Slow Travel, Show The Deepest Level

Jika ada orang yang tampak stres, lelah, tidak dapat berpikir jernih, kurang bahagia dan sebagainya, seringkali celetukan yang muncul adalah menganggapnya “kurang piknik.” Pertanyaannya, benarkah setiap piknik dapat membuat seseorang lebih rileks, berenergi, berpikiran cemerlang dan bahagia? Bagaimana dengan orang-orang yang menyiapkan liburan sambil berebut tiket pesawat dan hotel, selama di lokasi berdesak-desakan karena membludaknya pelancong yang datang, terjebak macet di beberapa titik dan akhirnya pulang dengan kepayahan fisik, pikiran, perasaan dan dana beserta tumpukan pekerjaan yang telah setia menanti. Terasa familiar?

Ah, tidak mengapa. Yang penting sudah menapakkan kaki di berbagai destinasi wisata. Lalu mengabadikannya dan memasang foto-fotonya di media sosial. Benarkah ini yang kita butuhkan? Benarkah ini solusi dari segala kepenatan kita sehari-hari? Ataukah sebenarnya ini juga sebuah jenis beban tugas dalam bentuk lain? Beban untuk berlibur dan bersenang-senang? Sehingga kita perlu menjadwalkannya, menabung, berburu tiket dan hotel, memesan agen perjalanan yang menawarkan potongan harga terbesar untuk mengunjungi destinasi wisata terbanyak, menghasilkan foto di sana dan menunjukkannya di dunia maya? Bahkan untuk beristirahat pun kita harus menikmatinya dengan terburu-buru. Ada apa sebenarnya dengan zaman ini?

Bagaimana Jika Slow Traveling Saja?

Belakangan, muncul alternatif cara berlibur yang berkebalikan dengan tren liburan yang serba terburu-buru di masa kini. Sebutannya adalah slow traveling. Sebuah wacana untuk melambatkan ritme perjalanan kita selama berlibur. Sehingga kita memiliki kesempatan lebih banyak untuk menikmati proses dalam setiap jengkal tapak dan tangkapan pandang mata. Kita akan mendapatkan sebuah perjalanan yang lebih berkualitas, bukan sekadar hinggap ke banyak tempat tanpa arti.

Dulu, orang-orang bijak melakukan perjalanan untuk mendapatkan pengalaman, pengetahuan, pelajaran dan penghayatan baru. Itulah cara para petualang atau musafir memperoleh sifat bijaknya. Karena mereka menggali secara mendalam segala potensi kelokalan yang mereka temui. Mereka menikmati pemandangan alamnya, menghirup udaranya, menjejak tanahnya, menyentuh rumputnya, berlindung di bawah pohonnya, memandang langitnya dan mengenali satwanya. Pun berinteraksi dengan penduduknya. Mempelajari kebiasaan, budaya dan bahasanya. Mencicipi makanannya, merasakan tinggal dalam huniannya, ikut serta dalam aktivitas hariannya, memecahkan masalah yang dihadapi dan mencerap makna dari apa pun yang ada di lokasi tersebut.

Jika piknik semacam ini yang dijalankan oleh orang-orang yang jenuh dengan keseharian irama kota yang selalu bergegas, saya bisa pahami akan dapat menjadi solusi baginya dan menjadikannya lebih cerdas serta bahagia.

My Slow Traveling

Menjadi keluarga yang menyelenggarakan sekolah di rumah sebagai pendidikan untuk anak-anaknya, slow traveling ini tentu pilihan jitu bagi kami. Kami bahkan melakukan perjalanan ke tempat yang sama sekali baru tidak hanya dalam hitungan hari, melainkan tahun. Kami meninggalkan rumah pribadi di sebuah kota di wilayah Jawa Timur dan mengontrak di Bogor. Semata untuk menimba ilmu dan mempelajari berbagai hal baru di sini.

