Menyusui Saat Hamil? Yakin?

Pertanyaan itu yang pertama terlintas di benakku saat melihat dua garis merah di atas testpack setelah haidku terlambat 2 bulan. Hasil USG pun menyatakan bahwa aku telah hamil 8 minggu. Artinya, kehamilan ini dimulai saat Si Sulung berusia 13 bulan. Dan dia akan memiliki adik saat usianya 22 bulan, belum genap 2 tahun.

Terbayang kehamilan pertamaku dulu yang gugur di usia 9 minggu. Kemudian disusul dengan kehamilan berikutnya yang syukurlah bertahan hingga persalinan, walau sepanjang masa kehamilan selama 46 minggu itu aku sering mengalami flek darah dan mual sampai pembukaan lengkap 10. Aku kawatir termasuk perempuan yang lemah kandungannya.

Mendengar berita kehamilanku, Bunda pun tak kalah paniknya. Beliau langsung meminta anak sulungku untuk sementara tinggal bersamanya agar bisa tersapih. Haruskah kusapih dia sekarang? Sepertinya aku tak punya banyak pilihan, karena aku pun memiliki kekawatiran yang sama dengan beliau. Kawatir kehamilan kali ini jadi rentan jika aku memaksakan diri untuk tetap menyusui.

12341248_10207262252148168_1856000281000715086_n

Si Sulung yang akan memiliki adik

Beberapa jam setelah anakku diboyong neneknya, aku yang dari tadi hanya bisa banyak termenung, disadarkan oleh sesuatu yang merambat di bajuku. ASI-ku tumpah. Ah iya, kini tak ada lagi yang akan mengisapnya. Maka kuperah ASI-ku dengan tangan. Santai saja, sambil tetap waspada agar jangan sampai terjadi kontraksi.

Sore itu, aku jadi memiliki alasan untuk datang ke rumah Bunda, menyerahkan ASI perah agar bisa diminum anakku. Bunda melarangku datang, agar anakku tidak terbayang-bayang aku. Beliau yang datang ke rumahku. Ragu-ragu beliau menerima ASI perahku. Kawatir rasanya membuat anakku masih rindu pada ASI. Aku membujuk dan mengharap agar Bunda mau memberikannya. Daripada terbuang percuma. Tak diperah pun jadi penyakit buatku. Akhirnya beliau setuju membawanya untuk  anakku.

12341511_10207281252863174_6707354199543249703_n

Hanya sekali itu aku bisa memberikan ASI perahku. Selanjutnya hanya sedikit sekali ASI yang tertampung. Entah karena aku yang belum berpengalaman memerah ASI, atau kurang stimulasi dari isapan anak, atau kondisi psikisku yang sedang kacau. Membuat Bunda lebih mudah menolak untuk mengambil karena terlalu payah bolak-balik ke rumahku untuk membawa ASI yang sedikit.

Aku masih saja mencari akal agar bisa menjenguk anakku. Kali ini aku beralasan membelikan mainan untuknya dan hendak mengantar ke rumah Bunda karena searah jalan. Bunda hanya mengijinkan aku dan suami mengintip anakku lewat jendela. Kulihat wajahnya yang muram. Ah, tak sampai hati rasanya melihatnya terus begitu.

1264655_10201592630651174_444350194_o

Di rumah aku begitu sedih mengingat wajah anakku. Sudah 4 hari aku berpisah dengannya. Berkali-kali Bunda mengingatkanku agar tidak terlalu memikirkan cucunya. Karena anak pasti merasakan apa yang dirasakan ibunya. Hal itu membuat Sang Anak akan tetap memikirkan ibunya sehingga gelisah dan rewel. Aku diminta fokus untuk menjaga kehamilanku saja.

Haruskah aku bertahan seperti ini hingga anakku berhasil tersapih? Ataukah masih ada kemungkinan aku memenuhi hak menyusuinya lebih lama? Kembali aku membaca artikel-artikel tentang menyusui saat hamil dan berdiskusi dengan teman-temanku yang juga penggiat ASI.

Setelah semua informasi yang kuterima, aku mulai berpikir. Pertama, aku pernah keguguran, namun berikutnya aku mampu hamil lagi hingga melahirkan. Artinya, rahimku bisa lebih kuat dari sebelumnya. Kedua, aku baru mengetahui kehamilanku setelah berusia 2 bulan. Dan selama 2 bulan itu aku tidak merasakan keanehan atau gangguan yang berarti. Aku tidak mengalami kontraksi atau flek walaupun menyusui. Artinya, kehamilan kali ini pun masih bisa selamat kan walau sambil menyusui?

Maka kubulatkan tekad untuk menjemput anakku di hari ke-5. Aku akan tetap menyusuinya selama tidak ada komplikasi. Aku jelaskan maksudku pada Bunda. Rupanya beliau pun sudah lelah membujukku dan anakku. Sambil mewanti-wanti bahwa aku tetap harus bersiap untuk menyapih sambil memasang plester luka di putingku, akhirnya kami pun diijinkan bertemu.

Pertama kali melihatku, dia tampak sangat ragu. Dia hanya memandangku, tak berani mendekatiku. Ku panggil namanya dan kubentangkan lenganku. Dia pun menghambur ke dalam pelukanku. Walau hanya 5 hari, rasanya seperti telah berpisah sekian tahun. Tidak, tidak lagi. Tidak ingin kuulangi menyapihnya dengan  paksa. Aku hanya akan melakukannya dengan cinta.

Segera anakku merangsek meminta ASI. Melihat plester luka, dia seakan tak peduli dengan kata-kata neneknya bahwa aku sedang terluka. Dilepasnya begitu saja plester itu, dan diminum ASI-nya dengan semangat.

Menyusui saat hamil? Dalam rangka Pekan ASI Dunia ini saya kabarkan jawaban saya saat itu: Ya, saya yakin!

Advertisements

2 thoughts on “Menyusui Saat Hamil? Yakin?

  1. luar biasa mba… berada dalam posisi yang sulit membuat beragam pilihan harus dicoba ya mba… namun terpisah dari buah hati….? pasti sedih banget ya mba… termimakasih berbagi tentang ASi dan segala ceritanya mba..

    Like

    1. sama2. sediiihh… banget itu. jadinya setiap anak diem, tantrum, cemburu atau melakukan perbuatan negatif, selalu merasa itu karena sempat dipisah paksa. padahal sebenarnya bisa jadi itu dialami oleh kebanyakan anak ya. tapi move on dari menyalahkan diri sendiri itu butuh tahunan 😛

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s