Menguak Pesona Kelekak Di Pangkalpinang

Apa Itu Kelekak?

Masyarakat Bangka terdahulu sering berpindah-pindah tempat dan membuka lahan baru untuk tempat tinggal dan bercocok tanam. Tradisi bercocok tanam mereka setelah membuka lahan dimulai dari menanam padi. Setelah padi dipanen, lahan tersebut digunakan untuk berkebun lada. Dan ketika pohon lada sudah tidak produktif lagi, maka kebun itu ditanami dengan tanaman keras untuk kemudian ditinggalkan berpindah membuka lahan baru di tempat lain.

Tanaman keras ini memiliki fungsi ganda. Selain untuk melestarikan lingkungan tanah pertanian sehingga tidak menjadi lahan kritis, juga sebagai tanda kepemilikan lahan. Tanaman tersebut selain dapat berumur panjang, masa menunggu untuk panen pertama pun lama,. Sehingga yang akan memanennya bisa jadi bukan penanamnya melainkan keturunannya. Tanaman keras yang digunakan misalnya durian, cempedak, manggis, duku, rambutan, karet dan sebagainya.

(Sumber: aditkilus.wordpress.com)

Budaya menanam tanaman keras inilah yang oleh masyarakat setempat dinamakan budaya kelekak. Biasanya, sebuah lahan disebut kelekak setelah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.

Beda Kelekak, Kelukoi dan Kepumpon

Awalnya, kelekak terbentuk secara tidak disengaja. Bermula dari biji buah yang dibuang begitu saja setelah memakan daging buahnya saat istirahat di tengah mengurusi kebun/ladang. Karena itu, isinya bisa berbagai jenis tumbuhan dan jarak tanamnya pun tidak beraturan. Perawatannya diserahkan sepenuhnya kepada alam.

Ada pula yang sengaja memanam untuk anak-cucunya sendiri, inilah yang dinamakan kelekak pribadi atau kelukoi. Kelukoi jarak tanamnya lebih teratur daripada kelekak. Jika jenis tumbuhan yang ditanam sama, maka dinamakan kepumpon. 

Kelekak, Cerminan Kehidupan Sosial Budaya

Lazimnya, kelekak merupakan milik bersama masyarakat beberapa desa yang tinggal di situ, baik dari sisi perawatan maupun pengambilan manfaatnya. Kelekak  semacam ini disebut juga kelekak banyak/wakaf. Hal ini sesuai dengan adat Melayu yang pada dasarnya mengedepankan kebersamaan.

Dalam pemeliharaan dan pengambilan manfaat dari sebuah kelekak, aturan tidak tertulis diperlakukan turun-temurun sejak masa pembuat kelekak. Beberapa aturan tersebut misalnya: hasil kelekak tidak untuk diperebutkan atau dikuasai sebagian orang serta tidak boleh dijual. Pengambilan buahnya harus secara arif. Tidak dengan cara merusak, hanya dipetik yang sudah matang dan jumlah yang diambil secukupnya sesuai kebutuhan.

Budaya kelekak ini menunjukkan betapa masyarakatnya menjunjung nilai-nilai sosial yang luhur. Kelekak memiliki tujuan konsumtif namun tidak untuk tujuan ekonomis. Budaya ini juga merupakan kearifan lokal yang sangat baik dalam menjaga keseimbangan lingkungan alam dan manusia. Dimana sebagaimana seharusnya manusia tidak hanya memanfaatkan sumber daya alam, namun juga menjaganya agar tetap produktif dan dapat langgeng digunakan oleh keturunannya.

Kelekak Yang Kian Langka

Saat ini, kelestarian kelekak semakin terancam. Masyarakat lebih tertarik dengan keuntungan yang cepat daripada harus menunggu bertahun-tahun untuk menikmati hasil dari kelekak. Sebagiannya pun beralihfungsi menjadi pertambangan bijih timah, perumahan elit atau justru sekadar korban penebangan liar tak terurus.
Pengetahuan masyarakat Bangka tentang kelekak makin menghilang. Generasi saat ini kebanyakan hanya memahami kelekak sebagai hutan belantara.
Usaha Pemerintah Melestarikan Budaya Kelekak
Selain menggalakkan kembali budidaya tanaman keras di tengah masyarakat, pemerintah juga mendukung dikembangkannya kawasan hutan wisata yang disebut Kelekak Community untuk menjaga keseimbangan alam.
Kelekak Community merupakan miniatur kehidupan masyarakat Bangka di abad ke-18. Kawasan ini dibangun untuk menghadirkan bagaimana suasana Bangka dan kebiasaannya sehari-hari sep­erti berkebun, menangkap ikan, serta masyarakat yang hidup tanpa fasilitas listrik. Pengunjung akan mendapatkan pengalaman yang unik dan sulit dicari berlatar belakang kekhasan alam hutan Bangka.
Lokasinya berjarak 4 km dari Masjid Raya Tuatunu, Pangkalpinang. Ikuti saja papan petunjuk arah di sebuah gang kecil sebelah masjid. Anda akan melalui jalan kampung yang belum diaspal dan kadang hanya selebar satu mobil. Di kanan-kiri jalan terdapat hutan karet, semak belukar, kebun warga serta sungai yang jernih.
Ada Apa Saja Di Kelekak Community?

