Ajining Diri Saka Lathi, Pusaka Yang Patut Dicermati

tugu
Sumber: Google Street View

Jogja Heritage (Pusaka Jogja) sebagai bagian dari kota lama dunia sangat memukau bagi turis mancanegara karena ragam kekayaannya yang luar biasa jumlah dan jenisnya. Kota Yogyakarta juga tercatat sebagai anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI/Indonesian Heritage Cities Network). Kerjasama dengan berbagai pihak dalam pengelolaan cagar budaya seperti keikutsertaan Kota Yogyakarta dalam JKPI bersama 48 kota lainnya merupakan komitmen dalam pelestarian cagar budaya. Demikianlah sebagaimana yang disampaikan oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti dalam situs resminya.

Potensi pusaka yang dimiliki kota Yogyakarta meliputi kebendaan (tangible) maupun non-kebendaan (intangible). Contoh pusaka warisan budaya yang bersifat kebendaan, misalnya: bangunan, perlengkapan dan peralatan, kerajinan tangan, dll. Sedangkan pusaka warisan budaya yang tidak berwujud  kebendaan bisa berupa bahasa, gaya hidup, legenda, norma dan sistem kemasyarakatan.

Bahasa Jawa, Salah Satu Warisan Budaya 

Sumber: tempo.co
Sumber: tempo.co

Pulau Jawa merupakan pulau yang terpadat jumlah penduduknya di Indonesia. Mungkin itulah penyebab banyaknya pengguna Bahasa Jawa di negara ini, kira-kira 80 juta orang. Selain di Indonesia, ternyata Bahasa Jawa juga banyak digunakan di negara lain seperti Suriname, Singapura, Malaysia, Belanda Kaledonia Baru. Bahasa Jawa diperkirakan menduduki peringkat ke-12 dari daftar bahasa ibu yang terpopuler di dunia.

Sebagai salah satu pusaka warisan budaya yang bersifat non-kebendaan, Bahasa Jawa merupakan pengejawantahan nyata dari karakter Suku Jawa yang sopan, rendah hati dan sangat menjaga etika, termasuk ketika berbicara. Hal ini tercermin dalam salah satu penggalan pepatah Jawa, ajining diri saka lathi. Artinya, seseorang dihargai karena kesantunan bahasanya. Kemampuan memilih kata yang pantas dengan lawan bicara sangat diperhatikan dalam berbahasa Jawa.

Bahasa Jawa adalah bahasa yang berstrata. Terdapat berbagai tingkatan yang disesuaikan dengan objek yang diajak berbicara. Tingkat tutur ini merupakan ciri khas yang tidak setiap bahasa di dunia ini memilikinya. Secara umum, Bahasa Jawa dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu: ngoko, madya dan krama.

Bahasa Ngoko

Bahasa Ngoko digunakan sebagai tanda keakraban. Gaya bahasa ini dipakai untuk obrolan dengan orang-orang yang berstatus sosial sama/ lebih rendah sebagai bentuk penghargaan dengan mengajaknya berbincang dalam suasana yang akrab. Untuk bentuk hubungan yang akrab namun tetap saling menghormati, dapat digunakan bahasa ngoko halus.

Bahasa Madya

Tingkat tutur madya menceminkan rasa sopan dengan kadar sedang. Bahasa Madya awalnya termasuk Bahasa Krama yang kemudian mengalami kolokialisasi, yaitu penurunan strata dari bahasa formal menjadi bahasa sehari-hari. Bahasa ini digunakan untuk berbincang dengan orang yang tidak begitu disegani atau tidak sangat dihormati.

Bahasa Krama

Tingkat tutur ini mencerminkan sikap penuh sopan santun. Digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya atau belum dikenal. Biasanya disertai dengan intonasi suara yang lembut, hati-hati dan pelan serta bahasa tubuh sedikit membungkuk sebagai bentuk penghargaan.

Aksara Jawa, Penjaga Filosofi Bahasa Jawa

Sumber: tribunnews.com
Sumber: tribunnews.com

Penggunaan Bahasa Jawa terasa cukup kental di Yogyakarta. Baik itu terdengar dalam percakapan sehari-hari penduduknya, maupun terpampang dalam bentuk tulisan pada papan nama jalan atau bangunan. Hal ini bisa kita temui misalnya di salah satu kawasan cagar budaya, Malioboro. Sayangnya, kebanyakan generasi muda sekarang tidak dapat membaca Aksara Jawa yang biasa disebut hanacaraka tersebut.

Padahal, Bahasa Jawa sangat erat kaitannya dengan Huruf Jawa. Penulisan Bahasa Jawa yang dilakukan begitu saja ke dalam ejaan Bahasa indonesia dapat mendistorsi pengucapan dan makna yang sebenarnya. Misalnya penulisan yang sama untuk tetel (jadah, kudapan dari ketan) dan tetel (sisa daging dalam potongan kecil). Saat ini, telah banyak inisiatif untuk kembali mengakrabkan generasi muda dengan Huruf Jawa. Usaha ini telah dirintis baik oleh pemerintah daerah dari berbagai tingkat maupun masyarakat secara independen. Semoga kekayaan warisan pusaka budaya yang berharga ini tidak hilang ditelan zaman.

Advertisements

4 thoughts on “Ajining Diri Saka Lathi, Pusaka Yang Patut Dicermati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s