Pesona Pantai Pasir Putih, Situbondo

Belum banyak sih, keindahan alam di Indonesia yang sudah aku jelajahi. Baru seputar Pulau Jawa saja, terutama Jawa Timur, bagian dari Pulau Jawa yang paling lama aku tinggali. Diantara tempat-tempat wisata alam yang pernah aku kunjungi itu, Pantai Pasir Putih di Situbondo adalah yang paling berkesan buatku. Mau tahu kisahku saat jalan-jalan ke sini? Yuk, baca terus artikelku ini.

Mengapa berkesan? Tentu saja karena keindahan alam yang berjajar di hadapan saat aku berwisata ke sana. Bermula dari pengalaman Suami saat diajak berkunjung ke sana bersama teman-temannya. Beliau pulang dengan membawa oleh-oleh replika perahu layar dan dengan antusias menceritakan keasyikan mengisi waktu di pantai tersebut. Beliau berniat untuk mengajak kami sekeluarga kembali ke sana untuk menikmati sensasi yang dirasakannya.

Berkejaran dengan Kawah Ijen

Dan tibalah kesempatan itu. Suami mengajakku, anak-anak dan kakek-neneknya. Kami berangkat pagi-pagi dengan menempuh jalan darat menggunakan mobil pribadi dari tempat tinggal kami, Sidoarjo. Waktu tempuh yang cukup panjang untuk anak-anak dan neneknya, sekitar 4-5 jam. Namun terbayar segera dengan pemandangan sepanjang perjalanan yang dilewati begitu sampai di Probolinggo menuju ke Situbondo. Di sana kami melewati kawasan PLTU Paiton yang besar itu. Dengan panorama laut di kiri jalan dan perbukitan di sebelah kanan kami. Bahkan kemegahan Kawah Ijen juga tampak dari sini. Kedua sisi dipagari hutan. Kadang kami melihat monyet-monyet bergelantungan di pohon-pohonnya.

Di Probolinggo, kami lebih dulu bertemu dengan Pantai Bentar. Sempat galau juga apakah kami harus masuk ke hutan atau belok ke pantai? Eh? Maksudnya, apakah kami bersenang-senang di Pantai Bentar ini saja ataukah tetap sesuai rencana semula yaitu ke Pantai Pasir Putih. Karena mempertimbangkan kelebihan panorama bawah laut yang dimiliki Pantai Pasir Putih, maka kami pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Situbondo. Sebelum mencapai Panarukan dan pusat Kota Situbondo, sampailah kami di area wisata Pantai Pasir Putih.

Laut tiga warna

Ternyata sebuah pilihan tepat untuk berangkat pagi hingga bisa sampai di sini sebelum posisi matahari di atas kepala. Karena kita bisa menikmati indahnya warna air laut yang berlapis sesuai kedalamannya. Putih di pinggir, kehijauan di tengah dan biru di kejauhan. Cantik sekali. Kami pun menikmatinya sambil beristirahat  di gazebo besar di pinggir pantai sambil mengisi perut hingga waktu shalat Dhuhur.

Di siang hari, permukaan laut akan memantulkan sinar matahari menjadi kerlip-kerlip keperakan yang semarak.

Kilau keperakan di siang hari

Pantainya yang landai membuat gelombang laut tenang bahkan nyaris tak berombak laksana berada di tepian danau nan luas. Bentuk bibir pantai yang melengkung menyerupai teluk menghadap ke laut lepas berbalutkan pepohonan yang rindang membentuk gugusan panorama yang indah.

Pantai tampak sangat putih di siang hari yang cerah dan sepi

Banyak yang mengeluh karena pasirnya tidak terlalu putih. Ah, tidak juga. Datanglah di siang hari yang cerah dan saat sepi pengunjung. Maka kita akan mendapati pasir yang rapi, putih terhampar, tidak teracak-acak oleh banyak kaki basah yang membuat warnanya tampak keabuan. Dan yang terpenting, bersih dari aneka sampah yang berserakan karena ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

‘Sampah’ yang indah

Selain mengisi waktu dengan bermain pasir, ada banyak jenis rekreasi air yang bisa kita lakukan di sini. Kita bisa berenang, memancing, menyelam, menyewa perahu tradisional, berkano, berlayar atau pun mengendarai cross ATV seperti yang dilakukan suamiku dan teman-temannya saat pertama berkunjung ke sini.

Alat perang, eh bersenang-senang di pantai

Namun, berhubung kami membawa anak-anak, maka kami mengikuti cara yang menjadi pilihan mereka untuk bergembira di pantai ini. Jadilah mereka berenang sepuasnya hingga akhirnya meminta menyewa perahu tradisional untuk membawa kami ke tengah laut dan menikmati pemandangan bawah laut.

Sempat kaget juga ayahku saat mengetahui pemilik perahu memanggul perahu bermuatan banyak ini terlebih dulu untuk bisa keluar dari pasir pantai. Ya, ini memang perahu tradisional yang tidak menggunakan tenaga motor. Ayahku berinisiatif membantunya mendorong hingga benar-benar bisa berlayar di permukaan air laut.

Kaki perahu yang dipanggul pemiliknya untuk mendorong keluar dari pantai menuju laut

Angin dan arus laut hari itu benar-benar bersahabat pada kami. Perlahan namun pasti, perahu meninggalkan pantai, terombang-ambing dibawa mereka ke tengah laut. Tak perlu layar dikembangkan, tak perlu dayung diayunkan.

Tampaklah kawasan wana wisata yang berada persis di bawah lereng gunung Ringgit itu dari kejauhan. Barisan pohon kelapa, cemara udang dan rimbunan hutan jati yang menjadi rumah bagi satwa liar. Dari sanalah suara kicau burung yang terdengar sepanjang siang hari.

Memasuki daerah yang airnya kehijauan, mulai tampak rimbunan terumbu karang dari atas perahu. Kami pun diberi kotak besar dengan kaca tebal di bagian bawahnya. Alat ini berguna untuk membantu menenangkan permukaan air laut sehingga kita bisa melihat dengan lebih jelas kehidupan bawah laut. Menurut Suami, pemandangannya lebih indah saat dia berkunjung sebelumnya, lebih berwarna-warni. Mungkin karena berganti musim?

Mengintip keindahan yang tak kautemui di permukaan bumi

Tak terasa hari hampir petang. Kami bersiap pulang karena pantai akan ditutup. Namun, kita bisa lho berkemah di sini. Sehingga bisa menyaksikan keindahannya saat matahari terbenam dan terbit keesokan harinya.

Langit bergerak senja

Jangan lupa membeli cinderamata. Ada aneka kreasi dari kerang, olahan hasil laut, replika perahu layar tradisional, kaos bertema pantai dan sebagainya.

Menulis tentang pantai ini membuatku ingin kembali terbang ke sana. Bagaimana denganmu?

Advertisements

4 thoughts on “Pesona Pantai Pasir Putih, Situbondo

  1. Huaa… Seru yaa….
    Anak-anak bisa berenang berarti pantainya dangkal yo mak..?
    Di Pariaman pantai dangkalnya dikit. Ngeri mau berenang. Harus ke pulau kecil dulu baru nemu pantai dangkal.

    Like

  2. Mak kalo ke pantai aq seringnya masuk angin…
    Ada tips g??? Hihihi…

    Btw aq jg pernah lihat nelayan2 manggul perahu, kasian berat sekali itu perahu…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s