Aku Anak Jujur

Perkenalkan, aku adalah seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris kelas 1 SMP atau kelas VII. Dalam menyampaikan materi pelajaran sehari-hari yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan tugas harian, kami mendorong para siswa untuk bekerjasama dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya. “Karena manusia itu makhluk sosial dimana masing-masing memiliki kadar potensi yang berbeda. Dengan perbedaan kadar itulah kita terdorong untuk saling membantu dan bekerjasama. Jika kita semua memiliki ketrampilan membina kerjasama dengan orang lain, maka ini akan membentuk sebuah kekuatan bersama untuk bisa saling menopang dengan kelebihan masing-masing dan memperbaiki kekurangan yang lainnya,” demikianlah kira-kira.

14370148_10209542763199519_8040522601371337660_n
Suasana belajar di kelas kami

Kami sampaikan juga bahwa prinsip bekerjasama ini tentu tidak untuk diberlakukan pada waktu ulangan atau ujian. Saat itu mereka harus bekerja secara mandiri. Karena fungsi dari ulangan maupun ujian adalah untuk mengukur kemampuan pribadi.

Minggu lalu, aku mengadakan ulangan harian yang pertama untuk mereka. Ini adalah ulangan pertama bagi para siswa kelas 1 di sekolah ini. Guru mata pelajaran lain pun belum pernah memberikan ulangan sebelumnya.

Sebagai pengalaman pertama, para siswa sengaja ditinggal mengerjakan ulangannya di kelas tanpa pengawas. Karena memang kami hendak melatih kejujuran mereka sebagai pelajaran tambahan yang tidak.tampak dalam buku teori namun harus ditanamkan ke dalam benak dan kebiasaan anak didik sehari-hari.

Setelah semua jawaban mereka dikumpulkan, aku pun memeriksanya satu per satu. Aku hanya tersenyum-senyum membaca jawaban mereka. Banyak yang benar, ada juga yang salah. Wajar saja. Nilai yang mereka dapat pun cukup menggambarkan penguasaan mereka masing-masing terhadap materi pelajaran selama ini. Aku menjadikan catatan penting untuk soal-soal yang kebanyakan dijawab salah oleh para siswa. Menunjukkan ada hal yang perlu kuperbaiki dalam menyampaikan materi agar lebih mudah dipahami.

Hingga ketika sampai pada lembar jawaban esai salah satu siswa, aku cukup terhenyak. Mengapa jawabannya mirip dengan jawaban esai dari salah satu temannya yang sudah kuperiksa sebelumnya? Padahal soal esai yang diberikan sangat terbuka untuk dijawab dengan apa saja sesuai keadaan mereka masing-masing. Apakah diantara mereka ada yang mencontek? Kutarik lagi lembar jawaban teman yang dimaksud. Kubandingkan. Ternyata memang mirip sekali. Duh, sedihnya aku mengetahui ada siswa yang masih mengizinkan dirinya berbuat curang. Lebih sedih lagi ketika aku memeriksa jawaban dari siswa-siswa berikutnya. Makin banyak saja kutemukan kata-kata yang sama pada lembar jawaban esai mereka.

20160908_04391111
Contoh sepasang lembar ulangan yang teridentifikasi memiliki jawaban mirip

20160908_03563021

Setelah kukelompokkan jawaban-jawaban yang sama itu, aku berusaha membaca polanya. Kira-kira siapa saja yang mencontek dan siapa yang dicontek. Kemudian hal ini pun dilaporkan kepada Kepala Sekolah untuk ditindaklanjuti.

Hari itu juga Kepala Sekolah mengumpulkan seluruh siswa kelas 1. “Kalian tahu mengapa kalian dikumpulkan sekarang?” tanya Beliau. Para siswa saling memandang satu sama lain dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Kalian tahu ada kesalahan apa yang terjadi hari ini?” tanya Kepala Sekolah lagi.

Seorang siswa pun langsung menyahut, “Wah, masalah mencontek ini. Ada yang mencontek!”

“Betul. Bagi yang merasa tidak mencontek dan tidak pula memberi contekan saat ulangan tadi, silakan angkat tangan!” pinta Kepala Sekolah. Ada 4 anak yang tidak mengangkat tangannya. Hmm… Jumlah yang lebih sedikit dari perkiraan kami.

Kepala Sekolah pun memperingatkan, “Yang telah mengaku mencontek dan memberi contekan akan dihukum. Kejujuran kalian untuk mengakui sangat kami hargai. Namun perbuatan curang harus tetap dihukum agar tidak diulangi lagi. Hukumannya akan kami beritahu besok. Dan yang tidak mengaku hari ini kemudian ketahuan di belakang hari akan mendapat hukuman tambahan.” Ternyata tetap saja tidak ada lagi siswa yang mengaku. Maka hari itu diendapkan dulu masalahnya dan akan dibahas lagi esok.

Kami pun membaca ulang pola contekannya. Setelah diteliti, memang ada kemungkinan siswa-siswa yang tadinya kami masukkan daftar tersangka namun tidak merasa melakukannya adalah siswa yang dicontek pekerjaannya tanpa sepengetahuannya. Karena itu mereka tidak mengaku telah mencontek maupun memberi contekan. Maka mereka pun terbebas dari kecurigaan.