Suasananya masih asri dengan pemandangan berupa jajaran pepohonan hutan. Beristirahat di sini tentu sangat nyaman karena jauh dari hiruk-pikuk kota. Kecuali pada hari libur. Kelekak Community akan ramai dikunjungi wisatawan serta para pesepeda yang sedang menjelajah alam.

Pepohonan asli yang sudah ada di hutan ini dijaga kelestariannya. Selain itu, di sini juga ditanam aneka umbuhan khas Bangka, seperti: keraduduk, keramunting, rumbia dan nasi-nasi. Juga terdapat beberapa kolam untuk memelihara ikan yang biasa ada di kelekak, seperti: tepuyuh, julung-julung, gabus atau delek.

Salah satu dari beberapa kolam yang menambah asri suasana (Sumber: Bangka Pos/ Alza Hipni)
Di tengah hutan, dibangun di akhir tahun 2012 sebuah masjid dengan arsitektur khas Melayu masa lalu. Bahan utamanya berupa kayu cempedak dan meranti yang dianggap lebih tahan rayap. Karena itulah dinamakan Masjid Kayu. Masjid ini meniru desain awal Masjid Jami’ Pangkalpinang dengan 5 tiang kayu di dalamnya.
Masjid Kayu Tuatunu (Sumber: (Bangka Pos/ Alza Hipni)

Masjid Kayu merupakan pusat kegiatan di Kelekak Community dan digunakan sebagai tempat kajian keagamaan multimedia. Kajian fiqih, kajian alquran maupun tahfidz. Di kawasan ini juga terdapat miniatur ka’bah yang dijadikan lokasi manasik haji bagi masyarakat Bangka.

Terdapat pula contoh rumah panggung (parak) yang menjadi ciri rumah di tengah perkebunan Bangka. Rumah ini dilengkapi juga dengan dapuk (tungku berkaki) yang sering ditemui di rumah-rumah orang Bangka di masa lalu. Anda juga dapat mencicipi makanan pedesaan khas Bangka di sini, seperti ubi rebus, kemilik, bijur (ubi jalar) dan aneka kue.

Rumah panggung (Sumber: visitbangkabelitung.com)
Dapuk (Sumber: visitbangkabelitung.com)

Untuk menuju rumah panggung tersebut, kita harus melalui jembatan bambu yang dililiti oleh sulur rotan untuk menyeberangi sungai kecil yang sudah dibendung.

(Sumber: visitbangkabelitung.com)
Di halaman rumah ini terdapat sebuah miniatur perahu Suku Sekak. Suku Sekak adalah orang laut yang hidup di Bangka Belitung. Sebelum ada kebijakan pemerintah yang mewajibkan masyarakat tinggal di darat, orang Sekak tinggal di perahu yang disebut kolek. Perahu ini rata-rata selebar 2 meter dengan panjang 10 meter.
Perahu Sekak (Sumber: visitbangkabelitung.com)
Selain kita belajar tentang budaya dan sistem kerja orang Bang­ka zaman dulu, kita juga dapat mempelajari apa saja alat-alat yang digunakan pada waktu itudan bagaimana cara memakainya. Di kawasan ini terdapat galeri yang memajang alat-alat tradisional. Ada alat kerja seperti alat untuk mengambil karet, berkebun, menangkap ikan dan sebagainya. Juga perkakas rumahtangga seperti: penumbuk padi, sarung parang, kereta surong, sapu sabut, penggiling beras dan tudung saji.
Alat-alat kuno khas Bangka (Sumber: visitbangkabelitung.com)

Selain itu, galeri ini juga memiliki aneka bentuk mainan tradisional. Kita bisa mengetahui mengenai apa yang dimaink­an oleh anak-anak Pang­kalpinang sejak zaman dulu dan bagaimana cara me­mainkannya.

Mainan tradisional (Sumber: visitbangkabelitung.com)

Di Kelekak Community juga disediakan tempat anak-anak untuk memainkan permainan tradisional seperti caklingking dan cangkulon.

Wah, seru sekali ya berkunjung ke sini! Benar-benar akan menjadi pengalaman tak terlupakan menikmati keindahan alam sambil belajar budaya dan sejarah. Apalagi, rencananya akan ditambahkan museum lada di kawasan ini. Sungguh sebuah tempat yang sarat akan nilai ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Kelekak Community ini memiliki program KECCE, yaitu singkatan dari Kelekak Community Children. Di hari Jumat, Sabtu dan Minggu anak-anak sekolah akan diundang dan diperkenalkan dengan semua permainan pada zaman dahulu, diajarkan cara pembuatannya dan bisa membawa pulang hasilnya.

Jadi, kapan kita bisa berkunjung ke sini?

#pesonapangkalpinang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s