Menyapih Dengan (Terlalu) Cinta

Walau anakku sudah lima, dan tiga diantaranya sudah tersapih dari ASI, namun sebaiknya jangan tanya aku soal tips menyapih ya. Bisa dibilang, aku bukan contoh yang sukses sesuai teori hehehe… Aku berhenti menyusui karena anaknya sendiri yang memutuskan tidak lagi minum ASI. Sebelum itu, aku hanya menjalankan cara ‘menyapih dengan cinta’, atau lebih tepatnya ‘menyapih dengan terlalu cinta’ karena prosesnya sangat lambat.

13335802_10208616722809088_2766958660052216313_n

Menyapih dengan cinta bisa diartikan sebagai proses penghentian kegiatan menyusui secara bertahap tanpa paksaan berdasarkan kesepakatan antara anak, ibu dan ayah.

Berikut ini adalah prinsip untuk menyapih anak dengan cinta:

  • adanya kebulatan tekad dan kerelaan anak, ibu dan ayah untuk mengakhiri kegiatan menyusui
  • mengurangi frekuensi menyusui secara bertahap
  • tidak menghentikan kegiatan menyusui secara mendadak, misalnya: mengolesi areola dengan pahit-pahitan atau obat merah, menempeli dengan plester luka dan lain-lain
  • menghindari menyapih anak dengan mengalihkan ke benda lain, seperti : empeng, botol susu, bantal, dan sebagainya.

Jika Anda bertiga telah siap, maka inilah langkah-langkah yang dapat ditempuh agar berhasil menyapih dengan cinta:

  • pastikan anak tidak sedang sakit
  • sosialisasikan tentang niat ‘menyapih dengan cinta’ tersebut kepada orang-orang di sekitar terutama yang berinteraksi dengan anak
  • berikan penjelasan pada anak mengapa ia harus disapih
  • jangan menawarkan dan jangan menolak anak untuk minum ASI
  • identifikasi alasan anak meminta ASI dan beri alternatif lain untuk memenuhi kebutuhannya sebelum akhirnya Anda memutuskan untuk mengijinkannya minum ASI.

Inilah alasan anak meminta ASI beserta alternatif yang bisa ditawarkan sebagai pengganti ASI:

  1. Lapar dan haus. Sediakan makanan dan minuman sehat untuk mengalihkan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak dari ASI kepada sumber nutrisi lain yang sudah selayaknya dia konsumsi sesuai umurnya. Tambahkan jadwal untuk camilan di luar pemberian menu utama
  2. Minta perhatian. Proses lepas dari ASI bisa jadi menimbulkan kecemasan tersendiri bagi anak. Dia kawatir jika dia tidak disayang lagi, apa lagi jika bersamaan dengan hadirnya adik. Usahakan tetap memenuhi kebutuhan emosional anak. Limpahi dia dengan perhatian dan kasih sayang. Sering-seringlah membelai, memeluk, mencium dan memujinya
  3. Bosan. Bila anak bingung akan bermain apa lagi, kadang pelariannya adalah ASI. Maka berilah alternatif bermain baginya dan temani ia bermain. Selain itu, libatkan suami dan orang sekitar agar mendapat pengalaman bermain dan berinteraksi yang variatif untuk mengusir rasa bosannya dan mengembangkan berbagai ketrampilan
  4. Mengantuk. Menjelang tidur, tawarkan aktivitas pengantar tidur sebelum ASI, misalnya: membaca buku atau mendongeng sebelum tidur.

Bagaimana praktiknya dalam kehidupanku? Rata-rata aku mulai proses menyapih saat anak berusia 2 tahun. Aku berusaha menjalankan semua panduan seperti di atas. Namun, sepertinya karena syarat utama, yaitu kebulatan tekadku masih kurang, maka proses menyapih ini pun berjalan lama.

Penyapihan Anak Pertama

11794115_10153511745474153_1841540224244989008_o

Anak sulungku tersapih di usia 2 tahun 8 bulan ketika sebelumnya dia sangat rewel ketika minum ASI. Dia sangat ingin ASI. Namun setiap kali mengisap, dia pun menangis dengan keras. Begitu terus. Aku periksa mulutnya. Tidak kutemukan sariawan, jamur atau lubang di gigi. Tumbuh gigi pun tak mungkin, karena semua gigi susunya telah lengkap. Anehnya, dia hanya rewel saat minum ASI, dan tetap bisa makan dan minum minuman dari gelas dengan lahap.

