sekali pun dia merengek minta ASI. Dia justru mengingatkanku untuk memberikan ke adiknya saat Sang Bayi rewel. Kemudian dia memandangi adiknya yang sedang minum ASI itu dengan tersenyum dan tatapan yang kuyu.

Empat hari kemudian dia masih saja demam tinggi. Ruam merah mulaimuncul di wajahnya kemudian makin merata ke seluruh tubuh. Campak. Ya, inilah yang ternyata sedang diderita putraku. Dia masih saja berusaha menambah porsi makan, minum dan tidurnya dengan kepayahan. Jelas sekali dia tidak ingin manja. Namun segala penolakannya untuk ini dan itu adalah karena tubuhnya yang sedang tidak nyaman. Setiap kali kami berhasil mengungkapkan apa yang diinginkan, kami segera memenuhinya. Makanan, minuman, mainan… Walau akhirnya hanya dinikmati sebentar untuk kemudian ditinggal tidur dan tidur.

Syukurlah akhirnya dia demamnya reda sejak 4 hari ruamnya muncul. Perlahan dia nafsu makan dan bermainnya mulai membaik walau ruamnya masih tampak. Dia bersabar hanya bermain di rumah hingga ruamnya bersih dulu.

Ah, bangganya aku kepadamu, Nak. Betapa tegarnya kamu dalam kemandirianmu yang baru. Bahkan saat langsung menghadapi cobaan yang tak ringan, engkau tetap melewatinya dengan tabah.

Kalau sudah begini, tak adil rasanya jika aku tidak memberikan penghargaan untuknya. Walau dia pernah menolak hadiah untuk itu, namun setoples Nutella tentu tak akan ditolaknya. Apalagi sekarang sedang diskon besar lho di Lazada. Diskonnya 76%!  Kita bisa mendapatkan diskonnya langsung tanpa perlu memasukkan kode khusus Voucher Lazada dalam transaksi.

Diskon 76% di Lazada! (Sumber gambar: nutella.com)

Mau ikut order juga di Lazada? Selain promo diskon Nutella, tentu saja masih banyak promo yang bertebaran di Lazada. Jika Anda belum pernah bertransaksi di sana, ada diskon 30% untuk pelanggan baru dan diskon 15% untuk pelanggan lama Lazada yang juga terdaftar sebagai anggota Excite Shop. Yuk, intip daftar diskonnya melalui Shop Page Lazada. Pasti ada beberapa yang cocok dengan kebutuhan Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s