Stasiun Bogor, Stasiun Tercinta yang Tak Ingin Terlunta

Bisa dikatakan bahwa Bogor merupakan kota yang kaya sejarah. Begitu banyak bangunan dan situs peninggalan era kolonial yang tersebar di kota ini. Bahkan tiap jengkal jalannya pun punya cerita. Dinas Kebudayaan dan Parekraf Kota Bogor telah mendaftarkan 487 benda untuk dimasukkan ke dalam daftar cagar budaya. Cagar budaya yang diajukan meliputi lukisan, alat jahit, mesin pemotong, keramik, lampu maupun bangunan dari sekitar 600 cagar budaya yang telah didata sejak Oktober 2014 hingga Maret 2015.

Cagar Budaya, Apa Itu?

Menurut UU no 5 tahun 1992 Bab 1 pasal 1 tentang Benda Cagar Budaya, disebutkan bahwa benda cagar budaya adalah:

1. Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagian atau sisa sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun , serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

2. Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Sejarah Stasiun Bogor

Mencermati definisi di atas, maka dari sisi usia, Stasiun Bogor tentu layak untuk dimasukkan ke dalam salah satu cagar budaya. Sejarah mencatat bahwa stasiun kereta api di Bogor dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS-Perusahaan Kereta Api Negara Belanda) pada tahun 1872 sebagai titik akhir jalur kereta api Batavia-Weltevreden-Depok-Buitenzorg dan dibuka untuk umum sejak 31 Januari 1873. Buitenzorg adalah nama untuk Kota Bogor pada zaman dulu yang artinya “tanpa kecemasan,” karena kota ini sering dijadikan tujuan untuk berlibur.

Untuk memenuhi kebutuhan transportasi Bogor-Jakarta-Bogor yang semakin meningkat, dibangunlah stasiun baru sejak tahun 1875 dan baru selesai pada tahun 1881. Angka tahun ini tertera di atas salah satu gerbang stasiun yang baru.

Sumber: info-bogor.com
Sumber: info-bogor.com

David Marschalk adalah orang yang turut merintis pembangunan stasiun baru Buitenzorg ini. Sebagai penghargaan atas jasanya, pada salah satu ruangan VIP di stasiun ini terdapat sebuah prasasti berbentuk silinder bertuliskan “Hulde Blyk aan den Inp Celeur Generaal Chef Van den Diensi der Staats Spoor Wegen op Java D Maarschalk by Zyn af threden op 16 November 1880 van het Personeel dar Staals Spoor Wegen.” Prasasti berbahan marmer itu sebagai ucapan selamat pagi dari karyawan terhadap David Marschalk yang memasuki masa pensiun. Juga untuk penyemangat bagi seluruh penumpang yang akan beraktivitas dan mencari nafkah di ibukota menggunakan sarana transportasi kereta api.

Sebagai gambaran garis besar sejarah dari Stasiun Bogor, kita bisa menyimak video informasi berikut ini:

Arsitektur Stasiun Bogor

Sejak pertama kali menjejakkan kaki pada bangunan utama stasiun ini, aku langsung dapat menebak bahwa ini adalah bangunan lama bergaya Eropa, tepatnya gaya arsitektur Indische Empire. Indische Empire merupakan gaya arsitektur era kolonial Belanda di Indonesia yang berkembang sekitar abad 18 dan 19. Bangunan dengan gaya ini merupakan aliran Neoklasik yang saat itu populer di Eropa dan diadaptasi dengan kondisi iklim dan bahan bangunan yang tersedia di Indonesia.

Gaya arsitektur ini ditandai dengan teras depan yang luas, gevel depan yang menonjol dan kolom-kolom gaya Yunani yang menjulang ke atas. Gevel (dinding segitiga untuk menyokong penutup atap).dapat dilihat pada bagian depan gerbang stasiun yang bertuliskan angka tahun 1881 di foto sebelumnya. Di sana juga terdapat relung-relung dengan atap tinggi.

Sumber: bogohkabogor.kotabogor.go.id

Sedikit berbeda dengan bagian lobi dari stasiun ini yang lebih bergaya Neoklasik murni. Gaya ini terinspirasi oleh reruntuhan arsitektur Yunani Klasik dan terutama Romawi dengan ciri-ciri dinding yang tinggi, pintu dan jendela yang tinggi besar, busur bagian atas jendela yang melengkung dan tentu saja kolom dorik serta gavel pada serambi depan dengan dilengkapi halaman luas sebagaimana gaya Indische Empire.

Desain atap kanopi membentang lebar dengan rangka baja dan penutup atapnya berupa besi bergelombang. Atapnya sendiri merupakan atap pelana berbentuk segitiga dengan gerbang yang melengkung.

Sumber: kemendikbud.go.id
Sumber: kemendikbud.go.id

Jika kita perhatikan secara saksama, tampaklah ragam hiasan dengan berbagai motif yang diterapkan di stasiun ini.  Ada motif geometrik awan, kaki-kaki singa dan relung-relung pada bagian lantai. Lantainya masih asli dan sebagian diganti keramik.

Pada dinding plesteran terdapat hiasan bergaris serta akhiran cornice, yaitu hiasan pada tepian dan sudut bagian atas dinding. Polanya berupa lekukan-lekukan yang dinamakan guttae untuk membingkai atap jurai di atasnya.

Sumber: coklatdanhujan.wordpress.com
Sumber: coklatdanhujan.wordpress.com

Stasiun ini memiliki 2 lantai. Kedua lantai tersebut dihubungkan oleh tangga lebar dari kayu yang berbentuk ulir dengan desain yang masih asli.

Sumber: coklatdanhujan.wordpress.com
Sumber: coklatdanhujan.wordpress.com

Sebagaimana kebanyakan stasiun, Stasiun Bogor juga memiliki hall beratap tinggi untuk loket, administrasi, operasional, tempat shalat, kantin dan toilet. Secara umum, desain asli Stasiun Bogor ini memang masih utuh dan lestari.

Mengapa Aku Cinta Stasiun Ini?

Karena setiap aku berada di sini, aku seperti masuk ke dalam dimensi waktu yang berbaur antara masa lalu dan masa kini. Terpaan suasana klasik nan romantis di stasiun ini sulit sekali ditepis. Stasiun ini tergolong megah bila dibandingkan dengan stasiun-stasiun yang ada di jalur Batavia-Buitenzorg. Jika kami sekeluarga tak punya tujuan khusus sekadar ingin jalan-jalan, kami cenderung memilih ke arah Bogor daripada ke arah sebaliknya dari Stasiun Citayam. Selain karena biasanya lebih sepi penumpang, juga karena rindu pada keindahan arsitektur bangunan stasiunnya serta sapaan pemandangan Gunung Salak yang menjulang cantik di bagian selatannya. Benar-benar pengalaman tentang stasiun yang membuatku jatuh hati dan ingin kembali ke sini dan ke sini lagi.

Sumber: gembolransel.com
Sumber: gembolransel.com

Pantas saja jika kesatuan nilai seni bangunannya berpagar keindahan pemandangan ini dinobatkan menjadi salah satu cagar budaya di Indonesia. Penataannya dari hari ke hari tanpa merusak unsur klasik yang menjiwai bangunan ini justru makin memancarkan keasriannya dan menyempurnakan rasa nyaman dalam menikmati fasilitas sambil mengenang cerita di baliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s