Anak-anak merasakan memiliki halaman yang luas dan bisa bermain hujan hampir setiap hari, tidak seperti di kota asal kami. Mereka juga berinteraksi dengan kebiasaan dan bahasa yang berbeda dari teman-temannya. Mereka mulai mengenal rasanya naik kereta api, pesawat terbang, KRL, ojek, angkot dan bajaj. Dimana sebelumnya kami sering keluar menggunakan kendaraan pribadi saja. Dan mereka pun mencicipi aneka makanan khas di daerah ini, yang tidak ada di daerah kami. Beberapa diantaranya adalah favorit kami.

10828127_10205693557211775_7564039233282660838_o
Halaman rumah di Bogor
Memaknai kegembiraan di tengah sedikit kerikil masalah transportasi
Memaknai kegembiraan di tengah sedikit kerikil masalah transportasi
Tahu bulat, salah satu kegemaran kami
Tahu bulat, salah satu kegemaran kami

Secara berkala, jika dana tersedia, kami mengunjungi berbagai sudut di kota ini dan sekitarnya agar dapat memaknai perjalanan dan mengambil ilmu apa pun di tempat tersebut. Jadwal belajar dan bekerja kami yang fleksibel sangat menguntungkan untuk menghindar dari kepadatan pengunjung dan kemacetan. Sehingga kami bisa lebih leluasa mengamati sekeliling lokasi tempat berlibur.

Mengenal aneka tanaman dan bersenang-senang di Kebun Raya
Mengenal aneka tanaman dan bersenang-senang di Kebun Raya
Mengunjungi curug-curug yang tersebar di kota ini
Mengunjungi curug-curug yang tersebar di kota ini
Semakin trampil berkuda di Kuntum Nurseries
Semakin terampil berkuda di Kuntum Nurseries
Mondok di bulan Ramadan dengan berbagai kegiatan di dalam dan luar ruangan, tak ketinggalan berinteraksi dengan alam juga.
Mondok di bulan Ramadan dengan berbagai kegiatan di dalam dan luar ruangan, tak ketinggalan berinteraksi dengan alam juga.

Slow Traveling untuk Yang Sibuk? Apa Bisa?

Mungkinkah kita bisa menjalani bentuk perjalanan seperti ini di tengah padatnya jadwal? Mengapa tidak? Ada jatah cuti yang dapat diambil. Daripada menuju ke 7 kota dari 3 negara dalam 1 benua selama 5 hari, carilah tempat tujuan yang suasananya sama sekali baru. Tinggallah di sana selama seminggu dan pelajari semuanya. Jika kita memiliki sanak saudara yang bermukim di daerah yang jauh, ini adalah saat yang tepat untuk mengunjunginya. Selain mencencang kembali tali darah, pasti ada banyak kepingan ilmu yang dapat ditimba di  sana.

Saat ini, sudah banyak destinasi wisata budaya di Indonesia. Biasanya berupa desa atau kampung wisata. Seperti kalau di Bogor ada Kampung Wisata Cinangneng, di Jakarta ada Setu Babakan, di Banten ada Desa Kanekes, Di Cianjur ada Desa Sarongge,  di Bandung ada Dago Pojok, di Sleman ada Desa Wisata Tanjung, di Sidoarjo ada Kampung Batik Jetis, di Bangka ada Kelekak Community, di Martapura ada Desa Pumpung, di Makassar ada Desa Lakkang, di Lombok ada Sembalun dan masih bertebaran daerah unik lainnya yang bisa kita kunjungi. Jika Anda bingung memulai slow traveling dari mana, Anda bisa memulainya dengan desa-desa wisata yang telah digarap oleh pemerintah untuk siap melayani para wisatawan. Namun saran saya, tetaplah luwes dalam waktu dan aktivitas di dalamnya. Bukalah selalu peluang untuk menikmati hal lain dari apa yang sudah ditawarkan oleh desa wisata yang ada. Karena setiap kita memiliki kebutuhan, rasa penasaran dan penghayatan yang berbeda untuk setiap fakta.

Selamat menempuh perjalanan terdalam Anda!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s