Esoknya, diumumkan bahwa hukuman yang diberikan bagi yang kemarin mencontek dan memberi contekan adalah nilai ulangan hariannya kali ini dianggap 0.

Hasil ulangan pun dibagikan. Ketika nama siswa yang dihukum dipanggil untuk mengambil lembar ulangannya, maka ditunjukkan nilai asli yang diperolehnya kemudian dicoret dan diganti dengan angka 0. Sebuah terapi kejut yang cukup efektif rupanya. Sepertinya mereka cukup siap jika nilainya dikurangi, namun tidak menyangka bahwa akan dijadikan 0.

“Cuma nyontek satu nilainya jadi nol…” keluh salah satu siswa.

“Ya, memang sayang sekali ya. Karena ketidakjujuran semua hasil usaha kalian hangus. Bahkan yang nilainya tertinggi pun akhirnya jadi 0 karena ada jawaban yang didapat dari mencontek. Mencontek satu atau pun semua itu sama saja. Sama-sama perbuatan tidak jujur. Dalam kehidupan nyata pun jika kalian berbuat tidak jujur, maka semua pekerjaan kalian akan dianggap percuma oleh atasan maupun masyarakat,” jelas seorang guru yang ditugasi Kepala Sekolah untuk mengeksekusi hukuman.

Dan kericuhan baru pun terjadi saat salah satu nama dipanggil dan dinyatakan nilainya utuh karena tidak mencontek. Sebut saja namanya Ahsan. Beberapa temannya protes dan bersaksi bahwa Ahsan sempat keluar kelas saat ulangan dan meminta bantuan menjawab soal kepada pihak lain.

“Apa benar kamu mencontek, Ahsan?” tanya guru eksekutor.

“Saya tidak mencontek,” jawabnya.

“Ah, kamu kan kemarin keluar dan menanyakan jawaban soal pada Imam (bukan nama sebenarnya),” seru salah satu temannya.

“Ya kan sama kamu juga!” elak Ahsan.

“Iya. Makanya aku kemarin mengaku. Tapi kamu tidak mengaku. Jadi mestinya kamu dihukum lebih berat hari ini!” tukas temannya lagi.

“Tapi itu sudah kuhapus jawabannya…” bela Ahsan.

Tergambar kembali lembar jawaban esai milik Ahsan. Memang benar ada bekas tulisan dihapus walau masih samar-samar terbaca. Terjawab pula penasaranku mengapa dia menggunakan kata “sauce” di situ. Rupanya untuk menggoda temannya itu, yang bersama dia saat menanyakan jawaban ke orang lain. Temannya ini memang sering dipanggil “kecap” oleh yang lain karena kulitnya yang hitam manis. Dan nama “kecap” itu dialihbahasakan ke Bahasa Inggris menjadi “sauce.” Hahaha… Masih sempat juga dia bercanda di tengah ulangan.

20160908_03574711
Lembar jawaban esai milik Ahsan

“Jadi kamu mencontek atau tidak, Ahsan?” tanya guru eksekutor lagi.

“Mmm… iya. Tapi sudah saya hapus,” jawab Ahsan.

“Mencontek atau tidak?” tukas guru eksekutor.

“Mmm… iya… iya…” jawab Ahsan terbata-bata.

“Iya atau tidak?” guru eksekutor memastikan.

“Iya!” tegas Ahsan.

“Ya sudah. Kamu ke Kepala Sekolah dan mengaku di hadapan Beliau untuk minta dihukum,” kata guru eksekutor. Pembagian hasil ulangan pun dilanjutkan sampai selesai.

Ahsan kembali memasuki kelas. Ketika ditanya teman-temannya, dia menjawab bahwa dia dinyatakan tidak bersalah karena sudah menghapus jawaban yang didapat dari Imam dan nilainya tetap utuh.

Ah, leganya memiliki siswa seperti Ahsan. Di tengah kesulitan yang dihadapinya, dan saat melihat ada kesempatan untuk mendapatkan hasil yang lebih besar, bahkan hasil itu pun sudah didapatkannya. Namun akhirnya dia memilih untuk membuang jawaban yang diperolehnya dengan cara yang tidak jujur. Dia berusaha menghapus jawabannya dan membiarkan bagian soal itu dianggap kosong tanpa jawaban.

Kami juga bangga kepada siswa-siswa yang mau mengakui ketidakjujurannya, dan tentu saja kepada setiap siswa yang menjaga kejujurannya sejak awal mengerjakan ulangan. Semoga kalian semua mendapat pelajaran berharga dari pengalaman ini. Kami percaya, kalian akan terus berproses menjadi lebih baik dari hari ke hari. Yang dengan mantap dan teguh hati berani menggaungkan kalimat dalam benak, “Aku anak jujur!” Inilah salah satu modal penting kalian dalam menghadapi berbagai tantangan, pilihan dan bujuk rayu di masa yang akan datang. Dimulai dari sepenggal episode kecil dalam rentang kehidupan, mengantarkan pada jiwa besar berkepribadian tangguh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s