Capturing Moments In A Hand

Asus Zenfone Laser giveaway

Sejak kecil, aku sangat tertarik dengan fotografi. Sepertinya aku mulai menyadari ada aktivitas yang disebut ‘memotret’ itu saat usia TK, ketika aku diajak Ayah dan Bunda ikut rombongan wisata ke Jogja. Di sana aku sering diarahkan untuk berdiri dan berpose bersama keluarga dan teman-teman. Alih-alih daripada berpose, aku lebih penasaran dengan kegiatan memotretnya.

Sejak itu, aku suka mencuri-curi berlagak mengoperasikan kamera orangtuaku. Dan beruntungnya aku ketika akhirnya orangtuaku membiarkan aku menggunakannya karena… sudah rusak! Hahaha…

Setiap hari aku berkeliling rumah dan membidik obyek-obyek yang menarik bagiku. Orang, perabotan, tanaman, kupu-kupu, batu, rumah tetangga… apa pun. Aku mengintipnya lewat celah kecil berlapis kaca berbentuk persegi panjang, mengurung pandanganku untuk fokus padanya, menata komposisi benda-benda di sekitarnya agar tampak seimbang besar dan susunan warnanya dalam bingkai, berusaha tenang agar kamera tak bergoyang sedikit pun, lalu cekrek! Dan buru-buru aku mengambil secarik kertas diantara tumpukan kertas berukuran klise foto yang sudah kusiapkan dan kugunting sendiri. (Ah, baiklah. Sekarang Anda tahu dari era berapa saya terlahir). Kemudian kutuangkan bingkai pandanganku tadi ke dalam kertas mungil itu dengan menggunakan spidol atau pensil warna yang kupunya. Ya, aku menggambar apa yang kulihat, dan tara…!  Jadilah foto hasil jepretanku! Hahaha…

Menggambar klise foto. Diperankan anak-anak hehehe...
Menggambar klise foto.
Diperankan anak-anak hehehe…

Selain itu, aku suka sekali  menggambari halaman-halaman dalam  majalah wanita milik Bundaku dengan bentuk segiempat berukuran foto 3R. Maksudnya sih, meng-capture obyek di sana agar terlihat lebih fokus dan pikiran pun menerawang membayangkan seandainya capture itu dicetak di atas kertas foto berukuran 3R hasilnya bagaimana.

Aku heran, mengapa Bunda tak pernah memarahiku karena mencoreti majalahnya ya? Apakah Bunda tidak pernah lagi membaca majalahnya? Padahal kulihat Bunda rajin memberesi tumpukan majalahnya yang baru kuacak-acak untuk dicoreti. Mestinya, Beliau melihat hasil kerjaku. Karena capture itu juga aku terapkan pada halaman sampul. Sehingga yang berpose seluruh badan akan terkotak separuh badan ke atas hingga kepalanya, yang berpose setengah badan jadi tampak close up, dan yang berpose close up kadang hanya terbingkai sebagian mata dan hidungnya hihihi… Menarik!

Contoh caraku meng-capture gambar dengan menggarisinya menggunakan pulpen

Di usia SD, aku girang sekali jika menemukan artikel atau buku tentang fotografi, yang mana sepertinya masih jarang pada saat itu. Dan itu berlanjut terus pada tahun-tahun selanjutnya. Aku antusias menghadiri pameran foto atau melihat pengumuman pemenang lomba fotografi di majalah, studio foto atau kantor pos. Walau aku menyadari tidak bisa melanjutkan minatku ini ke tahap praktik karena harga peralatan fotografi yang begitu tinggi bagi keluarga kami.

Tahun berganti tahun, hingga akhirnya aku menikah. Dan hari itu, tak terbayang senangnya hatiku saat suami memutuskan  membeli kamera saku digital untukku. Sejak itu petualangan jepret-jepret yang sesungguhnya dimulai. Benar-benar jepret dan terekam hasilnya, tidak perlu digambar dulu. Hahaha…

Kemudian kamera pun rusak karena terkena air bekal minum yang disimpan bersama dalam tas. Walau kamera telah berlindung dalam dompet pengamannya,  namun karena terlalu lama akhirnya merembes juga.

Bersama dengan patah hatinya suami karena aku merusakkan kamera, teknologi kamera ponsel pun mulai melaju. Walau Beliau sudah enggan membeli kamera saku lagi, namun teknologi touchscreen dan android pada ponsel sangat menarik baginya. Maka dibelilah sebuah smartphone generasi pertama. Aku pun masih bisa menumpang menyalurkan hobi memotret karena terdapat kamera  di dalam ponselnya.