Maka kami periksakan dia ke dokter. Ternyata di langit-langit mulutnya terdapat bintil cacar air. Itulah rupanya yang membuat dia kesakitan setiap minum ASI. Dokter sekaligus memeriksa adiknya yang berusia 10 bulan dan selalu minum ASI bersama Si Sulung. Ternyata, keduanya positif mengidap cacar air.

Jadilah aku merawat kedua anak yang sedang cacar air ini hingga sembuh. Sepulang dari dokter, keduanya mulai demam. Kakak tetap menolak ASI. Namun masih bisa makan dan minum seperti biasa. Sedangkan adiknya justru semakin lahap minum ASI karena memang tidak ada bintil cacar air yang mengganggu di dalam mulutnya. Alhamdulillah, keduanya sembuh dengan cepat. Adik sembuh di hari ketiga dan Kakak baru bersih semua bekas cacar airnya di hari kelima. Ajaibnya, walau sudah sembuh, Kakak tetap menolak ASI. Sukseslah dia tersapih dengan cara yang tidak terduga.

Penyapihan Anak Kedua

Ketika itu aku merasa ada benjolan yang sangat nyeri di ketiakku.Benjolan seperti yang biasa aku alami saat memiliki bayi baru karena produksi ASI yang melimpah. Padahal payudaraku tidak terlalu penuh karena selalu diisap oleh Si Kedua dan Ketiga. Terasa juga ada benjolan kecil di tepi payudara. Tiap menyusui pun aku merasa sakit, namun tidak kutemukan bagian yang lecet. Badan pun mulai demam.

Maka aku diperiksakan suami ke dokter. Ternyata memang ada lecet di putingku. Dokter menunjukkan lokasinya yang sebelumnya tidak aku ketahui. Dugaan awalnya, benjolan dan nyeri ini disebabkan oleh infeksi dari luka lecet tersebut. Maka aku diberi antibiotik dengan harapan sudah sembuh dalam 3 hari untuk menghapuskan kemungkinan masalah yang lebih serius.

Aku sampaikan keadaanku ini pada Si Kedua. Dia pun bersimpati dan berempati. Dia bersedia berhenti minum ASI. Bahkan adiknya yang berumur 8 bulan ditegurnya saat minum ASI, “Dik, jangan minum ASI! Umi sakit.” Aku jelaskan bahwa adik bayi masih butuh ASI. Isapannya tidak sekuat dia yang sudah 3,5 tahun sehingga aku masih bisa berusaha menahan nyerinya. Dia pun mau mengerti dan konsisten tidak lagi minum ASI.

Penyapihan Anak Ketiga

Jika anak pertama tersapih karena dia sakit, anak kedua tersapih karena aku sakit, maka sepertinya yang ketiga ini yang paling mirip dengan teori. Walaupun tetap saja memakan waktu lama hehehe…

Sejak umur 2 tahun, dia mulai sering diajak Nenek ke rumahnya. Kadang 2 hari menginap, 3 hari, 4 hari, hingga akhirnya bisa sampai 1-2 minggu di sana. Namun tetap saja pulangnya tak pernah lupa untuk minta ASI. Kami tetap menyampaikan tentang penyapihan kepadanya secara lembut dan terus-menerus.

Hingga suatu hari, sepulang dari rumah Nenek, dia bertanya padaku, “Umi, adik minum ASI? Dia masih kecil?”

“Iya, benar,” jawabku. “Kalau kamu kan sudah besar, ya? Anak besar mau ASI atau tidak?”

Dia berpikir sejenak kemudian menjawab, “Enggak ah, aku nggak usah ASI. Soalnya aku sudah besar. ASI buat adik bayi saja.” Amboi, leganya hatiku melihat dia berani mengambil salah satu keputusan besar dalam hidupnya di usia 3 tahun 2 bulan.

Setiap tanggal 1-7 Agustus telah ditetapkan sebagai Pekan ASI Dunia. Ya, menyusui memang membutuhkan perjuangan, demikian juga saat menyapihnya. Keduanya butuh kebulatan tekad, pengerahan segenap kekuatan dan dukungan dari berbagai pihak.

Advertisements

2 thoughts on “Menyapih Dengan (Terlalu) Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s