Lidah Anak-Anakku Terikat

Kedua anak laki-lakiku yang terakhir, yaitu anak keempat dan kelima, sempat mengalami kesulitan minum ASI pada awal-awal bulan kehidupannya karena lidahnya terikat (tongue-tie/ankyglossia). Untuk mengetahui lebih jelas tentang lidah terikat dan cara penanganannya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyediakan video edukasi agar kita bisa memahaminya lebih jauh. Video ini direkam saat seminar dalam rangka Pekan ASI Dunia tahun lalu.

Lalu, bagaimana pengalamanku sendiri menghadapi kedua anak yang memiliki lidah terikat?

Si Keempat

Dia lahir dengan ukuran normal, berat badan 3,2 kg dan panjang badan 50 cm. Awalnya aku hanya merasakan bayiku sangat malas mengisap, namun juga tidak mau melepas ASI. Mengempeng, istilahnya. Yang itu bisa berlangsung mulai dari 30 menit hingga berjam-jam. Kadang dia tampak sangat bernafsu ingin mengisap, namun selalu diakhiri dengan tangisan keras kebingungan dan akhirnya menolak ASI. Dan tangisannya terus berlanjut tak terhenti dengan cara apa pun. Hingga kelelahan dan hanya bisa menangis lemah, berusaha mengisap lagi namun kemudian jatuh tertidur. Kadang aku yang terkapar pulas saat menyusui karena seharian mengalami drama yang sama terus-menerus. Lalu tersentak bangun oleh rintihan sedihnya.

Di usia seminggu, suhu tubuhnya meningkat, kulitnya kekuningan dan yang paling membuat kawatir adalah bagian putih matanya yang keruh kehijauan. Aku merasa dia kekurangan cairan. Ketika dikonsultasikan ke dokter anak, ternyata berat badannya turun menjadi 2,8 kg. Menurut dokter, berkurangnya berat badan ini masih normal untuk bayi ASI. Memang biasanya di usia seminggu beratnya akan turun 7-10% untuk membuang sisa cadangan makanan selama di dalam rahim. Warna kuning pada kulit dan matanya pun masih tergolong normal.

Lalu aku sampaikan kesulitanku saat menyusui. Dokter perempuan itu kemudian memeriksa kondisi payudaraku dan caraku menyusui. Dengan sedikit bantuan, kami pun bisa mendapatkan posisi pelekatan yang pas. Bayi tampak aktif mengisap sembari dokter menjelaskan padaku masalah pelekatan, frekuensi, durasi, nutrisi untuk ibu dan berbagai hal tentang menyusui. Tiba-tiba kembali bayiku menangis melepaskan ASI dan sulit dibawa pada posisi pelekatan lagi. Dokter menyadari bahwa Sang Bayi mengalami gangguan sehingga mudah kelelahan saat minum. Beliau memeriksa daya isap, kelenturan lidah dan anatomi mulut bayi. Menurut Beliau memang ada sedikit gangguan pada lidahnya. Namun dokter menyarankan agar aku menjalankan dulu berbagai masukan yang tadi disampaikan. Harapannya, perbaikan dalam proses menyusui ini dapat membantu meningkatkan penerimaan asupan ASI untuk bayi.

13265970_10208590251187314_4414363738820917881_n

Sebulan sudah. Pupnya masih sedikit dan selalu berwarna hijau sejak awal kelahirannya. Ya, aku merasa bayiku bisa minum ASI lebih lama. Namun tetap saja diselingi dengan tangisan dan napas kepayahan. Semakin banyak yang berkomentar bayiku kurus. Dan saat kami bawa dia kontrol ke dokter anak, berat badannya ternyata semakin turun hingga cuma 2,2 kg! Huhuhu…

Setelah dokter yakin bahwa semua sarannya terdahulu telah aku laksanakan, Beliau pun meminta agar bayiku di tes darah lengkap di laboratorium. Dan hasilnya ternyata bayiku mengidap anemia. Anemia pada anak memang membuat anak berkurang nafsu makannya. Maka Beliau meresepkan zat besi dengan dosis sesuai umur dan berat bayi sambil menyarankan agar aku tetap menjalankan manajemen menyusui seperti sebelumnya. Kami diminta  kembali memeriksakan kadar hemoglobin bayi sebulan berikutnya.

Alhamdulillah, di bulan berikutnya kadar hemoglobin bayiku sudah normal. Namun angka timbangan masih tidak bergerak dari angka 2,2 kg. Tak bisa kuceritakan kecamuk emosi dalam hatiku saat itu. Sedih, bingung, lelah dan entah apa lagi. Rasanya tidak berarti semua malam dan siang yang panjang selama 2 bulan ini. Terbayang tatapan sayunya, rengekan lirihnya, tulang-tulang lenganku yang terlalu kaku untuk menggeliat, beban kantuk di mataku… Semuanya seperti hanya sepakat untuk membenarkan bahwa aku tak bisa mengurus bayiku.

Begitu membaca rekam medik bayiku, dokter pun langsung menuliskan surat pengantar untuk seorang dokter yang bertugas di rumah sakit umum bagian poli tumbuh kembang anak. Beliau memintaku untuk menyampaikan surat tersebut dan meminta diagnosisnya. Bisa jadi bayiku akan diinsisi tali lidahnya jika dinilai perlu oleh dokter yang dimaksud.