Tahun berganti tahun, entah karena umurnya yang sudah memasuki tahun keenam atau karena memang teknologinya yang tidak secanggih kamera ponsel jaman sekarang, aku sering terganggu dengan garis-garis merah yang muncul di layar kamera jika cahaya tidak ideal, hasil yang tidak setajam kamera yang lebih canggih, pencahayaan yang aneh jika menggunakan blitz di tempat gelap dan sedikit guncangan sudah berhasil membuat gambar jadi kabur. Mana ukurannya besar dan setebal talenan, cukup menyusahkan ibu penggendong bayi yang ingin multitasking ini hehehe…

Melihat video tentang produk Zenfone 2 Laser ZE550KL ini aku jadi tertarik dengan produknya.

Browsinglah aku ke situs resminya Asus untuk memperoleh keterangan yang lebih dalam. Dan ternyata, wow! Inilah kamera ponsel impianku. Bentuknya ramping dan nyaman digenggam, bahkan bisa digunakan cukup dengan satu tangan kanan maupun kiri.

Mampu mengambil foto indah dengan resolusi tinggi tanpa shutter-lag. Fitur otofokus laser baru mampu mengurangi gambar buram dan memperbaiki stabilisasi gambar dan Mode Low Light terbaik di industri menggunakan teknologi penggabungan piksel untuk mengambil foto yang 400% lebih terang saat malam hari atau tempat kurang cahaya, tanpa bantuan flash.

Kamera belakang ZenFone 2 Laser (ZE550KL) memiiki teknologi otofokus laser untuk gambar yang lebih jernih. Laser di ZenFone 2 Laser mampu mengukur jarak dalam kecepatan cahaya – dan menerjemahkan fokus hanya dalam waktu 0.03 detik, terutama di kondisi minim cahaya. Otofokus laser juga bisa mempercepepat proses foto close up, dan dibantu pergerakan lensa saat memotret obyek yang lebih jauh.

Ahay! Jawaban untuk hasil buram, penggunaan blitz dan guncangan yang selama ini aku alami kan?

Mode PixelMaster backlight (Super HDR) secara otomatis mengambil banyak gambar dan memprosesnya menggunakan teknologi ASUS Pixel Enhancing. Ini membuat rentang dinamis meluas sampai 4 kali untuk menghasilkan gambar akhir yang 400% lebih terang, ditambah warna dan detil yang lebih baik, untuk memastikan foto yang Anda ambil dengan cahaya latar yang kuat tetap terlihat alami.

Melalui kombinasi dari teknologi pixel-merging yang menggabungkan 4 piksel terdekat untuk membentuk piksel baru dan algoritma pemroses gambar canggih, mode Low Light meningkatkan sensitifitas cahaya sampai 400%. Fitur ini juga menyempurnakan peredam gangguan gambar dan meningkatkan kontras warna 400%, untuk foto minim cahaya yang jelas dan terang tanpa bantuan flash.

Jadi, tak ada garis-garis merah lagi nih? Wah, mau dong… Ditambah dengan fitur lain berupa efektivitas baterai yang disinkronkan dengan kemampuan download hingga 150 Mbps, membuat saya bisa tetap asyik lebih lama saat memindah koleksi foto saya dari ponsel ke media sosial atau blog ya.

Gorilla Glass 4 menawarkan dua kali (2X) daya tahan kerusakan akibat jatuh dari pendahulunya, 2,5 kali peningkatan kekuatan dan 85% lebih tahan banting di penggunaan sehari-hari – membuatnya lebih aman dan kuat.

Cocok sekali ini untuk ibu dengan 5 anak yang superaktif dan kadang belum bisa menakar kekuatan dalam menggunakan barang.

Teknologi pengeras suaranya disebutkan mampu menyampaikan suara yang emosional dan kuat dalam setiap skenario dan pada tingkat kualitas tertinggi. Wah, cocok sekali ini dengan hobi anak-anak yang suka membuat video amatiran tentang dirinya dan kegiatannya sehari-hari. Terbayang riuh-rendahnya suasana di rumah ini tersimpan dengan jernih dalam memori ponsel. What a lovely treasure to be saved!

Bebas, terkoneksi dan ekspresif adalah dasar dari antar muka ASUS ZenUI. Antarmuka baru ini memiliki desain visual istimewa ditambah fitur baru yang beragam, termasuk ZenMotion, SnapView, Trend Micro™ Security dan ZenUI Instant Updates — untuk menyempurnakan penggunaan, memastikan keamanan dan privasi serta menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih baik.

Wow! Paduan dari kenyamanan dan keamanan benar-benar membuat aku langsung jatuh cinta dengan ponsel ini. Melihat hasil jepretan nan bening dari para blogger yang menggunakan kamera ini, sungguh mati aku jadi penasaran. Inikah saatnya khayalan di masa kecilku menjadi nyata? Mengintip dunia dan menyimpan keindahannya agar dapat terus dinikmati dan dihayati. Semoga aku bisa mendapatkannya secara gratis ya dengan mengikuti “Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com. Aamiin…

Advertisements

6 thoughts on “Capturing Moments In A Hand

  1. Dengan kamera ponsel, sekarang mudah untuk ambil gambar kapan saja di mana saja ya, Mbak? hasilnya juga bagus, gak kalah dengan hasil dari kamera digtial 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s