Budaya Sensor Mandiri Sejak Dini

Memiliki anak yang akan segera memasuki usia remaja tentu merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi orangtua. Di usia remaja, umumnya anak akan berusaha untuk lebih mandiri dalam berpikir, berpendapat, mengambil keputusan dan berperilaku. Sebuah energi positif sebenarnya. Selama kita yakin bahwa sandaran yang digunakannya dalam memilih berbagai hal tersebut adalah nilai-nilai kebaikan.

13233034_10208536587845764_6810627124524981430_n

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita yakin bahwa hanya nilai-nilai kebaikanlah yang akan digunakan remaja kita dalam memilih? Yakin sepenuhnya mungkin sulit. Namun mengusahakan agar nilai kebaikan itu mendominasi kehidupannya sehari-hari adalah sesuatu yang bisa kita upayakan sebagai orangtua.

Pesatnya pertumbuhan dan perkembangan teknologi komunikasi membuat remaja kita dibanjiri oleh bermacam informasi dan tontonan melalui berbagai media. Kita memahami bahwa informasi dan tontonan yang kita terima mempengaruhi pandangan dan perilaku kita sehari-hari. Karena itu, kemampuan untuk memilah dan memilih tontonan yang layak perlu ditanamkan sejak dini pada diri anak. Sehingga ketika menginjak usia remaja, ia telah memiliki budaya sensor mandiri dalam dirinya.

Berikut ini adalah beberapa usaha yang saya lakukan untuk membudayakan sensor mandiri pada diri anak:

  • menanamkan kegemaran belajar pada anak

Belajar adalah tugas kita seumur hidup. Karena setiap manusia dengan berbagai kekurangannya senantiasa berusaha untuk terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Dalam menggunakan media pun, kita berusaha mengambil apa-apa yang dapat meningkatkan kualitas taraf berpikir, menambah pengetahuan dan menanamkan nilai-nilai yang baik pada diri kita. Kalau pun suatu saat kita menggunakan media sebagai salah satu alternatif hiburan untuk mengusir penat, maka kita hanya memilih hiburan yang tidak memuat nilai-nilai negatif yang dapat merusak hasil pembelajaran kita selama ini.

  • membiasakan hanya ada tontonan yang baik di rumah

Alah bisa karena biasa. Jika kita ingin anak bisa memiliki sensor mandiri, maka budayakan sensor mandiri dalam diri kita dan terapkan di rumah. Jadikan nilai-nilai kebaikan sebagai kebiasaan, sehingga anak merasa aneh terhadap hal-hal yang bertentangan dengan nilai yang ditanamkan dalam keluarga. Dengan demikian, secara otomatis ada penolakan dalam dirinya jika melihat atau menonton sesuatu yang dianggap tidak layak.

  • mendampingi anak-anak saat menonton

Selain menjadi bagian dari waktu berkualitas yang kita sediakan untuk anak, kita juga bisa sambil membantu mereka menilai tontonan yang mereka pilih. Mana bagian yang baik untuk ditiru dan mana yang harus dihindari.

  • berani berproses

13654391_10209085037516663_3529556651040816015_n

Adakalanya anak menonton di rumah teman atau kakek-neneknya. Ini adalah kesempatan untuk mengedukasi anak dan menguji kekuatan benteng pertahanan yang kita bangun selama ini. Sebelumnya, kita perlu menyediakan arus komunikasi yang lancar diantara orangtua dan anak. Sehingga kita bisa menanyakan pendapatnya tentang apa yang ditonton, menggali alasannya, mendiskusikan penilaian pribadi kita dan memberinya kesempatan untuk menyimpulkan apakah tontonan itu baik atau buruk. Lalu kita berusaha seluas-luasnya menerima kesimpulannya. Izinkan anak berpikir, menilai dan menyimpulkan secara mandiri. Jika sebenarnya masih ada yang perlu dikritisi, maka itu adalah PR kita selanjutnya di rumah dalam mendidik anak tentang tontonan.

Itulah beberapa langkah yang saya jalani demi mengantarkan generasi yang memiliki budaya sensor mandiri. Belum terbukti keberhasilannya, karena anak saya belum menginjak usia remaja. Kesehatan dan kualitas tontonan yang beredar di tengah masyarakat tentu sangat diharapkan untuk menunjang keberhasilan mencetak kepribadian yang unggul. Kerjasama dengan masyarakat dan pemerintah adalah kunci sukses untuk mewujudkannya.

(Sumber: lsf.go.id)

Di Indonesia, peran penyaringan tontonan yang beredar dilakukan oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Budaya sensor mandiri adalah seruan yang diusung LSF dalam memperingati 100 tahun usianya. Kampanye ini dimulai sejak tanggal 18 Maret  hingga puncak acaranya tanggal 28 Oktober 2016 nanti.

Sensor mandiri mendorong masyarakat untuk aktif mengklarifikasi media informasi dan hiburan terutama perfilman berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Dimana disebutkan dalam Pasal 3a bahwa salah satu tujuan perfilman adalah untuk terbinanya akhlak mulia.

Karena itu, penting bagi orangtua dan masyarakat umum berinisiatif untuk mengetahui dan menyesuaikan tayangan yang akan ditonton berdasarkan penggolongan usia pada UU di atas:

a. untuk penonton semua umur;

b. untuk penonton usia 13 (tiga belas) tahun atau lebih;

c. untuk penonton usia 17 (tujuh belas) tahun atau lebih; dan

d. untuk penonton usia 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih.

Saat ini, LSF tak hanya bergerak di dunia pertelevisian dan perfilman saja. Melainkan juga bergerak di ranah maya. Sejumlah perwakilan perusahaan aplikasi populer (Over The Top/OTT) seperti: Twitter Indonesia, Blackberry Indonesia dan Line Indonesia sepakat untuk melakukan self-censorship (sensor mandiri) terhadap konten bermuatan negatif.

Hal ini tentu cukup melegakan bagi para orangtua seperti saya, yang saat ini belum mengizinkan anak membawa telepon genggam sendiri dan mengakses dunia maya tanpa pantauan. Dengan terus menumbuhkembangkan budaya sensor mandiri pada diri anak, bersama dukungan dari masyarakat dan naungan dari kebijakan pemerintah, semoga setiap informasi dan tayangan yang diserap anak adalah satu langkah lebih maju menuju terciptanya generasi berkepribadian unggul.

Kata kunci: Budaya Sensor Mandiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s