Setelah beberapa kali bersilangan jadwal selama 3 minggu, akhirnya kami pun dapat bertemu dengan Sang Dokter. Setelah membaca surat pengantar, bayiku diperiksa keadaannya oleh dokter didampingi seorang konselor laktasi. Keduanya sepakat bahwa memang untuk menolong kondisi bayiku ini perlu dilakukan insisi pada tali lidahnya agar bisa minum ASI dengan lancar.

Begitu selesai, bayi langsung disusui untuk membantu lukanya agar cepat menutup. Tangis kencangnya langsung berubah menjadi isapan yang sangat kuat dan lahap. Dia minum ASI hingga terlelap. Untuk pertama kalinya, kusaksikan wajahnya yang kekenyangan.

Si Kelima

Dia lahir di tengah musim kemarau yang panjang. Ukurannya normal saja. Beratnya 3,3 kg dan panjangnya 51 cm. Sejak awal dia begitu rewel. Kupikir karena kepanasan. Karena jika sore telah beranjak memasuki petang, dia semakin tenang saat minum ASI. Namun kurasakan bahwa isapannya sangat lemah. Seakan mulut mungil itu hanya menempel begitu saja di sekitar areola-ku. Dia sebenarnya sangat mudah mengantuk jika udara sedang tidak panas.

Jika siang hari, suhu badannya meningkat. Di usia 3 hari aku konsultasikan hal itu ke bidan. Menurut bidan, hal itu karena kurang cairan. Aku hanya disarankan untuk senantiasa memberinya ASI, ASI dan ASI.

Menjelang usia satu minggu, terdapat serbuk oranye dalam popoknya. Aku konsultasikan ke dokter anak, jawabannya sama: karena kurang cairan. Jadi solusinya adalah ASI, ASI dan ASI. Beratnya yang turun menjadi 3 kg masih terbilang wajar.

14115540_10209304426841259_2520651373703765775_o
Endapan jingga di popok bayiku

Rasa hatiku tak tentram. Aku kawatir bayiku mengalami hal yang sama seperti anakku sebelumnya. Apakah aku harus menunggu selama 2 bulan dulu untuk memastikannya? Dan seminggu menjelang usia 3 bulan baru masalah terselesaikan? Bagaimana jika bayiku tak bisa menunggu selama itu? Mengingat cuaca yang sedang sangat terik dan dengan mudah mengantarkannya pada dehidrasi.

Maka di usia 10 hari, kami membawanya ke dokter yang dulu menginsisi kakaknya. Oh, tidak! Saat ditimbang, beratnya hanya 2,7 kg! Dimana normalnya bayi bertambah beratnya sekitar 15 gram sehari, bayiku justru beratnya berkurang 300 gram dalam 3 hari.  Lemas aku mengenang berbagai kepayahan saat kakaknya baru lahir dulu.

13256489_10208568492723366_6544837808928582858_n

Setelah diperiksa, menurut dokter memang ada sedikit kesulitan yang dialami bayi karena anatomi lidahnya. Tapi mestinya tidak terlalu mengganggu sebab keadaan lidahnya tidak separah kakaknya. Maka dokter menyarankan aku untuk berkonsultasi dulu pada konselor laktasi. Siapa tahu ada prosedur menyusui yang perlu diperbaiki. Aku pun menghubungi salah satu konselor laktasi dan meminta sarannya. Semua masukannya aku jalani hingga bayiku berusia sebulan.

Tibalah waktunya berkonsultasi lagi ke dokter. Kali ini ke dokter yang sekaligus konselor laktasi di kota lain. Timbangan menunjukkan angka 3,25 kg. Sedikit di bawah berat badannya saat lahir. Ada kenaikan sebenarnya dibanding saat berusia 10 hari. Namun untuk seusianya saat itu sudah mulai masuk kategori gizi buruk,. Dokter mendapati kondisi putingku yang ideal, pancaran ASI yang kuat dan produksinya yang melimpah. Dan ketika memeriksa bayi, ditemui bahwa memang daya isapnya sangat lemah. Lidah hanya berputar-putar mengelilingi jari yang dimasukkan tanpa bisa menariknya. Maka dokter pun mengambil tindakan insisi untuk membantunya memperoleh asupan ASI secara maksimal.

Itulah pengalamanku memiliki anak-anak dengan lidah terikat. Tidak mudah menjalaninya, namun juga jangan mudah berusaha mengakhirinya dengan jalan pintas.

Catatan terpenting bagi orangtua yang bayinya didiagnosis memiliki lidah terikat adalah: tidak semua kondisi lidah terikat harus diinsisi.

Suamiku dan putra terbesarku adalah contohnya. Mereka tetap bisa minum ASI dengan baik hingga 3 tahun lebih. Walaupun mengalami kesulitan dalam mengucapkan beberapa huruf, namun secara umum hal itu tidak mengganggu kehidupan mereka sehari-hari.

13254384_10208590251907332_838480304615229818_n

Konsultasikan pada dokter anak dan konselor ASI untuk menemukan hal apa lagi yang bisa dilakukan agar proses menyusui dapat berjalan dengan lancar sebelum akhirnya memutuskan untuk diambil tindakan insisi tali lidah. Selamat menyusui!

Advertisements

5 thoughts on “Lidah Anak-Anakku Terikat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s